Kenali Mitos Seputar Hepatitis C yang Perlu Diketahui Kebenarannya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 27 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Hepatitis C merupakan penyakit dapat menyebabkan kerusakan yang parah pada hati hingga berisiko terhadap kanker hati jika tidak diobati. Sayangnya, banyak orang yang bingung terhadap penyakit ini, seperti siapa saja yang berisiko dan cara mengobatinya. Tidak heran jika banyak mitos hepatitis C menyebar. 

Mitos hepatitis C yang perlu diketahui kebenarannya

Vaksin hepatitis C

Terlepas dari kemajuan teknologi yang memudahkan masyarakat untuk mencari kebenaran dari sebuah desas-desus, mitos masih kerap dipercaya. Terlebih lagi, tidak sedikit dari mereka yang percaya mitos yang belum dapat dipastikan kebenarannya, termasuk soal penyakit. 

Salah satu mitos yang cukup populer adalah mengenai penyakit hepatitis C. Apabila mempercayai informasi yang salah tentu dapat membuat orang salah paham dan mencegah mereka mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. 

Berikut ini beberapa mitos seputar hepatitis C yang perlu Anda ketahui agar tidak keliru menangkap sebuah informasi. 

1. Dapat mengetahui hepatitis C dengan mudah

Salah satu mitos hepatitis C yang sering dipercaya adalah penyakit ini mudah dikenali. Faktanya tidak demikian.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC), hanya ada sekitar 2030% pasien hepatitis C yang memperlihatkan tanda dan gejala segera setelah terinfeksi. Namun, gejala tersebut juga sangat mungkin kurang spesifik, seperti demam, muntah, dan rasa lelah. 

Umumnya, virus hepatitis C justru baru disadari setelah mengalaminya setelah bertahun-tahun. Beberapa dari mereka juga dapat mengidentifikasi penyakit ini lewat tes serologis tertentu atau telah mengalami komplikasi kesehatan yang serius, seperti sirosis. 

Maka dari itu, infeksi virus hepatitis C tidak dapat dikenali dengan mudah, sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan, apakah terinfeksi atau tidak.

Apa Itu Tes Viral Load Hepatitis? Siapa yang Perlu Melakukannya?

2. Sembuh tanpa pengobatan

Obat hepatitis B kronis

Selain lebih mudah dikenali, mitos hepatitis C lainnya adalah orang percaya bahwa penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya, alias tanpa perlu diobati. Pada kenyataannya, mereka yang tidak mengobatinya dengan benar justru berisiko mengalami komplikasi dari hepatitis C

Beberapa dari Anda mungkin pernah mendengar bahwa hepatitis C dapat hilang dengan sendirinya. Sebenarnya, sama seperti HPV, hepatitis C akut dapat sembuh dengan sendirinya jika dikenali sejak dini. 

Walaupun demikian, kemungkinan besar virus akan bertahan di tubuh lebih dari enam bulang dan dianggap sebagai infeksi hepatitis C kronis. Maka itu, ketika Anda menderita hepatitis C sebaiknya mendapatkan pengobatan agar tidak berisiko terkena komplikasi. 

3. Vaksin untuk hepatitis C sudah tersedia

Vaksin mRNA adalah

Mitos hepatitis C lainnya yang perlu dipatahkan adalah ketersediaan vaksin untuk mencegah penyakit ini. Sebenarnya sampai saat ini belum ada vaksin hepatitis C yang tersedia. 

Sejak 25 tahun yang lalu, peneliti sudah mengembangkan vaksin mencegah hepatitis C dan mengujicobakannya ke hewan. Beberapa dari vaksin yang dikembangkan ini, terutama selama beberapa tahun belakangan, sedang menjalani pengujian terbatas pada manusia. 

Namun, perlu diingat bahwa sampai saat ini belum ditemukan vaksin untuk hepatitis C karena masih dalam proses penelitian. Hal ini dikarenakan virus hepatitis C lebih bervariasi dibandingkan virus penyebab hepatitis A dan B.

