7 Faktor yang Membuat Anda Berisiko Terkena Demensia

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Demensia adalah sekumpulan gejala yang ditandai dengan penurunan kemampuan otak untuk berpikir, mengingat, dan berkomunikasi akibat kematian sel-sel otak. Demensia belum diketahui pasti apa penyebabnya. Meski begitu, ada beberapa hal yang bisa meningkatkan risiko Anda mengalami demensia di usia lanjut. Apa saja itu?

Beragam faktor risiko penyebab demensia adalah…

1. Usia

Meski penyebab pastinya belum diketahui, demensia umum terjadi pada orang-orang usia lanjut.

Demensia telah lama dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif otak sebagai efek samping penuaan alami. Itu sebabnya semakin tua usia Anda, semakin besar risiko Anda mengalami demensia. Diperkirakan 1 dari 14 lansia berusia 65 tahun hidup dengan demensia, dan pada 1 dari 6 orang usia 80 tahun ke atas.

Penuaan tidak hanya menyebabkan keriput di wajah dan uban di rambut kepala Anda, tapi juga melemahkan sistem kekebalan tubuh dan kemampuannya untuk memperbaiki sel-sel yang rusak — termasuk sel-sel saraf di otak. Usia tua juga menyebabkan kerja jantung untuk memompa darah segar tidak lagi seoptimal dulu. Otak yang tidak mendapatkan cukup darah segar lama-lama bisa mengalami penyusutan, yang kemudian memengaruhi fungsinya.

Faktor-faktor inilah yang diduga kuat memengaruhi risiko seseorang mengalami demensia di usia senja.

2. Penyakit yang Anda alami

Demensia bukanlah penyakit, melainkan serangkaian gejala yang bisa menandakan adanya penyakit. Banyak penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya demensia, seperti Alzheimer, Parkinson, hingga gangguan peredaran darah (stroke dan aterosklerosis) yang bisa disebabkan oleh kolesterol tinggi.

Penumpukan plak kolesterol dapat mempersempit pembuluh darah sehingga mengganggu aliran darah ke otak. Ini dapat merusak kemampuan sel otak untuk berfungsi dengan baik dan pada akhirnya dapat menyebabkan kematian sel-sel otak.

Diabetes pun ternyata memiliki andil terhadap peningkatan risiko demensia, yang seringnya tidak disadari. Sama seperti kolesterol tinggi, diabetes yang tidak terkontrol lama-lama dapat merusak pembuluh darah, termasuk pembuluh darah yang mengarah ke otak, juga dan saraf-saraf yang ada di otak.

3. Malas berolahraga

Jika Anda selama ini selalu menunda-nunda untuk mulai olahraga, ada baiknya untuk segera bulatkan niat dan pakai sepatu olahraga Anda. Ya! Tak disangka-sangka, faktor risiko lainnya dari demensia adalah kurangnya aktivitas fisik Anda sehari-hari.

Pasalnya, minim waktu berolahraga dapat meningkatkan risiko Anda terhadap berbagai penyakit kronis yang memengaruhi fungsi otak. Misalnya saja, penyakit jantung, gangguan sirkulasi darah, kelebihan berat badan atau obesitas, hingga diabetes — semua hal ini merupakan faktor risiko dari demensia. Selain itu, orang dewasa yang memasuki usia senja dan tidak berolahraga secara teratur akan lebih mungkin mengalami masalah dengan memori atau kemampuan berpikir.

Oleh karena itu, mulailah biasakan beraktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari atau minimal 3-5 hari dalam seminggu (total 150 menit dalam seminggu). Tidak perlu berolahraga yang berat. Anda bisa memulainya dengan jalan kaki keliling komplek, bersepeda, atau berenang. Biasakan juga untuk tidak terlalu lama duduk. Ketika bekerja di kantor, luangkan waktu untuk melakukan peregangan atau bangkit dari kursi untuk jalan-jalan sebentar (entah itu untuk ambil minum atau ke toilet).

4. Pola makan tidak sehat

Pola makan Anda selama ini secara tidak langsung juga ikut berperan terhadap risiko demensia di masa depan. Kebanyakan makan makanan berlemak, yang terlalu banyak garam, juga terlalu banyak asupan gula dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan yang memengaruhi kesehatan jantung, pembuluh darah, dan otak yang menjadi pemicu demensia.

5. Aktif merokok

Penelitian dalam Jurnal Plos One tahun 2015 menunjukan bahwa perokok aktif berisiko hingga 30% lebih tinggi untuk mengalami demensia daripada non-perokok. Semakin lama Anda terbiasa merokok dan semakin banyak batang rokok yang Anda habiskan, maka risiko demensia ikut meningkat.

Merokok dapat merusak pembuluh darah tubuh, mengganggu sirkulasi darah, dan meningkatkan risiko Anda terhadap penyakit jantung. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan kenapa perokok lebih mungkin untuk mengalami demensia daripada orang yang tidak merokok.

6. Cedera kepala

Barang kejedot sedikit atau benturan yang lumayan keras, Anda mungkin sudah sering mengalaminya. Namun, cedera kepala tidak boleh disepelekan. Cedera kepala yang parah dapat mengakibatkan kerusakan otak.

Dilansir dari laman Everyday Health, studi tahun 2014 menunjukan bahwa orang yang berusia 55 tahun ke atas yang menderita cedera otak berisiko lebih tinggi mengalami demensia, sementara bahkan cedera otak ringan bisa meningkatkan risiko terjadinya demensia pada lansia 65 tahun ke atas.

Selalu lindungi kepala Anda dengan perangkat pelindung yang sesuai, seperti helm atau masker wajah, apabila profesi Anda memiliki risiko cedera yang tinggi. Juga, selalu pastikan Anda memakai sabuk pengaman atau helm selama berkendara untuk menghindari trauma kepala akibat kecelakaan.

7. Depresi

Faktor risiko lainnya dari demensia adalah depresi. Meski begitu, kaitan antar keduanya sangatlah kompleks. Satu studi bahkan melaporkan bahwa depresi dapat menggandakan risiko demensia. Depresi diduga kuat menjadi penyebab demensia di usia lanjut lantaran gejala depresi yang membuat seseorang menarik diri dari lingkungan sekitarnya. Isolasi sosial lama-kelamaan dapat berdampak negatif pada fungsi dan kesehatan otak.

Selain itu, apabila Anda mengalami depresi dan memiliki penyakit stroke, hal ini juga akan meningkatkan risiko demensia hingga 5 kali lipat. Sementara apabila Anda memiliki depresi dan hipertensi, risiko demensia Anda bisa meningkat hingga 3 kali lipat.

Depresi bisa dicegah dan/atau dikelola dengan perubahan gaya hidup sehat, seperti rutin berolahraga dan pola makan sehat. Jika Anda diresepkan obat antidepresan, konsumsi obat sesuai anjuran dokter. Jangan hentikan atau mengubah dosisnya sendiri, tanpa sepengetahuan dokter, untuk mencegah risiko efek samping yang merugikan.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca