Berbagai Hal yang Dapat Menyebabkan Penyakit Parkinson

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13 November 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Pernahkah Anda mendengar tentang penyakit Parkinson? Penyakit ini dapat menyebabkan hilangnya kontrol fungsi gerak pada tubuh seseorang. Dengan demikian, penderitanya akan kesulitan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari yang sederhana, seperti berjalan, menulis, atau bahkan mengancingkan baju. Namun, tahukah Anda apa penyebab dari penyakit Parkinson? Berikut ulasan lengkapnya untuk Anda.

Bagaimana penyakit Parkinson terjadi?

Penyakit Parkinson terjadi karena hilang, mati, atau terganggunya sel saraf (neuron) di bagian otak yang bernama substansia nigra. Sel saraf di bagian ini berfungsi untuk memproduksi zat kimia otak yang disebut dengan dopamin. Adapun dopamin itu sendiri berperan sebagai pembawa pesan dari otak ke sistem saraf yang membantu mengontrol dan mengoordinasikan gerak tubuh.

Jika sel saraf ini mati, hilang, atau rusak, jumlah dopamin di otak menjadi berkurang. Kondisi ini menyebabkan otak tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya dalam mengontrol gerakan. Akibatnya, gerakan tubuh seseorang menjadi lambat atau timbul perubahan-perubahan gerak lain yang tidak normal.

Hilangnya sel saraf ini merupakan proses yang lambat. Oleh karena itu, gejala parkinson pun mungkin muncul secara bertahap dan memburuk seiring waktu. Bahkan NHS menyebut, gejala ini juga baru mulai timbul dan berkembang ketika sel saraf di substansia nigra telah hilang sebanyak 80 persen.

Apa penyebab terjadinya penyakit Parkinson?

tetani adalah

Hingga saat ini, penyebab hilangnya sel saraf di substansia nigra pada penderita penyakit Parkinson belum diketahui pasti. Namun, para ilmuwan meyakini, kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan berperan dalam menyebabkan kondisi tersebut. Berikut adalah informasi lengkap mengenai penyebab dari penyakit Parkinson tersebut:

  • Genetik

Beberapa penyakit mungkin bisa disebabkan oleh faktor keturunan, tetapi hal ini tidak berpengaruh sepenuhnya pada penyakit Parkinson. Pasalnya, Parkinson’s Foundation menyebut, faktor genetik hanya berpengaruh pada sekitar 10-15 persen dari semua penderita Parkinson.

Efek genetik paling umum yang memicu penyakit Parkinson adalah mutasi pada gen yang disebut LRRK2. Meski demikian, kasus mutasi gen ini masih jarang ditemukan, dan biasanya terjadi pada keluarga keturunan Afrika Utara dan Yahudi. Seseorang yang memiliki mutasi gen ini pun mungkin berisiko terkena Parkinson pada masa mendatang, tetapi mereka juga mungkin tidak akan pernah mengembangkan penyakit ini.

  • Lingkungan

Sama halnya dengan genetik, faktor lingkungan juga tidak sepenuhnya dapat menjadi penyebab penyakit Parkinson. Bahkan, NHS menyebut, bukti yang menghubungkan antara faktor lingkungan dengan penyakit Parkinson tidak meyakinkan.

Faktor-faktor lingkungan, seperti paparan racun (pestisida, herbisida, dan polusi udara) dan logam berat serta cedera kepala berulang, disebut dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami Parkinson. Meski demikian, risiko ini relatif kecil. Faktor lingkungan mungkin memengaruhi perkembangan penyakit Parkinson, terutama pada orang yang juga memiliki kerentanan genetik.

Selain penyebab di atas, kondisi dan perubahan lain di otak juga terjadi pada penderita Parkinson. Kondisi ini diyakini memegang petunjuk penting sebagai penyebab sakit Parkinson, yaitu adanya Lewy bodies atau gumpalan zat tertentu, termasuk protein alpha-synuclein, yang tidak biasa di dalam sel saraf otak.

Apa saja faktor yang meningkatkan risiko terjadinya penyakit Parkinson?

gangguan kesehatan mental

Beberapa faktor, termasuk lingkungan, disebut dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit Parkinson. Meski tidak sepenuhnya dapat menjadi penyebab, faktor-faktor ini perlu Anda perhatikan untuk dapat mencegah penyakit Parkinson pada masa mendatang. Berikut adalah faktor-faktor risiko penyakit Parkinson yang mungkin perlu Anda waspadai:

  • Usia

Penyakit Parkinson adalah kelainan yang umum terjadi pada orang lanjut usia (lansia) atau yang berusia di atas 50 tahun. Adapun orang yang lebih muda jarang mengalami Parkinson, meski penyakit ini bisa terdiagnosis pada usia di bawah tersebut. Oleh karena itu, risiko penyakit Parkinson meningkat seiring bertambahnya usia.

  • Jenis kelamin

Pria lebih rentan terkena Parkinson dibandingkan wanita, meski belum ada penjelasan pasti tentang ini. National Institute on Aging menyebut, penyakit ini memengaruhi 50 persen pria lebih banyak dibandingkan wanita.

  • Keturunan

Parkinson memang bukanlah penyakit yang dapat diturunkan. Namun, Anda lebih berisiko mengalami penyakit ini bila memiliki anggota keluarga dengan riwayat Parkinson. Meski risikonya sangat kecil, hal ini bisa terjadi karena faktor genetik yang mungkin menjadi penyebab dari penyakit Parkinson.

