Jika Radiasi Bisa Memicu Kanker, Mengapa Malah Digunakan untuk Pengobatan?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 27/10/2019 . 4 mins read
Bagikan sekarang

Sekitar 10 persen kasus kanker disebabkan oleh faktor yang berkaitan dengan paparan radiasi. Radiasi dapat berasal dari lingkungan kerja, zat kimia dalam rokok, prosedur medis, hingga sinar ultraviolet. Meski begitu, salah satu metode pengobatan kanker yang paling efektif justru adalah dengan terapi radiasi. Mengapa demikian?

Bagaimana cara radiasi memicu kanker?

Radiasi ada di mana-mana, dan tubuh Anda setiap saat terkena paparannya dari berbagai sumber. Kabar baiknya, dosis radiasi yang berasal dari lingkungan tidak cukup besar untuk memicu kanker. Sel tubuh manusia bisa pulih dengan cepat dari radiasi ini.

Ada dua jenis radiasi, yakni radiasi ionisasi dan non-ionisasi. Radiasi ionisasi adalah radiasi kuat yang dapat merusak DNA sel dan memicu kanker. Sumber radiasi ini antara lain sinar UV, sinar-X, unsur kimia radon dalam rokok, serta tenaga nuklir.

Sementara itu, radiasi non-ionisasi adalah radiasi yang lebih lemah. Sumbernya berasal dari microwave, TV, layar komputer, ponsel, dan perangkat sejenis. Kendati tidak cukup kuat untuk memicu kanker, paparan jangka panjang tetap bisa meningkatkan risikonya.

bahaya radiasi

Paparan radiasi dalam dosis kecil tidaklah berbahaya. Dunia medis bahkan telah lama melakukan pengobatan kanker dengan memanfaatkan efek radiasi. Namun, masalah timbul ketika Anda terpapar radiasi ionisasi dalam dosis tertentu.

Radiasi ionisasi, terutama dalam dosis besar, sangatlah kuat sehingga mampu melepaskan elektron dari atom. Begitu atom tercerai-berai, susunan DNA pun menjadi kacau. DNA bisa terpotong, memanjang, berduplikasi, atau mengalami mutasi lainnya.

DNA adalah unsur terkecil yang menyusun tubuh Anda. Jika DNA rusak, kromosom pun ikut rusak. Kromosom yang rusak menghasilkan sel-sel abnormal. Sel abnormal tersebut lantas membelah secara tak terkendali. Inilah yang disebut sebagai kanker.

Mengapa pengobatan kanker dilakukan dengan radiasi?

Radiasi dalam dosis yang besar memang berisiko menyebabkan mutasi DNA dan memicu kanker. Akan tetapi, mekanisme yang sama ternyata dapat dimanfaatkan untuk membunuh sel-sel kanker dan mencegah penyebarannya.

Terapi radiasi untuk kanker memanfaatkan gelombang berenergi tinggi yang berasal dari sinar-X, sinar gamma, atau tembakan elektron. Gelombang ini akan menghantam DNA sel kanker, kemudian menyebabkan kerusakan. 

cara kerja radioterapi untuk kanker usus besar

DNA sel kanker lalu bermutasi. Kondisi ini mirip dengan proses terjadinya kanker, tapi mutasi DNA justru membuat sel kanker tidak dapat memperbanyak diri. Jaringan kanker pun berhenti tumbuh dan tidak bisa menyebar ke bagian tubuh yang lain.

Sel-sel normal di sekitar sel kanker biasanya ikut rusak akibat efek radiasi. Namun, pengobatan kanker dengan cara ini menggunakan radiasi yang terkendali. Sel-sel tubuh Anda akan segera pulih dan dapat berfungsi kembali dengan normal.

Apakah terapi radiasi memiliki kekurangan?

Seperti metode pengobatan lainnya, terapi radiasi juga memiliki efek samping. Terapi ini bisa sedikit meningkatkan risiko kanker pada bagian tubuh lain, tapi risikonya jauh lebih kecil dibandingkan manfaat yang akan diperoleh pasien kanker.

Terapi radiasi sangat berguna untuk mengatasi kanker pada stadium awal, mencegah kanker muncul kembali, serta menangani keluhan akibat kanker stadium akhir. Metode ini juga lebih efektif karena cara kerjanya menyasar jaringan kanker secara langsung.

Bagi pasien kanker yang ingin menjalani pengobatan dengan terapi radiasi, hal pertama yang harus dilakukan adalah berkonsultasi dengan dokter. Langkah ini akan membantu Anda mempersiapkan fisik dan mental menjelang pelaksanaan pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Efek Global Warming Bagi Kesehatan Kita

Anda mungkin sudah tahu apa dampak pemanasan global bagi lingkungan. Namun, bagaimana dengan efeknya pada kesehatan manusia? Simak di sini, ya!

Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Hidup Sehat, Fakta Unik 13/05/2018 . 6 menit baca

Bingung Pilih Sunscreen yang Mana? 3 Poin Penting Ini Bisa Jadi Acuannya!

Memilih sunscreen terbaik adalah salah satu cara ampuh untuk mencegah kanker kulit dan penuaan dini karena paparan sinar matahari.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Hidup Sehat, Kecantikan 27/04/2018 . 4 menit baca

Berapa Lama Pasien Kanker Payudara Bisa Pulih Setelah Pengobatan?

Setelah pengobatan kanker payudara, tentu pasien tak bisa langsung melakukan aktivitasnya dengan normal. Berapa lama waktu pemulihan kanker payudara?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Kanker Payudara, Health Centers 20/03/2018 . 5 menit baca

Plus Minus Mengobati Kanker Dengan Terapi Imun

Terapi imun untuk kanker merupakan pilihan pengobatan yang bisa dilakukan selain kemoterapi atau radiasi. Namun, apakah efektif? Apa saja efek sampingnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Tips Sehat 15/12/2017 . 5 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

radiasi nuklir serpong

Radiasi Nuklir di Serpong, Apa Dampaknya bagi Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 18/02/2020 . 6 menit baca
hubungan polusi dan jerawat

Benarkah Polusi Udara Bisa Menyebabkan Munculnya Jerawat?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 19/08/2019 . 4 menit baca
pemeriksaan Radiologi adalah

Mengenal Seputar Pemeriksaan Radiologi dalam Dunia Medis

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 21/11/2018 . 6 menit baca
ahli onkologi adalah dokter spesialis kanker

Yang Harus Anda Ketahui tentang Onkologi dan Penanganan Kanker

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 21/11/2018 . 6 menit baca