Merasa Terjebak Dalam Hubungan yang Tidak Bahagia? 3 Hal Ini Mungkin Penyebabnya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 25/07/2018 . 3 menit baca
Bagikan sekarang
Artikel ini berisi:

Hubungan asmara, baik pacaran maupun sudah jenjang pernikahan, idealnya dijalani untuk membawa kebahagiaan bagi kedua belah pihak. Namun sayang, tidak sedikit yang malah merasa terjebak. Mereka merasa sudah tidak lagi bahagia tapi tetap terus menjalaninya karena berbagai alasan. Apa yang melatarbelakangi keputusan seseorang untuk bertahan dalam hubungan tidak bahagia?

Berbagai alasan seseorang bertahan dalam hubungan tidak bahagia

Dikutip dari Psychology Today, Darlene Lancer, JD, MFT, seorang terapis pernikahan dan berkeluarga menyebutkan ada tiga penyebab umum yang membuat seseorang bertahan dalam hubungan tidak bahagia, yaitu:

1. Ketakutan yang tidak disadari

takut berhubungan intim

Keinginan untuk terus bertahan dalam hubungan yang tidak bahagia mungkin berasal dari ketakutan dalam diri yang bahkan Anda sendiri tak pernah sadari betul.

Ada banyak hal yang bisa memicu ini, misalnya ketakutan untuk kembali melajang setelah sekian lama nyaman hidup berpasangan atau takut tidak akan menemukan pengganti yang lebih baik dari dirinya. Anda mungkin juga merasa khawatir akan kestabilan masa depan sosial-ekonomi Anda jika tak lagi bersama dirinya, terlebih jika Anda memiliki anak bersamanya.

Yang lain mungkin merasa ragu untuk berpisah karena menunggu realisasi dari janji-janji manis yang dulu pernah dilontarkan pasangan. Atau, Anda memilih bertahan dalam hubungan ini karena merasa bisa mengubah diri sendiri dan si pasangan menjadi lebih baik lagi.

Ketakutan dan insecurity tersebut terus menghantui pikiran sehingga membuat Anda merasa bahwa tidak ada pilihan lain selain bertahan. Inilah yang kemudian mengalahkan ketidakbahagiaan yang sebenarnya Anda rasakan.

2. Menyangkal hati nurani

gejala depresi tersembunyi di balik senyum

Banyak orang yang memilih bertahan dalam hubungan tidak bahagia karena terus-terusan menyangkal hati nuraninya. Mereka memilih untuk menyangkal kenyataan yang sebenarnya sudah terpampang sangat jelas karena memiliki harapan semu bahwa semuanya akan baik-baik saja nantinya.

Ini bisa ditandai dengan memaklumi dan memaafkan perilaku buruk pasangan. Ya. Kebiasaan ini adalah wujud penyangkalan yang sangat umum dilakukan oleh banyak orang. Anda merasa bahwa seiring waktu pasangan bisa dan akan berubah. Anda hanya perlu memaklumi dan menunggunya meski di lubuk hati terdalam Anda sudah merasa sangat tersakiti dengan apa yang diperbuat pasangan karena ia terus mengulanginya.

Sering kali Anda juga mengabaikan rasa sakit hati ini dan berharap bahwa pasangan akan menyadari, menyesali, dan berubah menjadi lebih baik. Padahal faktanya belum tentu.

3. Kurangnya kebebasan diri

depresi karena patah hati

Seseorang yang memiliki kebebasan akan dirinya sendiri memahami betul sampai di mana kapasitas dirinya serta apa yang ia butuhkan secara fisik dan emosional, dan mampu memenuhinya dengan mandiri.

Nah, kurangnya kebebasan diri membuat seseorang terkadang terlalu bergantung pada pasangannya. Hal ini dikarenakan apa-apa yang dilakukan biasanya sudah diatur sedemikian rupa oleh pasangannya. Lama-lama, terbiasa hidup seperti ini akan membuat Anda merasa terjebak dan tidak memiliki kebebasan. Akan tetapi di sisi lain, Anda menginginkan hubungan yang aman tanpa konflik dengan menuruti semua keinginan pasangan yang diperintahkan padanya.

Kurangnya wewenang atas diri sendiri inilah yang terkadang membuat seseorang merasa tidak bahagia menjalani hubungannya. Mereka sebenarnya memiliki ketakutan akan kehilangan jati dirinya. Sayangnya, mereka jauh lebih takut meninggalkan hubungan yang sedang dijalaninya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"

Yang juga perlu Anda baca

Selain Hubungan Seks, Ada Masalah Hubungan Asmara pada Penderita ADHD

Selain kehidupan seks, penderita ADHD juga memiliki sejumlah tantangan dalam menjalani hubungan asmara mereka dan berasal dari gejala yang dialami.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Seks & Asmara 14/06/2020 . 5 menit baca

Selain untuk PDKT, Inilah Alasan Seseorang Menggoda atau Flirting ke Orang Lain

Flirting atau menggoda adalah bagian dari komunikasi, tetapi terkadang menjadi ambigu. Pahami apa saja alasan orang menggoda (flirting) ke orang lain, yuk!

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Seks & Asmara 06/06/2020 . 6 menit baca

4 Cara Mencegah Keluar Air Mani Saat Puasa

Bagi beberapa pria, air mani bisa bocor bahkan saat sedang tidak dirangsang. Ada beberapa cara mudah untuk mencegah air mani keluar saat puasa.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hari Raya, Ramadan 17/05/2020 . 5 menit baca

Mengenal Hubungan Poliamori, Saat Cinta Anda Tak Hanya untuk Satu Orang

Menjadi yang kedua atau diduakan mungkin jadi hal yang tak pernah Anda inginkan. Namun, nyatanya tidak dengan hubungan poliamori. Apa itu poliamori?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rena Widyawinata
Hidup Sehat, Seks & Asmara 13/05/2020 . 4 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

fenomena bucin budak cinta

‘Bucin’ Alias Budak Cinta, Fenomena Ketika Cinta Menjadi Candu

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 24/06/2020 . 7 menit baca
jual mahal berhasil

Tidak Selamanya Gagal, Ini Alasan Mengapa Jual Mahal Kadang Berhasil

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 21/06/2020 . 5 menit baca
good girl syndrome adalah perempuan wanita

Mengenal Good Girl Syndrome, Tuntutan Jadi Orang Baik yang Bikin Tidak Bahagia

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 5 menit baca
sumber stres dalam pernikahan

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . 5 menit baca