Mengenal Makanan Fortifikasi dan Manfaatnya Bagi Kesehatan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 15/03/2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Ketika membaca kemasan makanan, Anda mungkin pernah melihat tulisan ‘difortifikasi’ atau ‘diperkaya’ yang diikuti dengan zat gizi tertentu. Tulisan ini biasanya dijumpai pada produk susu, tepung, atau sereal. Namun, belakangan Anda pun bisa menemukan makanan fortifikasi berupa roti, bumbu-bumbu masak, bahkan makanan anak-anak.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan makanan terfortifikasi? Lalu, apakah makanan yang telah melalui proses ini menjadi lebih menyehatkan dibandingkan makanan biasa? Simak jawabannya dalam informasi berikut ini.

Mengenal makanan fortifikasi dan manfaatnya

makanan bersih saat banjir

Makanan fortifikasi atau yang diperkaya adalah asupan yang telah ditambahkan dengan berbagai macam zat gizi yang secara alamiah tidak terkandung dalam makanan tersebut. Contohnya, susu difortifikasi dengan vitamin D, sereal difortifikasi dengan vitamin B, dan lain-lain.

Selain memperkaya kandungan nutrisi bahan pangan, fortifikasi juga bermanfaat untuk mengembalikan zat gizi yang hilang dalam proses pengolahan. Dengan begitu, bahan pangan dalam kemasan tetap mengandung zat gizi yang sama dengan bahan bakunya.

Fortifikasi bahan pangan sebenarnya sudah mulai dilakukan sejak tahun 1930-an. Tujuannya untuk mencegah kekurangan vitamin dan mineral dengan menambahkannya ke dalam bahan pangan yang biasa dikonsumsi masyarakat, seperti susu dan beras.

Zat gizi yang ditambahkan ke dalam makanan fortifikasi umumnya merupakan zat gizi mikro, yakni zat gizi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil. Meski dibutuhkan dalam jumlah kecil, zat gizi mikro berperan penting dalam menjalankan fungsi normal tubuh.

Di Indonesia, fortifikasi telah dilakukan dengan menambahkan zat besi pada tepung terigu, vitamin A pada minyak goreng, dan yodium pada garam. Hal ini bertujuan untuk mengatasi stunting, kurang gizi, dan gangguan akibat kekurangan yodium pada anak.

World Health Organization menyatakan bahwa fortifikasi adalah cara yang efektif untuk memberikan zat gizi kepada masyarakat tanpa mengubah pola makan secara drastis. Bahkan, program ini juga dapat mencegah penyakit akibat kekurangan zat gizi mikro.

Apakah asupan berfortifikasi lebih menyehatkan?

makanan kemasan

Bahan pangan fortifikasi sangat berguna dalam mencegah gangguan kesehatan yang terkait dengan kekurangan zat gizi mikro. Makanan ini juga amat penting bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang dengan pola makan khusus. 

Walau demikian, makanan yang difortifikasi juga memiliki kekurangan. Bahan pangan ini biasanya sudah melewati banyak pengolahan dan telah dikemas. Proses tersebut akan menambah kandungan lemak, natrium, serta gula di dalamnya.

Anak-anak juga berisiko mengalami kelebihan asupan vitamin dan mineral jika terlalu sering mengonsumsi makanan yang diperkaya. Kelebihan asupan vitamin dan mineral dalam jangka panjang dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.

Orang dewasa pun bisa mengalami kelebihan asupan zat mikro, terutama bila mereka juga rutin meminum suplemen. Kelebihan vitamin A misalnya, bisa merapuhkan tulang pinggang pada lansia dan mengganggu perkembangan janin pada ibu hamil.

Meski begitu, manfaat dari makanan yang difortifikasi tetaplah lebih besar dibandingkan risikonya. Pasalnya, penambahan zat gizi tidak dilakukan tanpa pertimbangan. Jenis zat gizi untuk fortifikasi juga telah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat tiap negara.

Kuncinya yakni mengonsumsi makanan yang bervariasi. Ini berarti selain mengonsumsi makanan fortifikasi, Anda juga mendapatkan asupan makanan padat gizi dari sumber alami. Pola makan yang bervariasi akan memberikan tubuh Anda asupan zat gizi yang beragam, tapi tetap seimbang.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

4 Jenis Makanan untuk Meningkatkan Kualitas Sperma

Penelitian membuktikan, bahkan pria berumur 80 tahun pun masih mungkin memiliki kualitas sperma yang baik dan subur jika asupan nutrisi ini tercukupi.

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kesuburan, Kehamilan, Hidup Sehat, Seks & Asmara 31/01/2017 . Waktu baca 5 menit

9 Jenis Mineral yang Diperlukan Tubuh

Apakah Anda pernah mendengar kromium atau mangan? Nama tersebut adalah beberapa contoh mineral yang diperlukan tubuh. Lalu apa saja fungsi mineral itu?

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Nutrisi, Hidup Sehat 10/01/2017 . Waktu baca 4 menit

Bedanya Zat Gizi Makro dan Mikro, Mana yang Lebih Penting?

Pada dasarnya zat gizi terbagi menjadi dua, yaitu zat gizi makro dan zat gizi mikro. Tapi apa sebenanya perbedaan dan fungsi kedua zat gizi tersebut?

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Nutrisi, Hidup Sehat 06/01/2017 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

nutrisi pisang hijau vs pisang kuning

Pisang Hijau vs Pisang Kuning, Mana yang Lebih Bernutrisi dan Mengenyangkan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. William
Dipublikasikan tanggal: 05/11/2018 . Waktu baca 4 menit
jenis vitamin adalah

Mengenal Jenis-Jenis Vitamin dan Beragam Manfaatnya Bagi Tubuh

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fitriana Deswika
Dipublikasikan tanggal: 22/03/2018 . Waktu baca 4 menit
kebutuhan gizi berubah sesuai usia

Menyesuaikan Perubahan Kebutuhan Gizi Seiring Bertambahnya Usia

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 04/03/2018 . Waktu baca 4 menit
nutrisi ibu menyusui

Agar Selalu Terpenuhi, Kenali Berbagai Macam Nutrisi Bagi Ibu Menyusui

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 03/11/2017 . Waktu baca 14 menit