Begini Alasan Adanya Mata Plus pada Anak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 20 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Mata plus yang secara medis dikenal sebagai hyperopia atau rabun dekat biasanya mulai menyerang orang-orang dewasa di atas 40 tahun. Akhirnya banyak yang menghubungkan penyakit rabun dekat ini sebagai penyakit orangtua. Padahal, ada juga anak-anak kecil yang telah didiagnosis menderita rabun dekat. Jadi, anggapan bahwa hanya orang tua yang bisa punya mata plus ternyata salah. Fakta yang dilaporkan oleh Merdeka mencatat bahwa kasus mata plus pada anak terus mengalami peningkatan sehingga kelainan mata ini sudah tidak tepat lagi disebut sebagai penyakit orang tua.

Apa yang terjadi pada anak dengan mata plus (hyperopia)?

Anak dengan mata plus mengalami kesulitan melihat dengan jelas objek-objek yang jaraknya dekat dengan mata. Objek yang jauh dari mata justru tampak lebih jelas. Itulah sebabnya kegiatan membaca, mengetik, dan mengoperasikan komputer atau telepon seluler jadi sangat susah. Bahkan pada beberapa kasus di mana mata anak mengalami hyperopia yang sangat serius, penglihatan jarak dekat pun juga akan terganggu.

Pada mata anak dengan penglihatan hyperopia, terjadi kelainan di mana bayangan optik jatuh di belakang retina. Bola mata dengan hyperopia umumnya terlalu pendek sehingga cahaya tidak bisa jatuh tepat pada retina dan penglihatan menjadi buram. Selain itu, biasanya juga terdapat kelainan pada bentuk kornea atau lensa mata anak.

Mengapa mata plus pada anak bisa terjadi?

Mata plus terjadi karena beberapa faktor risiko. Faktor yang paling kuat adalah genetik. Jika Anda atau pasangan memiliki sejarah kelainan mata hyperopia, maka kemungkinan anak Anda mewarisinya pun lebih besar. Faktor lainnya adalah usia. Namun, karena mata anak masih dalam tahap perkembangan, biasanya faktor usia bukanlah penyebab anak memiliki mata plus.  

Gejala dan tanda-tanda anak menderita mata plus

Bagi anak yang mengalami gangguan mata plus di usia dini, Anda mungkin kesulitan untuk mengetahuinya karena anak belum benar-benar paham tentang cara kerja mata normal, dan tanda-tanda mata plus tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Maka, sebaiknya Anda perhatikan gejala-gejala berikut ini.

1. Pandangan kabur dan berbayang

Jika anak Anda mengeluhkan penglihatan yang buram, berbayang, atau kabur, segera ajak anak untuk melakukan pemeriksaan mata. Biasanya gejala ini akan jadi semakin parah di malam hari.

2. Kesulitan melihat objek dalam jarak dekat

Perhatikan gerak-gerik anak Anda ketika berinteraksi dengan objek dalam jarak dekat. Bila anak cenderung menjauhkan mainan, buku, atau gadget, kemungkinan anak mengalami rabun dekat.

3. Mata sakit dan lelah

Biasanya mata anak dengan gangguan hyperopia cepat lelah dan terasa nyeri. Jadi jika anak Anda sering mengerutkan dahi atau memejamkan mata, ada baiknya Anda segera memeriksakan mata anak.

4. Sering sakit kepala

Anak dengan mata plus harus menahan fokus objek yang dekat dari mata untuk waktu yang cukup lama. Mata anak pun jadi cepat lelah dan bisa menyebabkan rasa sakit dan nyeri pada kepala.

5. Sering mengusap matanya

Anak kecil belum bisa mengidentifikasi penyebab penglihatan yang buram atau kabur, maka anak pun akan mengusap mata dengan harapan objek di hadapan mereka akan terlihat lebih jelas.

6. Kesulitan membaca dan belajar

Jangan langsung mengambil kesimpulan bahwa anak sulit belajar karena malas. Bisa jadi anak mengalami kesulitan saat membaca dan belajar karena adanya gangguan rabun dekat.

Menangani mata plus pada anak

Banyak yang percaya bahwa mata plus pada anak akan sembuh sendiri. Namun, hal tersebut tidak berlaku secara umum. Anak dengan hyperopia perlu mendapatkan perawatan khusus supaya gangguan yang dialami tidak bertambah serius. Pada anak usia balita dengan kasus rabun dekat ringan, kemungkinan mata kembali normal memang lebih tinggi karena mata akan menyesuaikan diri selama bertumbuh. Meskipun demikian, akan lebih baik jika Anda tetap mengikuti saran dokter dan memberikan perawatan yang terbaik bagi anak dengan mata plus. Berikut adalah penanganan yang bisa diberikan oleh orang tua.

1. Pakai kacamata

Setelah memeriksakan mata anak, biasanya anak dengan mata plus akan direkomendasikan oleh dokter untuk menggunakan kacamata. Kacamata akan membantu anak mengembalikan fokus pada objek yang tadinya tampak kabur. Memakai kacamata adalah penanganan terbaik yang bisa diberikan pada anak. Operasi perbaikan kornea, lensa, atau bola mata tidak direkomendasikan bagi anak karena perkembangan mata yang belum sempurna. Biasanya mata akan menjadi dewasa sempurna di usia 21 tahun.

2. Pola makan sehat

Mengonsumsi sayur, khususnya yang berdaun hijau tua dan buah-buahan yang berwarna terang bisa meningkatkan kesehatan mata anak. Selain itu, kandungan yang baik bagi anak dengan mata plus adalah vitamin C, D, serta kalsium, magnesium, dan selenium. Untuk itu, anak dengan mata plus sebaiknya banyak mengonsumsi brokoli, bayam, jeruk, stroberi, kiwi, salmon, sarden, tuna, telur, tahu, dan jamur.

3. Melatih kesehatan mata

Anak harus dilatih agar bisa menjaga kesehatan mata dengan cara banyak berkedip, terutama ketika sedang menatap layar komputer, televisi, atau tablet untuk waktu yang cukup lama. Pastikan juga bahwa anak cukup mengistirahatkan matanya. Anda bisa menerapkan sistem 10-3-10. Setiap anak memfokuskan mata pada objek tertentu selama 10 menit, beristirahatlah dan alihkan mata untuk memandang di kejauhan sejarak 3 meter selama 10 detik.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengapa Ada Orang yang Nyetrum Ketika Disentuh?

Pernah merasa seperti tersengat listrik saat bersentuhan dengan orang lain? Ini dia penjelasan kenapa orang tertentu nyetrum ketika disentuh.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 15 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Anda Sering Jatuh? Ini Kondisi Medis yang Bisa Jadi Penyebabnya

Jika Anda sering jatuh dan merasa keseimbangan tubuh kurang baik, maka hal ini menandakan Anda mengalami kondisi medis tertentu. Apa saja?

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 15 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Cara Hidup Sehat dengan Satu Ginjal

Ada beberapa orang yang hanya memiliki satu ginjal karena alasan tertentu. Lalu bagaimana caranya menjaga kualitas hidup dengan satu ginjal saja?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Urologi, Ginjal 15 September 2020 . Waktu baca 8 menit

Tips Mencuri Waktu Berhubungan Seks Setelah Punya Anak

Sering merasa tidak ada tempat dan waktu untuk bercinta setelah memiliki buah hati? Baiknya, simak tips mencuri waktu untuk berhubungan seks di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Seks & Asmara 14 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

yang harus diketahui sebelum melakukan pemeriksaan MRI

Yang Harus Anda Tahu Sebelum Menjalani Pemeriksaan MRI

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 18 September 2020 . Waktu baca 3 menit
perawatan paliatif apa itu

Mengenal Perawatan Paliatif Sebagai Pengobatan Penyakit Kanker

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 18 September 2020 . Waktu baca 6 menit
mata silinder (astigmatisme)

Berbagai Cara untuk Mengurangi Mata Minus (Rabun Jauh)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 17 September 2020 . Waktu baca 3 menit
penyebab alerg kulit

Segudang Penyebab yang Memicu Reaksi Alergi Pada Kulit

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 16 September 2020 . Waktu baca 7 menit