Sembarangan Menjalani Diet OCD Malah Bikin Berat Badan Naik

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Diet OCD beberapa waktu lalu sempat digandrungi masyarakat karena klaimnya yang dapat menurunkan berat badan secepat kilat. Sayangnya, banyak ahli kesehatan dan pakar gizi yang kurang menyetujui program diet ini. Berikut penjelasannya

Apa itu diet OCD?

Diet OCD pada dasarnya merupakan variasi dari metode diet puasa (intermittent fasting) yang menekankan sistem pengaturan waktu makan — kapan Anda boleh makan dan kapan harus berhenti makan alias “puasa”. Biasanya metode ini menganjurkan untuk puasa makan selama 16 jam, namun waktunya dapat Anda tentukan sendiri.

Misalnya jika Anda ingin membagi 16 jam waktu berpuasa dan 8 jam waktu mengonsumsi makanan. Maka Anda diperbolehkan makan apa saja sesuka hati dari jam 1 siang hingga jam 9 malam, kemudian dilanjutkan berpuasa hingga 16 jam ke depan. Selam waktu puasa ini, anda tidak diperbolehkan makan apapun kecuali air putih.

Manfaat melakukan diet OCD

Menurut penelitian neuroscientist Mark Mattson, diet OCD ini diklaim dapat menurunkan berat badan. Terlebih kalori yang terasup ketika Anda melakukan diet ini diperkirakan hanya sekitar 500 kalori saja dalam sehari, itu jika Anda melakukan jendela makan dalam waktu 6 jam.

Selain itu seperti yang dikutip Prevention, diet ini bisa membantu menurunkan kadar gula darah, penurunan risiko penyakit jantung dan kanker. Bahkan diet ini  dipercaya dapat membantu otak Anda menangkal penyakit neurogeneratif seperti Alzheimer serta Parkinson, sembari sambil memperbaiki mood dan memori.

Tapi, diet OCD sebaiknya tidak rutin dilakukan setiap hari

Diet OCD pada dasarnya melatih tubuh untuk hanya mengasup kalori seperlunya supaya berlebihan. Namun pada dasarnya berkurangnya bobot tubuh hanyalah bonus semata.

Yang perlu dipahami, kegiatan fisik sederhana sekalipun, seperti berjalan atau berpikir, memerlukan energi dari kalori yang dibakar tubuh. Jika asupan kalori yang Anda asup kurang dari cukup, justru hal tersebut bisa mengganggu aktivitas sehari-hari. Terlebih, ketika Anda baru saja memulai diet OCD, tubuh tidak terbiasa dengan rasa lapar ataupun pola makan yang baru. Rasa lapar juga dapat menurunkan performa aktivitas jika Anda tidak mencukupi kebutuhan nutrisi sehari-hari.

Lalu, ada juga efek samping yang menyertai seperti sakit kepala dan perubahan jam tidur. Meski efek ini mungkin terjadi ketika Anda baru saja memulai diet dan hanya bersifat sementara, tapi kekurangan energi dan waktu tidur tentu dapat berdampak langsung pada tubuh Anda.

Diet OCD sembarangan malah bikin berat badan naik

Diet OCD menekankan pada pembatasan asupan makanan. Tingkat metabolisme memengaruhi seberapa cepat tubuh Anda membakar kalori yang didapat dari makanan. Jika asupan makanan sudah sedikit, metabolisme Anda akan berjalan lambat sehingga tubuh akan mengolah kalori dari makanan juga lebih lambat dari biasanya untuk menyimpan cadangan energi. Hal ini pada akhirnya membuat tubuh lebih banyak menyimpan kalori, menyebabkan berat badan Anda naik.

Selain itu, asupan kalori yang sangat rendah dapat membuat tubuh kehilangan banyak massa otot. Massa otot yang sedikit membuat tubuh hanya membakar sedikit kalori yang masuk. Akibatnya, tubuh akan menyimpan kelebihan kalori yang masuk dalam bentuk lemak. Jadi, orang yang diet hanya membatasi asupan makannya, sebenarnya ia kehilangan massa otot bukan massa lemak dalam tubuh. Padahal, yang sebaiknya dikurangi saat diet penurunan berat badan adalah massa lemak. Ini bisa terjadi karena pembatasan asupan makan tidak dibarengi dengan olahraga.

Siapa saja yang tidak boleh melakukan diet OCD?

Sebelum mencoba diet ini, lebih baik bicarakan dengan dokter atau ahli gizi. Anda perlu memastikan bahwa Anda makan makanan yang tepat pada saat melakukan diet dan puasa ini, guna mencegah malnutrisi tubuh.  

Anda juga perlu memastikan tidak ada riwayat masalah kesehatan yang melarag Anda berpuasa, contohnya jika Anda punya penyakit maag. Anda tidak dianjurkan juga melakukan diet ini jika Anda sedang hamil, menyusui, atau berusia di bawah 20 tahun.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: September 4, 2017 | Terakhir Diedit: September 6, 2017

Yang juga perlu Anda baca