Monosodium glutamat atau yang biasa kita kenal dengan sebutan MSG, merupakan salah satu bahan yang sering digunakan sebagai bahan masakan yang dapat membuat makanan tambah sedap dan nikmat. Namun, banyak yang bilang penyedap rasa ini bisa bikin otak jadi ‘lemot’. Apa benar begitu? Simak faktanya di bawah ini!

Mengenal monosodium glutamat alias MSG

Monosodium glutamat terdiri dari air, natrium, dan glutamat. Glutamat sebenarnya juga terkandung dalam susu, keju, daging, ikan, dan pada beberapa sayuran. Nah, kandungan glutamat inilah yang membuat makanan terasa lebih nikmat.

Kandungan asam glutamat yang terdapat pada penyedap rasa akan membuat sel-sel saraf otak lebih aktif dan menciptakan rasa nikmat pada makanan.

Apa benar makan MSG bikin otak jadi ‘lemot’?

Selama ini kebanyakan efek samping yang dilaporkan setelah mengonsumsi makanan yang mengandung MSG memang terjadi pada sistem saraf di otak. Karena itu, MSG dianggap secara tidak langsung bisa membuat seseorang jadi ‘lemot’. Eits, tunggu dulu. Sebenarnya apa itu ‘lemot’?

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan menurunnya fungsi kognitif otak. Fungsi kognitif otak antara lain adalah berpikir secara logis, mengambil keputusan, merekam informasi ke dalam ingatan, menyelesaikan masalah, dan menjaga konsentrasi.

Lalu apa hubungannya penyedap rasa dengan kemampuan otak manusia? Begini, di otak ada banyak saraf yang bertugas sebagai penerima rangsangan. Saraf-saraf yang bertugas untuk menerima rangsangan disebut reseptor. Letaknya yaitu di bagian otak bernama hipotalamus.

Nah, glutamat dalam penyedap rasa punya banyak reseptor yang ada di hipotalamus. Karena itu, efek kebanyakan glutamat di otak bisa membahayakan. Reseptor-reseptor dalam otak jadi terstimulasi (terangsang) secara berlebihan akibat kadar glutamat yang tinggi. Bila terus-terusan terjadi, alhasil aktivitas reseptor yang berlebihan malah bisa sebabkan kematian neuron. Neuron sendiri adalah sel-sel saraf di otak.

Padahal, neuron berperan sangat penting untuk menjalakan fungsi kognitif otak. Kematian neuron berarti fungsi kognitif otak akan menurun alias ‘lemot’.

Selain itu, monosodium glutamat juga memiliki efek buruk lainnya bagi sistem saraf, yang akan menyebabkan timbulnya sakit kepala, insomnia, dan kelelahan. Ditambah lagi, monosodium glutamat juga dapat menimbulkan gejala-gejala depresi dan kecemasan. Hal-hal tersebut tentu dapat mempengaruhi kinerja seseorang dan dapat berdampak negatif.

Jadi, apakah MSG berbahaya?

Berdasarkan pendapat dari Food and Drug Administration (FDA), walaupun terdapat kontroversi terhadap MSG, FDA masih mengkategorikan MSG dalam kategori aman dikonsumsi, walaupun FDA pernah mendapatkan laporan mengenai adanya beberapa reaksi seperti, nyeri kepala, berkeringat, rasa baal dan panas pada wajah, jantung berdegup kencang, nyeri dada dan mual muntah. Namun, berdasarkan pendapat yang dikutip dari laman mayoclinic, dikatakan bahwa belum didapatkan adanya hubungan yang pasti antara gejala tersebut dengan MSG.

Berapa batas aman mengkonsumsi MSG?

Berdasarkan dari bacaan yang dikutip dari healthline.com, dikatakan bahwa gejala akan sensitivitas terhadap MSG (seperti perasaan nyeri kepala, baal dan kelemahan) baru akan muncul bila kita mengonsumsi MSG dengan dosis 3 gram.

Selain itu dalam laman tersebut juga dikatakan bahwa MSG memiliki efek berbahaya bagi sistem saraf kita bila kita mengonsumsi dalam jumlah yang sangat berlebih, yaitu sebanyak 6-30 kali lebih banyak dari dosis seharusnya.

Jadi, sama seperti konsumsi gula atau garam, MSG tidak menimbulkan masalah kesehatan jika dikonsumsi tidak berlebihan.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca