4 Kiat Cerdas Menghindari Kekerasan Dalam Pacaran

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 5 Januari 2018 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Tindak kekerasan di antara pasangan sejoli tidak hanya terjadi dalam rumah tangga. Meski pahit untuk didengar, aksi kekerasan dalam pacaran bukan lagi sebuah fenomena baru di negeri ini. Kebanyakan berakar dari rasa cemburu buta dan posesif yang tak berdasar, kemudian melayanglah tamparan dan hujan kata-kata makian. Tidak menutup kemungkinan juga kekerasan dalam pacaran bisa berakhir ke tindak perkosaan.

Meski hubungan pacaran tidak terikat oleh hukum resmi, bukan berarti kita bisa mentolerir tindak kekerasan di dalamnya. Berikut yang bisa Anda lakukan untuk mencegah kekerasan dalam pacaran.

Kunci mencegah kekerasan dalam pacaran ada dalam diri Anda sendiri

1. Ketahui dan sadari kekerasan bisa terjadi selama pacaran

Faktanya, banyak orang yang mengalami tindak kekerasan dalam pacaran, namun tidak semuanya menyadari bahwa ia sebenarnya adalah korban. Ada sejumlah hal yang mendasari hal ini. Kebanyakan orang memilih untuk nrimo saja perlakuan kasar pacarnya karena takut kehilangan, atau merasa yakin bisa mengubah “kebiasaan buruk dan temperamen” si dia menjadi lebih baik lagi.

Banyak juga yang tidak menyadari dirinya menjadi korban hubungan abusive karena pada dasarnya tidak mengetahui bahwa tindak kekerasan bisa terjadi pada saat pacaran. Ada banyak bentuk tindak kekerasan yang mungkin terjadi, mulai dari kekerasan fisik, verbal, emosional, hingga seksual. Kekerasan bisa terjadi pada siapapun, di manapun. Bahkan, kebanyakan kasus kekerasan domestik dilakukan oleh orang-orang terdekat korban.

  • Kekerasan fisik, contohnya menendang, mendorong, menampar, menonjok, menarik paksa, menjambak, memukul, hingga mengancam menggunakan senjata tajam.
  • Kekerasan emosional, contohnya merendahkan harga diri, menggunakan panggilan yang memalukan, merendahkan diri, membentak, mengejek, memanipulasi, mempermalukan Anda di depan umum, mencoreng nama baik, komentar merendahkan, membuat berbagai peraturan yang mengekang dan tak masuk akal, membatasi hubungan Anda dengan orang-orang lain, hingga menunjukkan sikap-sikap posesif.
  • Kekerasan seksual, contohnya memaksa/mengancam berhubungan seks, melakukan pelecehan seksual, memeras untuk mendapatkan foto-foto sensual, menyebarkan foto-foto sensual, dan banyak lainnya.

trauma dan gangguan mental akibat kekerasan seksual

2. Kenali tanda-tanda awal dari kekerasan dalam pacaran

Tak hanya harus tahu bentuk dari kekerasan, Anda juga wajib mengenali berbagai tanda awal dari kekerasan dalam pacaran. Dengan begitu Anda akan lebih waspada. Berikut adalah tanda-tandanya:

  • Pasangan terlihat sangat agresif
  • Pasangan tidak bisa mengontrol emosinya, bahkan ketika menghabiskan waktu bersama Anda
  • Pasangan menunjukkan perubahan mood yang cepat, misalnya sebelumnya ia marah pada Anda kemudian berubah seketika menjadi baik dan super romantis.
  • Cenderung memaksa dan memanipulasi Anda untuk melakukan semua yang ia inginkan.

3. Cari teman bicara yang bisa dipercaya

Jika ada masalah atau hal yang mengganjal, jangan sungkan cari teman bicara. Bila Anda dan pasangan sedang dalam masalah atau bertengkar akibat sesuatu hal, jangan sungkan untuk menceritakannya pada orang yang Anda percaya.

Mendengarkan pendapat dari orang luar akan memberikan pandangan baru terhadap solusi yang Anda cari. Curhat juga membiarkan anda berbagi emosi dan tak memedamnya sendiri. Selain itu, akan ada orang lain yang mengetahui kondisi percintaan Anda saat itu. Maka jika suatu saat terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan, orang tersebut bisa Anda andalkan sebagai pertolongan pertama.

