Mengatasi Stres, Depresi, dan Kecemasan Dengan Cara Tidur

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 6 September 2017 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Di tengah-tengah padatnya aktivitas harian, banyak orang menyepelekan pentingnya tidur cukup. Jika Anda belum mengantuk atau kelelahan sekali, Anda mungkin akan menunda-nunda terus waktunya tidur. Nah, tanpa disadari kurang tidur bisa mengganggu kesehatan mental Anda. Apalagi kalau Anda sedang stres, cemas, atau dilanda gangguan kejiwaan seperti depresi.

Untuk memahami bagaimana tidur cukup bisa jadi kunci keberhasilan mengelola stres atau gangguan kejiwaan, simak ulasannya berikut ini.

Kenapa manusia harus tidur cukup?

Manusia membutuhkan tidur karena pada saat itulah tubuh Anda memperbaiki segala jenis kerusakan, baik dalam hal fisik maupun mental. Anggap saja seolah tubuh Anda adalah mobil yang harus istirahat dan masuk bengkel untuk direparasi. Tanpa perbaikan yang memadai, tentu Anda tak mampu berfungsi normal.

Tidur cukup membantu otak mengelola stres dan gangguan kejiwaan

Saat tidur, manusia akan memasuki lima tahapan penting. Tahap yang pertama adalah kerja otak melambat sehingga tubuh jadi rileks. Pada tahap kedua, Anda biasanya sudah tidak bisa mendengar atau merespon suara di sekitar Anda karena benak Anda sudah “pindah” ke dalam alam bawah sadar.

Nah, di tahap ketiga dan keempat tubuh Anda akan melakukan berbagai jenis perbaikan fisik. Sel darah putih akan bekerja keras untuk memperbaiki kerusakan sel di seluruh bagian tubuh Anda. Kalau Anda tidak berhasil masuk ke tahap ketiga dan keempat ini, Anda pun jadi lebih rentan diserang penyakit.

Kemudian setelah kira-kira 90 menit, Anda akan memasuki tahap kelima yaitu REM (rapid eye movement). Tahap REM atau tidur pulas ini biasanya disertai dengan mimpi, tapi bisa juga tidak. Di tahapan inilah segala masalah kejiwaan Anda “diperbaiki” oleh otak.

Setiap hari, otak kebanjiran beragam informasi dan emosi, apalagi saat dilanda tekanan dari pekerjaan atau keluarga misalnya. Anda mungkin tak sadar kalau sedang stres berat atau dilanda gangguan kecemasan, misalnya karena ribut dengan pasangan.

Saat Anda terlelap dan masuk REM, amarah yang dipendam ini akan disalurkan lewat mimpi. Bila Anda tidak bermimpi apapun, itu berarti otak memindahkan amarah yang tadinya ditahan menuju alam bawah sadar. Maka, Anda tak perlu lagi menahan-nahan lagi emosi negatif terhadap pasangan. Dengan begitu Anda jadi bisa memfokuskan diri pada solusi atau penyelesaian masalah dengan pasangan, bukan pada emosi negatifnya.

Apa yang terjadi kalau sering kurang tidur?

Tahapan tidur yang dijelaskan di atas berlangsung layaknya siklus. Maksudnya setelah REM, Anda masuk lagi ke tahap pertama. Begitu seterusnya sampai Anda bangun. Maka, dalam semalam Anda bisa berkali-kali masuk REM. Bila Anda tidak sempat masuk REM atau hanya sekali saja, otak tidak sempat memproses emosi atau gangguan mental yang Anda hadapi. Akibatnya, otak jadi kewalahan dengan segala beban pikiran serta emosi Anda. Inilah yang bisa memicu berbagai masalah, misalnya sebagai berikut.  

  • Sulit berkonsentrasi
  • Sulit mengingat
  • Sulit mengambil keputusan
  • Sulit mempelajari hal-hal baru

Dengan berbagai masalah yang diakibatkan kurang tidur, otak Anda akan semakin kerepotan untuk menghalau kecemasan, stres, depresi, atau gangguan kejiwaan lainnya. Karena itu, pastikan Anda selalu tidur cukup. Bila Anda mengidap insomnia, segera hubungi dokter. Insomnia bisa jadi salah satu gejala gangguan jiwa seperti bipolar, depresi, dan psikosis.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Proses Inflamasi Ternyata Penting Bagi Tubuh, Begini Mekanismenya

Saat mendengar kata inflamasi, yang terbayang pasti penyakit. Padahal, proses inflamasi justru diperlukan tubuh untuk melawan penyakit. Begini mekanismenya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Hidup Sehat, Fakta Unik 27 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Cari Tahu Gejala, Penyebab dan Pengobatan untuk Sakit Pinggang

Sakit pinggang adalah keluhan yang umum dengan banyak kemungkinan penyebab. Cari tahu gejala, pengobatan, dan cara mengatasi nyeri pinggang di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Muskuloskeletal 27 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Benarkah Makanan Pedas Bisa Mengatasi Sakit Kepala Migrain?

Makanan pedas sering kali diandalkan untuk mengatasi rasa sakit kepala atau migrain. Tapi benarkah makanan itu dapat menyembuhkan sakit kepala Anda?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Nutrisi, Hidup Sehat, Fakta Unik 26 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Warna Dahak Merah, Hijau, Atau Hitam? Cari Tahu Artinya di Sini

Warna dahak yang normal adalah bening. Jika Anda mengeluarkan dahak yang berwarna, maka hal itu adalah tanda dari kondisi medis. Apa arti dari warna dahak?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Batuk, Kesehatan Pernapasan 26 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

perut kosong hindari makan pedas dan asam

Kenapa Makanan Pedas Tidak Boleh Dimakan Saat Perut Kosong?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 30 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
mitos tentang tidur

Mengenal 4 Tahapan Tidur: Dari “Tidur Ayam” Hingga Tidur Pulas

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 29 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
pria sulit menangis

Alasan Psikologis Mengapa Pria Lebih Sulit Menangis Dibanding Wanita

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 29 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
manfaat efek musik pada otak

5 Efek Musik Terhadap Kinerja Otak Manusia

Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 29 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit