Membongkar 4 Mitos Seputar Seks Oral yang Paling Umum

Oleh

Seks adalah sesuatu yang tabu — topik yang membuat banyak orang memilih untuk menolak membuka mulutnya — tidak terkecuali seks oral.

Ada banyak alasan penting untuk mempelajari fakta-fakta di balik seks, terlebih lagi seks oral. Dengan berbagai mitos seputar seks oral (blowjob, cunnilingus, fellatio, atau “sepong” — apapun namanya) yang mondar-mandir di sekitar, wajar banyak orang terperangkap di dalam kegelapan tentang bagaimana seks yang “seharusnya”, sebenarnya justru dapat merusak; tidak hanya tubuh mereka namun juga pasangan mereka.

Membongkar mitos-mitos ini bukan hanya berguna untuk membantu membuat kehidupan seks Anda menjadi lebih menyenangkan, tetapi juga dapat membantu Anda memiliki perspektif yang lebih baik terhadap diri Anda, partner Anda, dan juga seks itu sendiri.

MITOS 1: Oral seks bukan seks yang sebenarnya

FAKTA: Salah.

Hubungan seksual tidak selalu harus melibatkan penetrasi penis ke dalam vagina. Seks adalah kegiatan fisik yang berkaitan dengan dan seringnya termasuk hubungan seksual dan rangsangan seksual. Oral seks adalah bentuk lain dari aktivitas seksual yang melibatkan stimulasi alat kelamin salah satu pihak oleh pasangan seksnya menggunakan mulut atau tenggorokan.

Sama seperti saat oral seks dijadikan bentuk lain dari foreplay, blowjob atau cunnilingus bisa menjadi acara utama dalam satu kesatuan sendiri.

MITOS 2: Seks oral tidak menularkan penyakit kelamin

FAKTA: Salah.

Para ahli kesehatan semakin getol mengutarakan kekhawatiran mengenai orang-orang tidak melindungi dirinya terhadap infeksi menular seksual, karena mereka tidak menyadari bahwa penyakit kelamin dapat menular melalui mulut.

Kesalahpahaman bahwa seks oral adalah aktivitas seksual yang bebas risiko tersebar luas di kalangan dewasa muda, terutama remaja. Studi menunjukkan, mitos “bebas risiko” ini adalah salah satu alasan paling umum yang dilontarkan oleh sebagian besar orang untuk memilih terlibat dalam seks oral daripada hubungan seksual penetrasi penis-vagina (selain menjaga ‘keperawanan’ dan mencegah kehamilan).

Daftar penyakit menular melalui seks oral termasuk, klamidia, sipilis, gonore, herpes simplex, dan HPV. Beberapa jenis tipe HPV oral yang berisiko tinggi telah dikaitkan dengan kanker mulut-tenggorokan (oropharyngeal), yang lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita.

Centers for Disease Control US (CDC) melalui divisi S.T.D Prevention, mencatat bahwa kondisi tertentu dapat memperburuk kemungkinan penularan oral. Ini termasuk gusi berdarah, penyakit gusi atau kesehatan mulut yang buruk, dan sariawan di mulut atau luka pada alat kelamin. Bahkan, cairan pra-ejakulasi dari pasangan seksual yang terinfeksi dapat menularkan penyakit.

Meskipun risiko penularan penyakit-penyakit ini dan infeksi lain, seperti HIV, tergolong lebih rendah untuk seks oral daripada penetrasi dan anal, peneliti enggan untuk membedakan. Menurut mereka, terlepas dari besar kecil peluang, risiko tetaplah risiko. Untuk meminimalisir risiko infeksi, CDC menyarankan strategi pencegahan seperti menggunakan kondom; membatasi jumlah mitra seksual; dan mendapatkan vaksinasi HPV dan hepatitis B jika usia Anda sudah mencukupi.

MITOS 3: Anda tidak bisa hamil lewat seks oral

FAKTA: Benar

Anda tidak bisa hamil lewat seks oral, bahkan jika Anda menelan air mani.

Sama halnya ketika Anda menelan makanan, saat Anda menelan air mani, cairan ini akan melalui mulut menuju perut untuk dicerna dalam sistem pencernaan, sampai sisa-sisa zat yang tidak lagi bisa dimanfaatkan oleh tubuh untuk kemudian dibuang. Sperma pada akhirnya mati setelah dipecah dalam saluran pencernaan. Terlebih lagi, bahkan jika sperma dapat bertahan hidup di usus dan lambung, mulut Anda tidak tersambung secara langsung dengan sistem reproduksi Anda. Oleh karena itu, tidak mungkin untuk seseorang bisa hamil dengan menelan cairan ejakulasi.

Akan tetapi, Anda bisa mendapatkan/menularkan penyakit kelamin menular melalui seks oral. Tidak ada yang bisa mengendalikan dan menghentikan kebocoran air mani bahkan mereka ejakulasi. Mempraktekkan seks aman, seperti menggunakan kondom atau dental dam selama seks oral dapat mengurangi risiko penyebaran penyakit menular seksual. Selain itu, memeriksakan diri dan pasangan ke dokter untuk memastikan status kesehatan Anda berdua terhadap risiko penyakit seks menular sangat dianjurkan.

MITOS 4: Orgasme sulit dicapai melalui seks oral

FAKTA: Benar… dan salah

Seks oral dapat membantu Anda mencapai orgasme.Beberapa wanita (atau pria) yang tidak bisa orgasme dari seks penetrasi menemukan bahwa seks oral adalah jalan sutera menuju kesuksesan. Seks vaginal yang dipadukan dengan oral telah dikaitkan dengan peningkatan signifikan terhadap orgasme, jika dibandingkan dengan melakukan keduanya terpisah.

Namun, seks bukanlah ilmu pasti yang berlaku satu untuk semua. Anda bisa saja mendapatkan orgasme dari seks vaginal namun todak oral, kebalikannya, atau keduanya. Bahkan jika Anda berpendapat seks oral adalah aktivitas seksual yang menggairahkan, namun hal ini mungkin tidak dapat mengantarkan Anda pada orgasme — dan semua ini adalah normal. Jangan merasa ada sesuatu yang salah dengan diri Anda jika seks oral tidak dengan segera memberikan efek orgasme nyata. Jika trik ini tidak kunjung berhasil, mungkin perlu beberapa waktu untuk mengetahui apa yang dapat benar-benar membawa Anda pada kepuasan. Lakukan hanya apa yang Anda rasa baik dan nyaman untuk diri Anda, karena andalah yang paling mengenal tubuh Anda sendiri.

BACA JUGA:

Share now :

Direview tanggal: Agustus 26, 2016 | Terakhir Diedit: September 6, 2017

Sumber
Yang juga perlu Anda baca