Mengatasi Stres, Depresi, dan Kecemasan Dengan Cara Tidur

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Di tengah-tengah padatnya aktivitas harian, banyak orang menyepelekan pentingnya tidur cukup. Jika Anda belum mengantuk atau kelelahan sekali, Anda mungkin akan menunda-nunda terus waktunya tidur. Nah, tanpa disadari kurang tidur bisa mengganggu kesehatan mental Anda. Apalagi kalau Anda sedang stres, cemas, atau dilanda gangguan kejiwaan seperti depresi.

Untuk memahami bagaimana tidur cukup bisa jadi kunci keberhasilan mengelola stres atau gangguan kejiwaan, simak ulasannya berikut ini.

Kenapa manusia harus tidur cukup?

Manusia membutuhkan tidur karena pada saat itulah tubuh Anda memperbaiki segala jenis kerusakan, baik dalam hal fisik maupun mental. Anggap saja seolah tubuh Anda adalah mobil yang harus istirahat dan masuk bengkel untuk direparasi. Tanpa perbaikan yang memadai, tentu Anda tak mampu berfungsi normal.

Tidur cukup membantu otak mengelola stres dan gangguan kejiwaan

Saat tidur, manusia akan memasuki lima tahapan penting. Tahap yang pertama adalah kerja otak melambat sehingga tubuh jadi rileks. Pada tahap kedua, Anda biasanya sudah tidak bisa mendengar atau merespon suara di sekitar Anda karena benak Anda sudah “pindah” ke dalam alam bawah sadar.

Nah, di tahap ketiga dan keempat tubuh Anda akan melakukan berbagai jenis perbaikan fisik. Sel darah putih akan bekerja keras untuk memperbaiki kerusakan sel di seluruh bagian tubuh Anda. Kalau Anda tidak berhasil masuk ke tahap ketiga dan keempat ini, Anda pun jadi lebih rentan diserang penyakit.

Kemudian setelah kira-kira 90 menit, Anda akan memasuki tahap kelima yaitu REM (rapid eye movement). Tahap REM atau tidur pulas ini biasanya disertai dengan mimpi, tapi bisa juga tidak. Di tahapan inilah segala masalah kejiwaan Anda “diperbaiki” oleh otak.

Setiap hari, otak kebanjiran beragam informasi dan emosi, apalagi saat dilanda tekanan dari pekerjaan atau keluarga misalnya. Anda mungkin tak sadar kalau sedang stres berat atau dilanda gangguan kecemasan, misalnya karena ribut dengan pasangan.

Saat Anda terlelap dan masuk REM, amarah yang dipendam ini akan disalurkan lewat mimpi. Bila Anda tidak bermimpi apapun, itu berarti otak memindahkan amarah yang tadinya ditahan menuju alam bawah sadar. Maka, Anda tak perlu lagi menahan-nahan lagi emosi negatif terhadap pasangan. Dengan begitu Anda jadi bisa memfokuskan diri pada solusi atau penyelesaian masalah dengan pasangan, bukan pada emosi negatifnya.

Apa yang terjadi kalau sering kurang tidur?

Tahapan tidur yang dijelaskan di atas berlangsung layaknya siklus. Maksudnya setelah REM, Anda masuk lagi ke tahap pertama. Begitu seterusnya sampai Anda bangun. Maka, dalam semalam Anda bisa berkali-kali masuk REM. Bila Anda tidak sempat masuk REM atau hanya sekali saja, otak tidak sempat memproses emosi atau gangguan mental yang Anda hadapi. Akibatnya, otak jadi kewalahan dengan segala beban pikiran serta emosi Anda. Inilah yang bisa memicu berbagai masalah, misalnya sebagai berikut.  

  • Sulit berkonsentrasi
  • Sulit mengingat
  • Sulit mengambil keputusan
  • Sulit mempelajari hal-hal baru

Dengan berbagai masalah yang diakibatkan kurang tidur, otak Anda akan semakin kerepotan untuk menghalau kecemasan, stres, depresi, atau gangguan kejiwaan lainnya. Karena itu, pastikan Anda selalu tidur cukup. Bila Anda mengidap insomnia, segera hubungi dokter. Insomnia bisa jadi salah satu gejala gangguan jiwa seperti bipolar, depresi, dan psikosis.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca