6 Hal yang Dapat Menyebabkan Penyakit Parkinson

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 09/05/2020
Bagikan sekarang

Pernahkah Anda mendengar tentang penyakit Parkinson? Nama penyakit ini berasal dari seorang dokter, James Parkinson. Penyakit ini disebabkan oleh kerusakan sel saraf pada suatu area di otak yang dikenal dengan substantia nigra. Ketika berfungsi normal, saraf-saraf ini akan memproduksi zat kimia penting yang dikenal sebagai dopamine. Fungsi dari dopamine itu sendiri adalah sebagai zat pembawa pesan yang membiarkan komunikasi antara substantia nigra dan corpus striatum; daerah lainnya pada otak. Komunikasi tersebut berpengaruh pada pergerakan saraf.  Produksi dopamine yang berlebihan dapat menyebabkan tubuh kehilangan kendali atas kemampuan menggerakkan badan.

Apa saja yang dapat menyebabkan Parkinson?

Penyebab munculnya penyakit ini belum diketahui secara pasti, namun beberapa faktor berperan dalam terjadi kerusakan saraf, seperti:

1. Genetik

Beberapa penyakit mungkin bisa disebabkan oleh faktor keturunan, namun belum dipastikan genetik benar berpengaruh terbentuknya Parkinson. Meskipun begitu, peneliti mengidentifikasi adanya mutasi genetik yang dapat menyebabkan Parkinson. Hanya saja, kasus seperti ini masih jarang ditemukan. Variasi gen ketika tumbuh juga dapat meningkatkan risiko Parkinson.

2. Lingkungan

Sama halnya dengan genetik, faktor ini juga jarang ditemukan, namun bisa terjadi. Paparan racun dari lingkungan  dapat meningkatkan risiko Parkinson, menurut beberapa peneliti yang dikutip NHS. Racun yang dapat memicu adalah karbon monoksida dan karbon disulfide. Pertisida dan herbisida, begitu juga dengan polusi industri, ikut berkontribusi dalam terjadinya kondisi Parkinson. Meskipun begitu, belum ada bukti yang meyakinkan tentang seberapa besar lingkungan dapat menyebabkan keadaan Parkinson.

Polusi dapat memicu oksidasi; yaitu saat radikal bebas menggantikan elektron yang hilang. Oksidasi juga diduga dapat merusak jaringan termasuk neuron. Radikal bebas normalnya dapat terbentuk di otak dan tubuh, namun mekanisme otak dan tubuh dapat menghilangkannya. Pada penderita Parkinson, mekanisme tersebut tidak seefektif biasanya, bahkan mungkin mereka terlalu banyak memproduksi radikal bebas.

3. Usia

Orang dewasa muda jarang mengalami penyakit ini. Umumnya, penyakit ini menyerang usia lanjut atau pertengahan. Usia sekitar 60 tahun rentan terhadap penyakit ini. Faktor umur memang meningkatkan risiko terkena Parkinson.

4. Jenis kelamin

Laki-laki lebih rentan terkena Parkinson dibandingkan perempuan, namun belum ada penjelasan pasti tentang ini.

Selain itu, peneliti juga memperhatikan adanya beberapa perubahan pada otak penderita Parkinson, tetapi belum bisa dijelaskan mengapa bisa terjadi perubahan tersebut.

5. Adanya kehadiran Lewy body

Lewy body adalah jumlah yang tidak normal dari protein yang terbentuk di dalam sel saraf. Berdasarkan para peneliti yang dikutip oleh Mayo Clinic, mereka percaya bahwa Lewy body memegang peran penting sebagai penyebab Parkinson.

6. Alpha-synuclein ditemukan di dalam Lewy body

Alpha-synuclein merupakan protein yang terdapat di otak. Meskipun banyak zat yang ditemukan di dalam Lewy body, tetapi yang paling penting adalah alpha-synuclein. Hal ini merupakan fokus penting Parkinson. Ditemukan juga bahwa bentuk gumplan Lewy body tidak dapat dihancurkan.

Apa saja gejala dari Parkinson?

