Pedofilia dan Kekerasan Seksual pada Anak, Apa Bedanya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 30/05/2020 . 4 menit baca
Bagikan sekarang

Berita soal pedofilia selalu diwarnai dengan tindakan kekerasan seksual pada anak. Sebetulnya tidak semua pelaku pedofilia melakukan tindakan kekerasan seksual fisik pada anak dan itu beda. Tindakan tersebut bisa muncul saat fantasi semakin kuat dan menimbulkan tindakan kriminal.

Kasus pedofilia dan tindakan kekerasan seksual pada bocah

kekerasan seksual pada anak, pedofilia

Kasus kekerasan seksual pada anak terus terjadi. Belum lama, Bareskrim mengungkap kasus penculikan anak yang dilakukan oleh pria 48 tahun berinisial JP.

Salah satu korbannya adalah bocah berusia 12 tahun yang telah diculiknya sejak berusia 8 tahun. Selama 4 tahun diculik, korban dipaksa mengemis dan menerima kekerasan seksual dari pelaku.

“Motif dari kejahatan adalah menggunakan anak untuk dieksploitasi secara ekonomi dengan diajak mengemis dan mengamen serta dieksploitasi secara seksual,” ucap Kombes Ahmad Ramadhan, Kabag. Penum Divisi Humas Polri.

Ahmad mengungkapkan bahwa pelaku adalah seorang pedofil (seseorang yang memiliki perilaku pedofilia).

Kasus kekerasan seksual pada anak sering melibatkan kata pedofilia atau pedofil. Walau sebetulnya tidak semua kejahatan seksual pada anak dilakukan karena pelaku memiliki gangguan pedofilia dan dua hal tersebut itu beda.

Penting untuk mengetahui faktor utama seseorang melakukan tindak kekerasan seksual pada anak untuk menentukan tindakan penanganan yang tepat. 

Asosiasi Psikiater Amerika (APA) mengatakan, istilah pedofilia yang seringkali salah didefinisikan sebagai tindak kekerasan seksual pada anak. Ini adalah topik yang sering diperdebatkan.

Beda pedofilia dan kekerasan seksual pada anak

apa itu pedofilia

Dalam buku manual diagnosis kesehatan mental, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, pedofilia digolongkan ke dalam kategori parafilia. Kategori tersebut adalah gangguan mental yang melibatkan ketertarikan seksual terhadap objek atau aktivitas seksual yang tidak umum.

Orang yang mengidap pedofilia memiliki perilaku atau fantasi seksual kuat serta berulang pada anak-anak, umumnya anak usia 13 tahun ke bawah.

Pedofilia adalah penyakit dan bukan sebuah tindak kejahatan. Pedofilia dan kekerasan seksual pada bocah adalah dua hal yang beda.

Kekerasan seksual yang dilakukan orang dewasa pada anak-anak adalah kejahatan dan kecacatan moral serius. Tidak semua pelaku kejahatan seksual pada anak mengidap pedofilia, kejahatan tersebut bisa jadi karena banyak faktor lain.

Faktor tersebut antara lain adalah pengaruh narkotika, minuman keras, atau termotivasi dengan keinginan untuk menguasai atau mengontrol orang lain.

Gangguan pedofilia bisa mendorong pengidapnya melakukan kekerasan seksual pada anak jika ia tidak bisa mengendalikan fantasinya. Walau begitu, tidak berarti semua orang dengan pedofilia mewujudkan fantasinya pada anak-anak.

kekerasan diturunkan

James Cantor psikolog klinis di Pusat Seksualitas Toronto, Kanada mengatakan bahwa penting untuk mengetahui beda kedua istilah ini dan tidak mendefinisikan pedofilia sebagai tindakan kekerasan seksual pada anak. 

Menurutnya, pelabelan ini tidak adil bagi orang dengan pedofilia yang tidak pernah melakukan kejahatan. Kelompok orang dengan pedofilia yang menekan fantasinya dan tidak pernah melakukan kejahatan itu memang ada. 

“Itu kelompok yang perlu kita pelajari. Orang yang kita inginkan menjadi klien, seseorang yang sadar akan desakan fantasinya dan mau belajar untuk mengelolanya,” kata Cantor.

Mendefinisikan pedofilia sebagai tindakan kejahatan seksual pada anak bisa membuat orang dengan perilaku pedofilia tidak mau mencari pertolongan profesional.

Menurut Cantor, mereka takut mendapat stigma buruk dari masyarakat, kehilangan pekerjaan, kehilangan keluarga, dan takut dilaporkan. 

Padahal dengan bantuan profesional, orang dengan pedofilia bisa ditolong untuk keluar atau menekan fantasinya serta mencari objek yang lebih sehat. Dengan tertanganinya pasien pedofilia, kemungkinan berkurangnya kasus kejahatan seksual pada anak yang dilakukan oleh mereka akan semakin berkurang.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

Bagi orang yang memendam trauma psikologis yang serius, dampaknya begitu terasa dalam hidup sehari-hari. Untungnya, metode hipnoterapi bisa membantu Anda.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . 5 menit baca

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . 5 menit baca

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . 5 menit baca

Khasiat Minyak Esensial untuk Meredakan Stres

Pertolongan pertama saat stres: gunakan minyak esensial untuk meredakan stres. Apa saja jenis minyak esensial dan bagaimana cara menggunakannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 05/06/2020 . 6 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

PTSD pandemi COVID-19

Bagaimana Pandemi Membuat Seseorang Berisiko Mengalami PTSD?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . 4 menit baca
Berpikir negatif demensia

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 4 menit baca
psikoterapi

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 5 menit baca
sumber stres dalam pernikahan

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . 5 menit baca