Benarkah Nonton TV Terlalu Dekat, Bisa Bikin Mata Anak Rusak?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13 Agustus 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Ketika Anda masih kecil, orangtua Anda mungkin sibuk menasehati Anda — atau membelalaki, jika Anda tetap saja bandel — untuk jangan menonton TV terlalu dekat, karena jika tidak mata Anda akan rusak. Petuah ini menempel erat dalam benak Anda hingga dewasa dan kini, sebagai orangtua, Andalah yang ‘bertugas” memperingatkan anak-anak Anda untuk tidak duduk terlalu dekat dengan layar televisi.

Pernahkah Anda bertanya-tanya, darimanakah asal muasal petuah ini dan apakah nasehat turun-temurun leluhur ini mengandung sedikit saja kebenaran?

Berawal dari TV cembung zaman dulu

Sebelum tahun 1950-an, banyak televisi layar cembung diketahui memancarkan sinar radiasi tingkat tinggi berasal dari tabung sinar katoda di dalamnya, hingga 10,000 kali lipat lebih tinggi daripada batas aman. Akibatnya, setelah paparan berkelanjutan dan berulang, radiasi ini dapat meningkatkan risiko masalah penglihatan pada sebagian besar orang. Anjuran dari pihak berwenang untuk mengatasi kepanikan ini adalah dengan menjaga jarak duduk dari layar TV. Selama Anda duduk agak menjauh dan tidak menonton TV lebih dari satu jam atau terlalu dekat, Anda akan aman. Sejumlah pabrik televisi dengan cepat menarik produk ‘cacat’ mereka dan memperbaikinya, namun stigma “menonton tv terlalu dekat akan merusak mata” masih tetap hidup sampai hari ini.

Para ilmuwan zaman modern dapat memastikan bahwa peringatan kuno ini benar-benar sudah usang. Tidak ada bukti sains bahwa menonton tv terlalu dekat akan menyakiti mata — baik pada anak maupun orang dewasa. Selain itu, kini perangkat televisi modern dirancang dengan perisai kaca bertimbal yang kuat, sehingga radiasi sinar tidak lagi menjadi masalah.

Anak menonton TV terlalu dekat, mungkin karena ia memang sudah rabun

Anak-anak pada umumnya memiliki kebiasaan membaca buku atau duduk tepat di depan layar TV, karena keinginan untuk memenuhi penglihatan periferal mereka dengan gambar yang ada di layar TV. Hal ini tidak memerlukan kekhawatiran khusus. Mata anak didesain sedemikian rupa untuk dapat fokus dalam jarak pendek lebih cepat dan lebih baik daripada mata orang dewasa. Kebiasaan ini biasanya akan berangsur berkurang saat mereka tumbuh dewasa.

Menonton TV terlalu dekat tidak akan membuat anak menjadi rabun jauh, namun mungkin anak Anda duduk terlalu dekat dengan layar TV karena ia mengidap rabun jauh dan tidak pernah terdiagnosis sebelumnya — bukan akibat radiasi televisi. Jika anak Anda terbiasa duduk terlalu dekat dengan TV hingga mengkhawatirkan Anda, terutama mereka yang duduk sangat dekat dan/atau menonton dari sudut yang aneh, periksakan matanya ke dokter mata untuk mendapatkan diagnosis tepat.

Skenario terburuknya, duduk terlalu dekat dengan layar TV di zaman modern ini hanya akan memberikan Anda sakit kepala dan kemungkinan sindrom mata lelah. Kedua hal ini dapat menjadi masalah bagi anak, yang sering menonton TV sambil berbaring di lantai. Menonton TV sambil mendongak akan menyebabkan otot mata semakin rentan regang dan kelelahan daripada memandangi TV dalam posisi layar sejajar pandangan mata atau melihat ke bawah (hal yang sama juga berlaku pada monitor komputer atau gadget elektronik lainnya).

Sindrom mata lelah juga bisa terjadi saat menonton TV atau memandangi layar komputer dalam cahaya layar yang lebih redup daripada pencahayaan ruangan. Untungnya, kelelahan mata bukan kondisi permanen dan tidak mengancam keselamatan anak. Mata lelah dapat dengan mudah diatasi: matikan TV.

Sebaiknya segera ajak anak Anda untuk beranjak dari tempat duduknya di depan TV saat ini dan lakukan aktivitas produktif lainnya, karena tampaknya efek terburuk dari menonton TV tidak terletak pada kesehatan mata, dan mungkin berasal dari terlalu sering dan lama menonton televisi, tidak peduli jauh-dekat jarak layar.