Virus hepatitis C terjadi setidaknya dalam enam bentuk yang berbeda secara genetis dengan banyak subtipe. Sejauh ini sekitar 50 subtipe hepatitis C telah dikenali. Kondisi ini juga yang membuat infeksi hepatitis C terjadi di berbagai belahan dunia dengan variasi yang berbeda-beda. 

Maka dari itu, peneliti sedang berusaha menciptakan vaksin global yang dapat melindungi tubuh dari semua jenis virus tersebut. 

4. Menular lewat kontak biasa

Selain aktivitas seksual, mitos penularan virus hepatitis C juga disebut dapat menular lewat kontak biasa. Sebagian orang percaya bahwa mereka bisa terinfeksi virus jika berjabat tangan, memeluk, hingga berbagi makanan dengan pasien hepatitis C. 

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa penularan HCV hanya dapat terjadi lewat darah. Sebagai contoh, orang-orang kemungkinan besar akan terkena hepatitis C ketika berbagi jarum atau peralatan injeksi lainnya. 

Apabila Anda hidup dengan pasien hepatitis C, tidak perlu khawatir karena risiko virus menyebar di dalam perabotan rumah tangga cukup kecil. Namun, masuk akal ketika Anda mengambil beberapa tindakan pencegahan, seperti memakai cairan pengencer ketika membersihkan darah yang tumpah. 

5. Hanya menyerang hati

Walaupun kebanyakan virus hepatitis C menyerang hati, bukan berarti organ lainnya aman dari serangan. Mitos hepatitis C yang satu ini dipatahkan oleh penelitian dari World Journal of Gastroenterology

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa HCV juga memengaruhi organ, jaringan, dan sistem lainnya. Sebagai contoh, beberapa pasien hepatitis C dapat mengembangkan penyakit rematik atau masalah otot dan persendian lainnya. Hal ini juga dapat terjadi jauh sebelum pasien mengetahui bahwa mereka terinfeksi virus. 

Sementara itu, penderita hepatitis C kronis juga dapat mengembangkan risiko diabetes, rasa lelah yang berlebihan, hingga masalah kulit. Oleh karena itu, perlu diingat bahwa hepatitis C tidak hanya menyerang hati, melainkan berisiko memengaruhi fungsi organ lainnya. 

Hepatitis merupakan penyakit serius, tetapi Anda tidak perlu khawatir karena sudah ada cara untuk mengobati penyakit ini. Bahkan, uji klinis menunjukkan bahwa pada kebanyakan kasus yang menyerang hati, organ akan memperbaiki dirinya sendiri setelah virus hilang.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mitos atau Fakta: Minum Alkohol Dapat Membunuh Coronavirus?

Baru-baru ini terdengar kabar bahwa minum alkohol dapat membunuh coronavirus di dalam tubuh. Benarkah demikian? Simak penjelasannya di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23 Mei 2020 . Waktu baca 5 menit

5 Mitos soal Coronavirus yang Belum Terbukti Kebenarannya

Jangan percaya begitu saja bila ada yang menyebarkan informasi soal coronavirus. Berikut ada beberapa mitos coronavirus yang ternyata tidak sesuai fakta.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 6 Februari 2020 . Waktu baca 6 menit

Berbagai Anggapan Keliru atau Mitos Seputar Sunscreen

Banyak mitos seputar sunscreen yang beredar di kalangan masyarakat dan membuat mereka tidak mendapatkan perlindungan maksimal. Apa saja mitos tersebut?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Perawatan Kulit, Hidup Sehat, Kecantikan 17 Oktober 2019 . Waktu baca 5 menit

Jangan Lakukan Ini pada Luka Bakar Knalpot Atau Setrika

Mengoleskan odol dan mengompres es batu biasanya jadi pertolongan pertama luka bakar knalpot atau setrika. Tapi apakah cara ini benar-benar aman?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Konten Bersponsor
luka bakar knalpot atau setrika
Pertolongan Pertama, Hidup Sehat 1 Juni 2019 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

terapi urine minum air kencing

Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit
botol plastik hangat

Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 10 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit

7 Mitos yang Salah Tentang Membentuk Otot

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Dipublikasikan tanggal: 12 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit
gerimis bikin sakit

Benarkah Gerimis Lebih Bikin Sakit Daripada Hujan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 31 Mei 2020 . Waktu baca 5 menit