Mendengarkan Musik Mozart Bisa Membantu Otak Penderita Epilepsi

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/09/2017 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa suatu saat nanti, terapi musik dapat membantu orang-orang yang menderita epilepsi.

Penelitian ini terinspirasi dari bagaimana cara kerja otak pada penderita epilepsi dan bagaimana otak Anda memproses musik terjadi di daerah yang sama pada otak. Sekitar 80% pasien epilepsi memiliki epilepsi di bagian lobus temporal, yang mana di daerah tersebut juga terletak korteks pendengaran, yang berfungsi untuk memproses musik yang Anda dengar. Para ilmuwan dari Ohio State University’s Wexner Medical Center yang meneliti tentang hal ini menemukan bahwa otak pada penderita epilepsi bereaksi lain dengan musik dibandingkan orang-orang yang tidak menderita epilepsi.

Bagaimana penelitian ini dilakukan?

Para ilmuwan melihat bagaimana jenis-jenis musik yang berbeda diproses oleh otak pada penderita epilepsi, dan dibandingkan dengan keheningan. Sebanyak 21 orang penderita epilepsi dari bulan September 2012 sampai Mei 2014 berpartisipasi di penelitian ini. Para ilmuwan menggunakan alat bernama electroencephalogram, di mana ada elektrode yang di pasang di kulit kepala untuk mendeteksi dan menangkap gelombang aktivitas pada otak. Para ilmuwan mengukur gelombang aktivitas pada otak pasien dalam 3 fase. Fase pertama, pasien berada dalam keheningan selama 10 menit, lalu diikuti dengan salah satu jenis musik berikut: Mozart’s Sonata in D major, Andante Mobement II (K448), atau My Favourite Things ubahan John Coltrane. Pada fase kedua, pasien kembali berada dalam keheningan selama 10 menit, lalu diputarkan lagi lagu di antara 3 lagu yang disebutkan sebelumnya, namun berbeda dari yang sudah didengarkan pasien di fase pertama. Pada fase ketiga, pasien kembali berada dalam keheningan selama 10 menit. Urutan penyetelan lagu pada pasien berbeda-beda, ada yang dimulai dari musik Mozart di fase pertama, tapi ada juga yang dimulai dari Musik John Coltrane pada fase pertama.

Dan hasilnya, tidak peduli apapun jenis musiknya, para penderita epilepsi yang mendengarkan musik memiliki aktivitas otak yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak mendengarkan musik. Gelombang aktivitas pada otak penderita epilepsi cenderung bersinkronisasi lebih dengan musik (terutama pada bagian lobus temporal) dibandingkan dengan orang-orang yang tidak menderita epilepsi.

Musik apa yang paling efektif untuk membantu penderita epilepsi?

Para ilmuwan memang menemukan bahwa tidak peduli apapun jenis musiknya, kegiatan otak selalu meningkat setelah penderita epilepsi mendengarkan musik. Akan tetapi, jenis musik manakah yang paling efektif?

Sampai saat ini, jenis musik yang paling sering dipelajari untuk para penderita epilepsi adalah Mozart’s Sonata in D major and K448 (atau lebih sering dikenal dengan Mozart K448). Hal ini lebih sering dikenal dengan nama the Mozart Effect. Istilah Mozart Effect ini sendiri sudah mulai digunakan jauh sebelum penelitian terbaru ini dimulai, yaitu di tahun 1993. Metode yang dilakukan kurang lebih sama, yaitu memperdengarkan jenis musik Mozart ini selama 10-15 menit kepada penderita epilepsi. Hasilnya, para penderita epilepsi memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, seperti menggunting kertas atau melipat kertas.

Berbagai bukti manfaat Mozart’s Sonata in D Major (K448) pada penderita epilepsi

Sejak 1993, banyak peneliti dan dokter yang mencoba mengaplikasikan musik Mozart K448 ini kepada pasien epilepsi. Berikut di antaranya:

  1. Di tahun 1998, ilmuwan meminta 29 orang penderita epilepsi untuk mendengarkan musik Mozart K448 sambil dipasang alat electroencephalogram di kulit kepala mereka. Hasilnya, 23 dari 29 orang yang ikut tes ini memiliki aktivitas epileptik pada otak mereka lebih rendah dibandingkan sebelum mereka mendengarkan musik tersebut.  
  2. Pada tahun 2011, para ilmuwan memperdengarkan musik Mozart K448 kepada 58 anak-anak di Taiwan. Dari antara 58 anak-anak ini, ada yang menderita focal epilepsi (epilepsi yang mengenai 1 bagian otak), dan ada juga yang menderita generalised epilepsi (epilepsi yang menyerang seluruh bagian otak). Dengan metode yang sama menggunakan electroencephalogram, hasil dari penelitian menunjukkan bahwa setelah mendengarkan musik tersebut, aktivitas epileptik di otak pada 47 dari 58 anak-anak tersebut menurun. Aktivitas epileptik ini terus menurun seiring semakin lamanya musik diperdengarkan pada anak-anak tersebut.
  3. Kembali di Taiwan di tahun 2011, 11 anak-anak yang menderita epilepsi referat (epilepsi yang sangat sukar disembuhkan) diperdengarkan dengan musik Mozart K448. Anak-anak ini memiliki kesulitan untuk belajar. Sebelum diperdengarkan dengan musik ini, jumlah serangan epilepsi pada anak-anak ini selama 6 bulan dihitung. Setelah itu, anak-anak ini diperdengarkan dengan musik Mozart K448 sekali sehari sebelum mereka tidur selama 6 bulan. Hasilnya, 8 dari 11 anak itu tidak mendapat serangan epilepsi, atau mendapat serangan yang jauh lebih ringan, di bulan-bulan ketika mereka mendengarkan musik tersebut.
  4. 73 orang dewasa dan anak-anak penderita epilepsi referat di Amerika Serikat diperdengarkan musik Mozart K448 saat mereka tidur. 73 orang ini dikategorikan dalam 2 kelompok, kelompok pertama adalah kelompok yang diperdengarkan musik Mozart K448 saat mereka tidur, dan yang kelompok kedua tidak diperdengarkan musik. Hasilnya, 80% dari orang-orang di kelompok pertama menjadi mendapat serangan yang lebih ringan, dan 24% di antaranya terbebas dari serangan epilepsi.

Memang sejauh ini, penelitian lebih banyak difokuskan pada Mozart K448, akan tetapi belum tentu musik-musik lain tidak bisa membantu. Seperti penelitian yang paling baru dilakukan, dengan musik lain sekalipun, ada kemajuan aktivitas gelombang otak pada para penderita epilepsi. Setiap orang merespons kepada musik dengan cara yang berbeda-beda. Oleh karena itu, cobalah bereksperimen dengan berbagai macam jenis musik, dan tetap perhatikan apa efeknya pada Anda.

Terapi musik sebagai terapi yang menjanjikan bagi para penderita epilepsi

Masih perlu dilakukan penelitian untuk benar-benar membuktikan bahwa musik bisa jadi salah satu alternatif terapi untuk para pasien epilepsi. Para ilmuwan percaya bahwa terapi musik adalah terapi yang menjanjikan untuk menolong para pasien epilepsi. Sampai saat ini, memang musik terapi belum digunakan untuk menggantikan terapi-terapi yang digunakan saat ini untuk penderita epilepsi. Dan memang, tujuan terapi musik ini bukan menggantikan terapi yang sudah ada. Akan tetapi, terapi musik ini bisa jadi metode yang dikombinasikan dengan terapi-terapi yang sudah ada untuk membantu menanggulangi epilepsi.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

6 Penyebab Otak Anda Sulit Mengingat dan Mudah Lupa

Baru kenalan 5 menit yang lalu, sudah lupa namanya? Ada janji nanti sore, tapi Anda tak ingat? Ini berbagai penyebab sulit mengingat yang Anda alami.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Hidup Sehat, Fakta Unik 22/07/2020 . Waktu baca 4 menit

5 Hal yang Sering Jadi Penyebab Mati Rasa pada Kaki dan Tangan

Mati rasa sering terasa pada jari, tangan, kaki, lengan, maupun telapak kaki Anda. Apa sebenarnya yang menjadi penyebab mati rasa?

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Hidup Sehat, Fakta Unik 22/07/2020 . Waktu baca 3 menit

5 Manfaat Buah Melon yang Menyehatkan Tubuh

Suka makan buah melon? Tapi, tahukah Anda kalau manfaat buah melon sangat baik untuk kesehatan tubuh manusia? Apa saja manfaatnya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Fakta Unik 22/07/2020 . Waktu baca 3 menit

5 Jenis Makanan yang Bikin Kita Sering Kentut

Bila dalam satu hari rasa ingin buang angin datang terlalu sering, lama-lama Anda tentu kewalahan. Apa saja makanan pemicu sering kentut?

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Hidup Sehat, Fakta Unik 21/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

manfaat virgin coconut oil minyak kelapa dara; virgin coconut oil

Manfaat Virgin Coconut Oil untuk Kesehatan

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 04/08/2020 . Waktu baca 4 menit
minum madu

Minum Madu Setelah Minum Obat, Boleh atau Tidak?

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 27/07/2020 . Waktu baca 3 menit

Tidur yang Sehat, Dengan Lampu Menyala atau Mati?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Dipublikasikan tanggal: 23/07/2020 . Waktu baca 4 menit
apa itu power nap

Menguak Manfaat Power Nap dan Bedanya Dengan Tidur Siang Biasa

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 23/07/2020 . Waktu baca 4 menit