Meresahkan, Ini Fakta Tentang Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Maret 2019 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Indonesia darurat narkoba. Menurut data BNN tahun 2017, ada 4 juta (2,18%) penduduk Indonesia berusia 10-58 tahun menjadi penyalahguna narkotika. Jumlah pengguna narkoba yang begitu besar, menjadikan Indonesia sebagai “surga” bagi pengedar narkotika.

Tentu saja fakta ini sangat mengejutkan. Dengan data tersebut bisa diperikirakan bahwa suplai narkoba bisa mencapai ratusan ton per tahunnya. Setiap hari 40–50 orang mati karena menggunakan narkoba.

Di tahun 2015 terdapat 35 macam narkoba yang dikonsumsi pengguna narkoba di Indonesia. Di dunia sebenarnya terdapat 354 jenis narkoba. Pada tahun 2016, diketahui 2 dari 100 pelajar-mahasiswa menyalahgunakan narkoba.

Pada 13 Juli 2017, Polri berhasil meringkus sindikat narkoba internasional beserta barang bukti 1 ton jenis sabu. Pada 26 Juli 2017, BNN membongkar sindikat narkoba yang menyelundupkan sabu lebih dari 284 kilogram dari luar negeri. Hal ini membuktikan bahwa peredaran narkoba di Indonesia begitu masif.

Apa itu narkoba?

Narkoba merupakan singkatan dari narkotika dan obat-obat berbahaya. Narkotika dan zat-zat berbahaya sering disebut NAPZA, yaitu narkotika, psikotropika, dan zat adiktif.

Narkotika adalah zat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Di dalam kedokteran, narkotika dipakai sebagai sedatif, menghilangkan nyeri, cemas, mengobati batuk, diare, edema paru-paru akut. Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan pada aktivitas mental dan perilaku.

Menurut UU No. 22 tahun 1997, narkoba jenis narkotika digolongkan menjadi tiga, yakni:

Golongan Keterangan Contoh
I Berpotensi amat kuat menimbulkan ketergantungan, dilarang digunakan untuk pengobatan. Opium, heroin, dan ganja.
II Berpotensi kuat menimbulkan ketergantungan, digunakan secara terbatas untuk pengobatan. Petidin, candu, dan betametadol.
III Berpotensi ringan menimbulkan ketergantungan, banyak digunakan untuk pengobatan. Asetil dihidrorocodeina, dokstroproposifen, dan dihidrorocodeina.

Menurut UU No. 5 tahun 1997, narkoba jenis psikotropika digolongkan menjadi empat, yakni:

Golongan Keterangan Contoh
I Obat terlarang, berpotensi “amat kuat” menyebabkan ketergantungan. ekstasi (MDMA = 3,4- methylenedioxy methamfetamine), LSD (lysergic acid diethylamid), dan DOM
II Berpotensi “kuat” menyebabkan ketergantungan. amfetamin, metamfetamin, dan fenetilin.
III Berpotensi “sedang” menyebabkan ketergantungan. Dapat digunakan sebagai terapi dengan resep dokter. amorbarbital, brupronorfina, dan modagon.
IV Berpotensi “ringan” menyebabkan ketergantungan. Dapat digunakan sebagai terapi dengan resep dokter. diazepam, nitrazepam, lexotan, pil koplo, obat penenang (sedatif), dan obat tidur (hipnotik).

Kenapa narkoba ‘banyak diminati’?

Banyak pengguna narkoba yang sudah tahu dampak dan risiko dari tindakannya tersebut. Namun, mereka tetap saja memakainya dengan berbagai alasan seperti ingi: 

  • meningkatkan kreativitas
  • mendatangkan ‘ilham’
  • menghilangkan kebosanan
  • rasa ingin tahu
  • kebiasaan keagamaan
  • supaya “diterima” di pergaulan
  • memuaskan hubungan seksual
  • mengobati penyakit
  • menghilangkan beban batin
  • memperoleh pengalaman baru yang menyenangkan
  • menyatakan kebebasan kedewaan dan terkadang hostilitas
  • menghindari realitas
  • tempat pelarian

Pengguna narkoba sendiri dibagi lagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu:

  • Experimental user: tahap coba-coba
  • Casual user: sudah lebih sering memakai di peristiwa tertentu
  • Situational user: sudah mulai ada ketergantungan psikologis-fisik
  • Intensified user: sudah tahap ketergantungan obat
  • Compulsiver user: sudah tak terkendali lagi

Sementara pengguna NAPZA dikelompokkan menjadi tiga, yakni

  • User: pengguna sesekali
  • Abuser: pengguna sebab alasan tertentu
  • Addict: pengguna karena kebutuhan

Gejala dan dampak yang terjadi pada pengguna narkoba

Biasanya orang yang menggunakan narkoba akan menunjukkan berbagai gejala yang muncul saat ia lepas obat (sindrom abstinentia), kelebihan dosis akut, komplikasi medis (penyulit kedokteran), komplikasi lain (sosial, legal).