  • Paparan racun

Paparan racun, seperti pestisida, herbisida, dan zat berbahaya dalam polusi udara, disebut dapat meningkatkan risiko terkena penyakit Parkinson. Pestisida dan herbisida yang sering digunakan dalam perkebunan disebut dapat menyebabkan stres oksidatif dan kerusakan sel pada tubuh, yang erat kaitannya dengan penyakit Parkinson.

Beberapa penelitian juga telah menemukan, berbagai jenis polutan udara, termasuk ozon, nitrogen dioksida, serta logam tembaga di udara (merkuri dan mangan) juga dapat meningkatkan risiko penyakit Parkinson, meski relatif kecil.

Selain zat-zat berbahaya tersebut, zat kimia yang sering digunakan sebagai pelarut di banyak industri, yaitu Trichloroethylene (TCE) dan Polychlorinated Biphenyls (PCB), juga dikaitkan dengan risiko Parkinson, terutama pada paparan jangka panjang.

  • Paparan logam

Paparan berbagai logam dari pekerjaan tertentu diduga terkait dengan pengembangan penyakit Parkinson. Namun, paparan jangka panjang terhadap logam tidak mudah diukur dan hasil penelitian yang mengukur kaitan antara risiko Parkinson dan logam tertentu juga tidak konsisten.

  • Cedera kepala

menghindari cedera kepala

Cedera otak traumatis juga disebut sebagai salah satu faktor risiko yang dapat menjadi penyebab penyakit Parkinson. Meski demikian, pengembangan penyakit tersebut umumnya baru dirasakan beberapa tahun setelah cedera terjadi. Adapun mekanisme yang mendasari hal tersebut masih belum jelas.

  • Pekerjaan tertentu

Pekerjaan tertentu memang dikaitkan dengan risiko penyakit Parkinson. Ini mungkin erat kaitannya dengan pekerjaan yang berisiko mengalami paparan racun, zat kimia, atau logam tertentu, seperti bertani atau pekerja industri.

  • Area tempat tinggal

Area tempat tinggal tertentu juga bisa meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit Parkinson. Hal ini terkait dengan perbedaan faktor lingkungan dan risiko genetik. Beberapa penelitian menyimpulkan, seseorang yang tinggal di daerah pedesaan memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit Parkinson karena faktor risiko paparan racun dari area pertanian.

Meski demikian, perlu diperhatikan pula, seseorang yang tinggal di perkotaan juga berisiko terkena paparan polusi udara, yang juga kerap dikaitkan dengan risiko penyakit Parkinson.

  • Susu rendah lemak

Menurut studi yang diterbitkan dalam Medical Journal of the American Academy of Neurology, orang-orang yang mengonsumsi setidaknya tiga porsi susu rendah lemak setiap hari memiliki risiko 34 persen lebih besar  terkena penyakit Parkinson dibandingkan dengan orang yang rata-rata hanya mengonsumsi satu porsi susu rendah lemak setiap harinya.

Berdasarkan penemuan ini, peneliti menyimpulkan bahwa asupan produk olahan susu rendah lemak mungkin berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit Parkinson. Namun, penelitian ini murni observasional, sehingga tidak dapat menjelaskan sebab dan akibat dari dugaan ini. Perlu penelitian lanjutan mendalam untuk memastikan apakah susu rendah lemak bisa menjadi penyebab Parkinson.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Kadar Hb Terlalu Tinggi, Apakah Berbahaya dan Perlu Diturunkan?

    Mudah merasa lelah dan pusing? Bisa jadi gejala kadar hemoglobin atau Hb tinggi. Apa risikonya bagi tubuh? Cari tahu info lengkapnya di sini.

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Fajarina Nurin
    Anemia, Penyakit Kelainan Darah 22 November 2020 . Waktu baca 7 menit

    8 Hal yang Membuat Anda Sering Terbangun Tengah Malam

    Terkadang kita terbangun di tengah malam meski tak ada bunyi alarm atau hal lainnya. Kondisi itu ternyata dipengaruhi kesehatan fisik atau mental. Apa saja?

    Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
    Hidup Sehat, Tips Sehat 19 November 2020 . Waktu baca 4 menit

    Mengatasi Bau Badan yang Muncul Tiba-Tiba

    Sudah mandi tapi bau badan tetap mendadak muncul? Mungkin penyebabnya adalah bahan makanan yang Anda santap saat makan siang.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Monika Nanda
    Hidup Sehat, Tips Sehat 19 November 2020 . Waktu baca 4 menit

    Ciri-ciri Hormon Estrogen Terlalu Rendah Pada Wanita

    Hormon estrogen berfungsi mengatur tumbuh kembang remaja perempuan selama puber dan selama kehamilan. Apa akibatnya jika perempuan kekurangan hormon ini?

    Ditulis oleh: Priscila Stevanni
    Hidup Sehat, Tips Sehat 19 November 2020 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    gingsul, salah satu jenis maloklusi

    Fakta Seputar Gigi Gingsul yang Harus Anda Tahu

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 6 menit
    manfaat bengkoang

    Tak Hanya Memutihkan Kulit, Ini 6 Manfaat Bengkoang Bagi Kesehatan

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit
    cara mengatasi rambut kering

    Rambut Kering, Bagaimana Cara Ampuh Mengatasinya?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 24 November 2020 . Waktu baca 8 menit
    keramas

    Sudah Benarkah Cara Anda Keramas Selama Ini? Cek di Sini!

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 23 November 2020 . Waktu baca 9 menit