Hati-hati, Sembarang Minum 4 Obat Ini Dapat Merusak Saraf Mata

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 31/08/2019
Bagikan sekarang

Setiap obat, yang dijual bebas atau yang pakai resep dokter, punya aturan pakai dan dosisnya masing-masing. Kenapa? Aturan pakai dibuat sedemikian rupa dan harus dipatuhi setiap orang yang menggunakannya agar obat bekerja efektif. Selain itu, menaati aturan pakai obat juga menghindari Anda dari risiko efek samping yang justru berbalik merugikan kesehatan. Berikut adalah empat jenis obat yang efek sampingnya dapat merusak saraf mata jika digunakan sembarangan.

Obat yang dapat merusak mata jika digunakan sembarangan

Setiap obat di bawah ini dibuat khusus untuk mengobati penyakit atau masalah kesehatan tertentu, dan sudah terbukti aman. Namun, cara menggunakannya yang keliru atau sembarangan dapat membahayakan kesehatan mata.

1. Obat malaria

Obat malaria seperti chloroquine dan hydroxychloroquine dapat menyebabkan merusak lapisan saraf mata (retina) jika diminum lebih dari batasan dosis maksimalnya dalam sehari.

Asupan total dosis chloroquine yang lebih dari 300 gram per hari dapat meracuni retina. Untungnya, saat ini klorokuin sudah jarang digunakan karena ada jenis obat malaria lain yang lebih aman dan efektif.

Lain halnya dengan hydroxychloroquine yang masih umum digunakan untuk mengobati malaria. Maka jika Anda diresepkan obat ini, perhatikan dan taatilah aturan pakai serta takaran dosisnya.

Risiko kerusakan retina akibat pemakaian hydroxychloroquine dapat meningkat drastis apabila total dosis dalam tubuh sampai melebihi 1000 gram, atau pemberian dosis yang melebihi 6.5 mg/kg/hari.

Gejala yang dirasakan dapat berupa penurunan tajam penglihatan atau timbulnya bintik/bercak hitam pada area penglihatan.

Sebelum dokter meresepkan ini biasanya Anda akan disarankan untuk melakukan pemeriksaan tajam penglihatan, lapang pandang, dan kemampuan melihat warna.

2. Antiesterogen

Efek samping obat antiestrogen seperti tamoxifen untuk mengobati kanker jarang sampai bisa merusak mata. Apalagi jika pemberian dosis obat masih dalam takaran yang dapat ditoleransi tubuh, yaitu 20-40 mg per hari.

Namun, pemberian dosis tinggi yang melebihi 180 mg per hari selama satu tahun dapat menyebabkan retinopati. Gejalanya berupa penglihatan buram taraf ringan.

Sementara pada beberapa kasus ditemukan adanya peradangan pada batang saraf mata, yang menyebabkan penglihatan buram serius. Peradangan batang saraf mata juga dapat menyebabkan penurunan kemampuan membedakan warna, dan nyeri pada daerah belakang mata.

Menghentikan penggunaan obat dapat menghentikan proses peradangan, tapi harus dengan izin dan di bawah pengawasan dokter.

3. Obat TBC

Etambutol merupakan obat TBC (tuberkulosis) yang paling sering merusak batang saraf mata jika pemberian dosisnya melebihi 35 mg/kg berat badan. Kerusakan mata umumnya baru terasa setelah menjalani pengobatan selama 3-6 bulan.

Gejala yang timbul berupa penglihatan buram pada kedua mata tanpa disertai rasa nyeri dan gangguan penglihatan warna.

Menghentikan dosis obat dapat menyembuhkan sebagian besar gangguan tajam penglihatan dan gangguan penglihatan warna. Namun untuk itu Anda harus diskusi dulu dengan dokter. Hanya dokterlah yang bisa dan berhak menghentikan dosis obat Anda setelah mempertimbangkan beragam faktor.

Tes buta warna Ishihara dan pemeriksaan tajam penglihatan rutin sebelum dan selama pengobatan dapat membantu mendeteksi kerusakan lebih dini.

4. Obat epilepsi

Obat epilepsi (antikejang) seperti vigabatrin dapat mengganggu batang saraf mata, tapi jarang sampai menurunkan tajam penglihatan.

Masalah mata yang terjadi pada kurang lebih sepertiga pengguna obat ini adalah gangguan lapang pandang (berkurangnya luas area penglihatan). Gangguan lapang pandang yang dialami dapat berupa penyempitan pada seluruh area penglihatan ataupun hanya pada daerah hidung.

Sayangnya, penghentian penggunaan obat tidak akan mengembalikan lapang pandang yang sudah rusak. Pemeriksaan rutin luas lapang pandang setiap 3-6 bulan merupakan satu-satunya cara untuk mencegah kerusakan meluas.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Jangan Sampai Pengobatan Gagal, Ini Tips Taat Aturan Minum Obat TBC

Jika tak mematuhi aturan minum obat TBC dengan benar, penderita bisa mengalami efek samping yang lebih merugikan. Ikuti tips ini agar tidak lupa!

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Fidhia Kemala

4 Obat Herbal yang Efek Sampingnya Meningkatkan Risiko Penyakit Hati

Obat herbal digunakan sebagai alternatif untuk mengobati suatu penyakit. Namun, ada beberapa daftar obat herbal yang bisa meningkatkan penyakit hati.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji

10 Pilihan Obat Herbal untuk Kanker Payudara Berdasarkan Penelitian

Banyak orang yang mencari rekomendasi obat herbal untuk membantu mengobati kanker payudara. Dari sekian banyak, mana yang sudah terbukti?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini

Paramex

Paramex adalah obat sakit kepala. Cari tahu informasi dosis dan cara pakai Paramex di Hello Sehat. Termasuk risiko efek samping dan keamanannya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph

Direkomendasikan untuk Anda

cara menyimpan obat padat

Jangan Sembarangan, Berikut Cara Menyimpan Obat Padat yang Benar

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 17/04/2020
vasodilator

Vasodilator, Obat untuk Memperlebar Pembuluh Darah

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 16/03/2020
obat antimalaria mengatasi covid-19

Peneliti Tiongkok Pastikan Obat Antimalaria Bisa Mengatasi COVID-19

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 24/02/2020
manfaat artemisia annua

Mengenal Artemisia Annua, Herbal yang Berpotensi Basmi Kanker dan Malaria

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 18/11/2019