Saat menggunakan narkoba, tanda khas yang dapat dilihat seperti:

  • Perilaku agresif
  • Apatis
  • Penuh curiga
  • Selalu mengantuk
  • Bicara pelo
  • Jalan sempoyongan

Sementara jika pemakai mengalami overdosis NAPZA, gejala yang akan muncul seperti:

  • Sesak napas
  • Napas lambat bahkan bisa berhenti
  • Denyut jantung-nadi lambat
  • Kulit teraba dingin

Jika sudah sangat parah, dapat menyebabkan pengguna meninggal dunia.

Sedangkan, ciri pengguna narkoba yang ketagihan alias sakau, yaitu:

  • Kesadaran menurun
  • Kejang
  • Diare
  • Mata dan hidung berair
  • menguap terus
  • Rasa sakit di sekujur tubuh
  • Takut air sehingga malas mandi

Dalam jangka panjang, pada pengguna dengan jarum suntik terlihat bekas suntikan di lengan atau bagian tubuh lain, gigi tak terawat, tak peduli akan kesehatan, kebersihan, dan penampilan diri.

Dampak penyalahgunaan NAPZA berupa berbagai gangguan dan penyakit di otak dan susunan saraf pusat, sistem pernapasan, sistem reproduksi, sistem pencernaan, jantung, ginjal, hati, kulit, penyakit menular seksual dan HIV/AIDS, serta beragam dampak sosial di lingkungan keluarga, sekolah, kantor, atau tempat kerja, dan masyarakat.

Apa yang harus dilakukan?

Beberapa upaya dilakukan pemerintah bersama masyarakat untuk menurunkan angka pengguna narkoba dan menghilangkan obat-obatan terlarang ini dari peredaran, berupa tindakan:

  • Preemtif (edukatif)
  • Preventif (pencegahan)
  • Represif (penegakan hukum)
  • Rehabilitatif (pemulihan, perbaikan) berupa penyuluhan
  • Diseminasi
  • Sarasehan
  • Seminar
  • Pelatihan dan pembinaan kader anti-narkoba
  • Pengendalian-pengawasan jalur peredaran narkoba
  • Sosialisasi tentang UU Narkotika dan UU Psikotropika, bahaya NAPZA,
  • Memilih lingkungan pergaulan yang positif dan kondusif
  • Membentengi diri dengan IMTAK dan IPTEK
  • Membawa pecandu ke pusat rehabilitas

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy

Artikel dari ahli dr. Dito Anurogo, M.Sc.

Meresahkan, Ini Fakta Tentang Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia

Tahukah Anda jika semakin hari pengguna narkoba kiuan meningkat di Indonesia? Kondisi ini cukup memprihatinkan. Begini tanda gejala dari pengguna narkoba.

Ditulis oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc.
pengguna narkoba di indonesia
Hidup Sehat, Fakta Unik 7 Maret 2019

Memahami Andropause, Ketika Pesona Pria Mulai Memudar

Hampir sama dengan wanita, pria juga akan mengalami masa andropause. Andropause adalah hal alami, tapi bisakah diobati atau bahkan dicegah?

Ditulis oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc.
andropause adalah
Perawatan Pria, Hidup Sehat 20 Februari 2019

Yang juga perlu Anda baca

Flakka, Narkoba Murah yang Dampaknya 10 Kali Lipat Lebih Berbahaya dari Kokain

Flakka adalah narkoba baru yang lebih murah dari kokain, tapi efeknya 10 kali lipat lebih berbahaya. Flakka juga sering disebut sebagai "narkoba zombie".

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Fakta Unik 1 Maret 2019 . Waktu baca 7 menit

Efek Kokain Terhadap Otak dan Tubuh yang Harus Anda Ketahui

Kokain adalah narkotika yang paling berbahaya karena daya adiktifnya sangat tinggi. Penyalahgunaan obat ini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Fakta Unik 30 Oktober 2018 . Waktu baca 7 menit

Happy 5, Narkoba Berbahaya yang Efeknya Justru Jauh dari “Happy”

Happy 5 adalah obat gangguan psikologi golongan benzodiazepine yang kerap disalahgunakan sebagai narkoba. Pelajari lebih jauh di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 2 Januari 2018 . Waktu baca 3 menit

4 Faktor Psikologis yang Membuat Seseorang Menjadi Pengguna Narkoba

Ada sekitar enam juta pecandu narkoba di Indonesia, lapor Badan Narkota Nasional (BNN). Lantas, apa yang menyebabkan seseorang kecanduan narkoba?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Hendry Wijaya
Hidup Sehat, Psikologi 2 November 2017 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kenakalan remaja

Orangtua Perlu Waspada, Ini 5 Kenakalan Remaja yang Kerap Dilakukan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 1 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit
efek narkoba pada otak

Efek Narkoba Pada Otak: Dari Kebutaan Sampai Kerusakan Saraf

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 27 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit
susu menetralkan alkohol dan narkoba

Bisakah Susu Menetralkan Alkohol dan Narkoba dalam Darah?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 20 September 2019 . Waktu baca 4 menit
pecandu narkoba sulit berhenti

Rio Reifan Tertangkap Lagi, Kenapa Pecandu Narkoba Susah Berhenti?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Agustus 2019 . Waktu baca 4 menit