Namun, menonton tv terlalu lama tetap tak baik bago kesehatan mata

Anak yang menghabiskan waktu terlalu lama di depan layar dan tidak aktif secara fisik memiliki penyempitan pembuluh darah di dalam mata, menurut sebuah temuan studi asal Australia yang dilansir dari NY Times.

Para peneliti mengumpulkan hampir 1,500 anak usia 6 tahun dari seluruh Sydney. Peneliti memeriksa mata partisipan setelah meneliti waktu yang dihabiskan untuk aktivitas fisik yang produktif dan waktu yang terbuang hanya untuk menonton TV/komputer. Hasilnya, mereka menunjukkan bahwa pada anak-anak yang paling sering dan paling lama menonton TV ditemukan adanya penyempitan pembuluh darah di dalam mata mereka, dibandingkan dengan kelompok anak yang lebih jarang menonton TV.

Hasil untuk kegiatan fisik pun tidak jauh berbeda: Mata anak-anak yang jarang berolahraga sama-sama menunjukkan penyempitan pembuluh darah. Namun begitu, alasannya tidak jelas.

Sampai saat ini peneliti belum dapat memastikan apa dampak dari penyempitan pembuluh darah di mata anak, namun pada orang dewasa, penyempitan pembuluh darah mata telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung.

Selain itu, dilansir dari Scientific American, anak-anak yang konsisten menonton TV lebih dari empat jam sehari lebih mungkin memiliki berat badan berlebih — yang dapat membawa sejumlah masalah kesehatan di kemudian hari.

Jadi bagaimana aturan menonton tv yang aman?

Meskipun menonton tv mungkin menjadi suatu kegiatan yang tak terelakkan untuk si kecil, kuncinya adalah bijak menggunakannya. Menonton TV terlalu dekat tidak akan membuat anak kehilangan keseluruhan daya penglihatannya, namun tetap batasi jumlah dan waktu paparan anak terhadap layar apapun (TV, ponsel, komputer), dan pantau apa-apa saja yang boleh untuk mereka tonton. Orangtua harus mengajarkan anak-anak mereka bahwa TV adalah hiburan sesekali, bukan untuk pelarian terus-menerus.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Mengenal Metode Pendidikan Montessori: Membebaskan Anak untuk Bereksplorasi

    Pola pendidikan montessori dianggap berbeda dengan gaya pendidikan reguler lainnya. Apa yang membedakannya? Simak dalam artikel ini.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Parenting, Tips Parenting 17 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    Berbagai Cara untuk Mengurangi Mata Minus (Rabun Jauh)

    Bagi Anda yang memiliki mata minus, pasti ingin lepas dari ketergantunga kacamata atau lensa. Lalu apakah mungkin mengurangi mata minus? Bagaimana caranya?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Hidup Sehat, Tips Sehat 17 September 2020 . Waktu baca 3 menit

    6 Cara Efektif Mengajarkan Anak Gosok Gigi

    Mengajarkan anak gosok gigi memang gampang-gampang susah. Lantas, bagaimana caranya agar mereka mau menggosok gigi secara teratur? Simak tipsnya di sini.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Parenting, Tips Parenting 16 September 2020 . Waktu baca 5 menit

    Tips Mencari Tahu dan Mengembangkan Bakat Anak

    Setiap anak memiliki bakat yang berbeda. Orang tua perlu mengenali dan membantu mengembangkan bakat anak sejak dini. Bagaimana caranya?

    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Parenting, Tips Parenting 10 September 2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    Perkembangan anak usia 14 tahun

    Perkembangan Anak di Usia 14 Tahun, Apakah Sudah Sesuai?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 9 menit
    pubertas atau masa puber

    Ciri-Ciri Pubertas pada Remaja Perempuan dan Laki-laki

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Dipublikasikan tanggal: 20 September 2020 . Waktu baca 12 menit
    perkembangan anak 13 tahun

    Perkembangan Anak Usia 13 Tahun, Bagaimana Tahapan yang Sesuai?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Dipublikasikan tanggal: 19 September 2020 . Waktu baca 8 menit
    gangguan atau penyimpangan makan pada remaja

    Penyebab Gangguan Makan pada Remaja dan Cara Mengatasinya

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Dipublikasikan tanggal: 19 September 2020 . Waktu baca 10 menit