4. Kalau perlu, ajak pasangan ke psikolog

Pada beberapa kasus, kecenderungan kekerasan yang dimiliki bisa diatasi lewat konsultasi konselor profesional. Pasalnya, kecenderungan abisuve si pacar bisa saja berasal dari trauma masa kecil dulu. Jika Anda ingin tetap serius menjalin hubungan asmara dengannya, Anda bisa meminta pasangan untuk pergi ke psikolog untuk memperbaiki perilaku kasarnya.

Tentu hal ini tidak selalu mudah dilakukan. Anda harus tetap berhati-hati ketika mengajak sang pacar. Mungkin, Anda juga bisa meminta tolong keluarga atau teman terdekatnya untuk membujuknya. Namun tentu ini tidak berlaku untuk semua kasus.

Kapan harus keluar dari hubungan berbahaya ini?

Jika Anda mencurigai atau bahkan telah mengalami salah satu atau lebih dari bentuk kekerasan di atas, dan sudah melakukan berbagai cara untuk memintanya berhenti namun tidak membuahkan hasil, sebaiknya segera akhiri hubungan tersebut sebelum terlambat.

Meski ini terdengar seperti hal yang jelas untuk dilakukan, banyak korban tidak menyadari bahwa mereka layak diperlakukan dengan hormat, dan karena itu tidak menuntut haknya.

Juga, pertimbangkan apa yang Anda bersedia lakukan untuk dirinya? Apa yang benar-benar tidak akan Anda akan lakukan? Pastikan Anda menyesuaikan permintaan ini dengan kesejahteraan pribadi dan prinsip Anda.

Jangan setuju untuk melakukan hal-hal sederhana untuk sekadar menjaga perdamaian atau menyelamatkan hubungan yang berisiko. Terutama jika dalam hati Anda sudah tahu itu tidak tepat untuk Anda.

Jika Anda berpikir bahwa Anda atau orang terdekat Anda mungkin menjadi korban dari kekerasan dalam pacaran, hubungi hotline pengaduan Komnas Perempuan di +62-21-3903963; nomor darurat polisi di 110; SIKAP (Solidaritas Aksi Korban Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan) di (021) 319-069-33; LBH APIK di (021) 877-972-89; atau menghubungi Pusat Krisis Terpadu – RSCM di (021) 361-2261.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cari Tahu Gejala, Penyebab dan Pengobatan untuk Sakit Pinggang

Sakit pinggang adalah keluhan yang umum dengan banyak kemungkinan penyebab. Cari tahu gejala, pengobatan, dan cara mengatasi nyeri pinggang di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Muskuloskeletal 27 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Benarkah Makanan Pedas Bisa Mengatasi Sakit Kepala Migrain?

Makanan pedas sering kali diandalkan untuk mengatasi rasa sakit kepala atau migrain. Tapi benarkah makanan itu dapat menyembuhkan sakit kepala Anda?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Nutrisi, Hidup Sehat, Fakta Unik 26 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Warna Dahak Merah, Hijau, Atau Hitam? Cari Tahu Artinya di Sini

Warna dahak yang normal adalah bening. Jika Anda mengeluarkan dahak yang berwarna, maka hal itu adalah tanda dari kondisi medis. Apa arti dari warna dahak?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Batuk, Kesehatan Pernapasan 26 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Pertolongan Pertama untuk Mengobati Sengatan Lebah

Katanya, sengatan lebah bisa bikin seseorang meriang dan panas dingin. Lalu bagaimana cara pertolongan pertama dalam mengobati sengatan lebah?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 23 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

perut kosong hindari makan pedas dan asam

Kenapa Makanan Pedas Tidak Boleh Dimakan Saat Perut Kosong?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 30 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
Konten Bersponsor
keluarga sehat karena melakukan perilaku hidup bersih dan sehat

4 Tips Perilaku Hidup Bersih dan Sehat untuk Lindungi Diri dan Keluarga di Era New Normal

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
proses inflamasi

Proses Inflamasi Ternyata Penting Bagi Tubuh, Begini Mekanismenya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
memanaskan makanan

Bolehkah Memanaskan Makanan Dalam Wadah Plastik di Microwave?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit