Menilai Orang Lain dari Cara Berpakaian, Ini Dampak dan Cara Menguranginya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 14 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

First impression alias kesan pertama sering terbentuk berdasarkan penampilan fisik seseorang atau cara mereka mengungkapkan sesuatu. Contohnya, Anda mungkin melihat orang yang memiliki paras seperti bayi memiliki sifat yang polos layaknya anak-anak. Lantas, bagaimana dengan menilai kepribadian orang lain lewat cara berpakaian mereka?

Menilai kepribadian seseorang lewat cara berpakaian

menilai kepribadian cara berpakaian

Pernahkah Anda tanpa sadar menganggap seseorang dengan pakaian bermerek lebih kompeten dibandingan mereka yang hanya mengenakan pakaian kasual? Jika iya, tidak perlu khawatir karena menilai orang lain lewat cara berpakaian adalah hal yang cukup normal. 

Begini, peristiwa ini kerap terjadi terutama di dunia kerja. Bahkan, ketika Anda sudah diberitahu bahwa pakaian tidak berhubungan dengan kemampuan seseorang, tetapi tanpa sadar penilaian ini masih terus dilakukan. 

Menurut penelitian dari Nature Human Behaviour, perilaku menilai orang lain lewat pakaian mereka sudah menjadi naluri alamiah hampir sebagian orang. Di dalam jurnal tersebut disebutkan terdapat sembilan studi yang melibatkan masyarakat awam dan mahasiswa.

Kedua kelompok tersebut diberikan gambar berisi wajah secara acak dan dipasangkan dengan pakaian bagian atas yang terlihat mahal dan murah. Kemudian, para peserta diminta untuk menilai kemampuan wajah yang diberikan. 

Kesembilan penelitian tersebut menunjukkan bahwa wajah orang yang dipasangkan dengan pakaian bermerek dianggap lebih kompeten. Reaksi tersebut muncul meskipun peserta telah diperingatkan untuk tidak menilai kepribadian wajah lewat cara berpakaian mereka.

kesan pertama menilai karakter seseorang

Pada studi pertama, para ahli mencoba memberikan penjelasan yang cukup beragam dan panjang terhadap gambar yang mereka perlihatkan kepada peserta. Hal tersebut bertujuan untuk melihat apakah penjelasan tersebut akan memengaruhi pandangan peserta terhadap orang lain.

Pada empat penelitian berikutnya, peneliti juga meminta peserta untuk tidak terlalu memperhatikan pakaian orang yang ada di gambar. Para peserta diimbau lebih berfokus terhadap wajah orang tersebut dibandingkan hal-hal lainnya. 

Walaupun demikian, data menunjukkan bahwa instruksi tersebut tidak memberikan dampak yang cukup besar terhadap hasil akhir. Pasalnya, delapan studi pertama peserta tetap memasukkan cara berpakaian sebagai faktor penentu penilaian terhadap orang lain sebanyak 83%.

Sementara itu, pada penelitian ke-9 peneliti mencoba metode lain yaitu membuat peserta memilih wajah yang lebih berkompeten tanpa dipasangkan dengan pakaian terlebih dahulu.

Hasilnya pun tidak begitu terlalu berbeda karena sekitar 70% peserta tetap menganggap mereka yang memakai pakaian mahal terlihat lebih mampu. 

Dampak menilai orang lain lewat pakaian mereka

pasangan tidak percaya diri

Pada akhir penelitian tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa kebanyakan peserta sulit mengendalikan naluri alamiah untuk menilai kepribadian lewat cara berpakaian mereka. 

Mereka juga berpendapat bahwa pakaian yang merupakan bagian dari status ekonomi juga memengaruhi penilaian peserta. Efek pakaian terjadi dalam berbagai kondisi yang diberikan oleh peneliti, termasuk ketika mereka memperingatkan peserta untuk tidak terlalu melihat pakaian. 

Maka dari itu, penelitian ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa masyarakat dengan status ekonomi yang lebih rendah cenderung kurang dihormati dan tidak dianggap berkompeten.

Salah satu tantangan yang mungkin mereka hadapi adalah kesan pertama yang cenderung muncul dalam waktu singkat. Akibatnya, menilai kepribadian seseorang lewat cara berpakaian pun tidak dapat dihindari. 