Gejala yang ditunjukkan setiap orang berbeda-beda. Tanda pada awal-awal mungkin tidak akan terlihat. Gejala biasanya dimulai ketika salah satu bagian tubuh mulai memburuk. Berikut ini gejalanya:

  • Tremor. Gemetar diawali pada bagian kaki atau tangan, bahkan jari. Salah satu karakteristik dari Parkinson adalah adanya gerakan tak terkendali pada tangan ketika dalam keadaan rileks.
  • Pergerakan yang melambat. Seiring berjalannya waktu, kemampuan Anda bergerak akan menurun. Anda pun akan lamban dalam bergerak. Langkah Anda ketika berjalan akan menjadi lebih pendek. Bahkan Anda akan kesulitan berdiri dari kursi. Lambat laun, penderita akan menyeret kakinya ketika mencoba melangkah.
  • Otot menjadi kaku. Kekakuan ini dapat terjadi di bagian tubuh mana pun. Otot-otot yang mulai kaku ini akan membatasi pergerakan Anda dan juga dapat menyebabkan rasa sakit.
  • Gangguan postur dan keseimbangan. Tubuh Anda akan mengalami perubahan postur, menjadi bungkuk, dan hilangnya keseimbangan.
  • Gangguan gerakan ‘otomatis’. Anda mungkin akan mengalami penurunan kemampuan untuk menggerakkan tubuh yang seharusnya terjadi otomatis tanpa berpikir dulu, seperti berkedip, tersenyum, atau mengayunkan lengan ketika berjalan.
  • Adanya perubahan cara bicara. Anda mungkin akan merasa berbicara lembut, cepat, dan ragu-ragu sebelum berbicara. Atau nada bicara Anda akan terdengar monoton.
  • Penurunan kemampuan menulis. Anda akan menemukan kesulitan ketika menulis dan tulisan Anda pun akan berubah atau menjadi kecil.

Anda perlu menemui dokter ketika menemukan gejala yang berkaitan dengan Parkinson.

BACA JUGA:

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bolehkah Kita Donor Darah Saat Puasa? Apa Saja Risikonya?

Donor darah sebaiknya dilakukan teratur. Tapi bagaimana jika jadwal donor darah Anda selanjutnya jatuh di bulan Ramadan? Bolehkah donor darah saat puasa?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Ajeng Quamila
Hari Raya, Ramadan Mei 2, 2020

4 Penyebab Sakit Kepala Saat Puasa dan Cara Mengatasinya

Sakit kepala saat puasa tentu sangat mengganggu. Nah, kira-kira apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya? Ini dia jawabannya!

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Irene Anindyaputri
Hari Raya, Ramadan April 27, 2020

7 Cara Cepat Menghilangkan Bau Mulut Saat Puasa

Bau mulut adalah masalah yang umum terjadi selama puasa. Tenang saja, Anda bisa menghilangkan bau mulut saat puasa dengan cara alami berikut ini.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Atifa Adlina
Hari Raya, Ramadan April 24, 2020

Menyiasati Jadwal Minum Obat saat Puasa Ramadan

Puasa di bulan Ramadan wajib bagi umat muslim. Keharusan minum obat secara rutin bisa disiasati agar tetap bisa menjalankan puasa dengan tenang.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Hari Raya, Ramadan April 19, 2020

Direkomendasikan untuk Anda

terapi musik untuk pasien parkinson

Manfaat Terapi Musik untuk Pasien Penyakit Parkinson

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Winona Katyusha
Tanggal tayang Mei 23, 2020
sakit perut setelah buka puasa

Kenapa Saya Sakit Perut Setelah Buka Puasa?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Adelia Marista Safitri
Tanggal tayang Mei 7, 2020
maag saat puasa obat Omeprazole

4 Tips Mencegah Maag Kambuh Saat Puasa

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Novita Joseph
Tanggal tayang Mei 7, 2020
tekanan darah tinggi saat puasa

5 Tips Lancar Puasa Bagi Anda yang Punya Tekanan Darah Tinggi

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Adelia Marista Safitri
Tanggal tayang Mei 4, 2020