Penghakiman ini memberikan dampak yang cukup serius di kehidupan nyata. Mengutip apa yang dikatakan oleh penulis studi, Eldar Shafir, kemiskinan memilki berbagai tantangan.

Menurut profesor ilmu perilaku dan kebijakan publik tersebut, penampilan fisik, status sosial, dan psikologis yang tidak mendukung dianggap memiliki kemampuan yang lebih rendah. 

Akibatnya, menilai kepribadian dari cara berpakaian seperti ini dapat membuat masyarakat dengan status sosial lebih rendah cenderung kurang dihargai. Akhirnya, menambah nilai pada diri sendiri pun menjadi terhambat karena adanya beban psikologis yang dihasilkan dari apa yang mereka pakai.

Tips mengurangi menilai orang lain lewat pakaian

menghadapi teman kerja toxic

Sadar atau tidak, hampir semua orang pernah menilai kepribadian dan kompetensi orang lain lewat cara berpakaian mereka. Namun, kebiasaan ini tentu memiliki pengaruh yang cukup buruk, terutama ketika orang yang Anda nilai tidak sesuai dengan kenyataan. 

Akibatnya, Anda mungkin merasa malu karena merasa gambaran status sosial lewat pakaian bermerek cukup penting. Namun, tanpa sadar mungkin perilaku ini akan kembali berulang. 

Maka dari itu, Anda bisa mengurangi untuk menilai seseorang lewat pakaian mereka dengan beberapa cara berikut:

  • Tidak menyalahkan diri sendiri
  • Berpikir dahulu sebelum menilai orang lain dan mengucapkannya terang-terangan
  • Melihat hal-hal positif yang dilakukan orang lain
  • Mengingatkan diri sendiri bahwa orang lain adalah manusia biasa, sama seperti Anda
  • Berpikiran lebih terbuka terhadap apa yang orang lain pakai dan pilih
  • Melihat perilaku diri sendiri, apakah sudah pantas menilai orang lain atau belum
  • Mencoba mempercayai orang meskipun ragu (benefit of the doubt)

Perlu diingat bahwa peluang kesalahan akan penilaian terhadap orang lain, terutama lewat penampilan cukup besar. Maka dari itu, cobalah untuk ingat bahwa tidak semua orang berkompeten selalu menggunakan pakaian bermerek atau mahal.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apakah Anda Termasuk Orang Ambivert? Kenali 3 Cirinya

Orang dengan kepribadian ambivert memiliki sifat dan perilaku campuran dari introvert dan ekstrovert. Anda mungkin salah satunya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Psikologi 25 Januari 2019 . Waktu baca 3 menit

Apakah Masalah Psikologis Bisa Sembuh Hanya dengan Terapi Online?

Banyak orang mulai melirik terapi online untuk mengatasi masalah kesehatan mental yang dialami. Dibandingkan terapi tatap muka, seberapa efektif metode ini?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Hidup Sehat, Psikologi 14 Juni 2018 . Waktu baca 4 menit

Sering Melihat Foto Bayi Ternyata Bisa Bikin Wanita “Kebelet” Menikah

Saking banyaknya foto bayi lucu yang beredar di media sosial, kebanyakan wanita menjadi 'ngebet' ingin cepat menikah. Kok bisa, ya? Ini kata para ahli.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Hidup Sehat, Psikologi 5 Maret 2018 . Waktu baca 3 menit

Apakah Orang yang Perfeksionis Pasti Mengidap Gangguan OCD?

Tidak ada yang salah dengan menjadi seorang perfeksionis. Tapi sampai batas mana perfeksionisme bisa berkembang menjadi gejala OCD?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hidup Sehat, Psikologi 18 Oktober 2017 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

dampak psikologis karantina

Gangguan Psikologis Rentan Terjadi Pada Orang yang Dikarantina

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 16 Februari 2020 . Waktu baca 6 menit
menghakimi orang lain

Sering Menghakimi Orang Lain? Berikut Dampak Buruknya Bagi Anda

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 13 November 2019 . Waktu baca 4 menit
kepribadian seseorang menurut zodiak

Adakah Hubungan Antara Zodiak dan Kepribadian Seseorang?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 5 September 2019 . Waktu baca 4 menit
mengubah pola pikir

Bagaimana Media Sosial Bisa Mengubah Pola Pikir Orang?

Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 7 April 2019 . Waktu baca 6 menit