Joy of Missing Out (JOMO), Saat Anda Tidak Takut Melewatkan Tren

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 25 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Jika biasanya Anda mendengar istilah FOMO atau fear of missing out, kini ada istilah lain dengan makna berlawanan yang dikenal dengan nama JOMO. Katanya, menerapkan JOMO pada kehidupan sehari-hari bisa membuat hidup Anda menjadi lebih bahagia. Lantas, apa itu JOMO?

Apa itu JOMO (joy of missing out)?

sering bicara sendiri, normal atau tidak?

Di era media sosial seperti sekarang, banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi yang paling up-to­-date agar bisa mengukuhkan keeksistensiannya di dunia digital.

Setiap hari, mereka akan berkutat di akun sosialnya dan selalu mengikuti hal-hal baru yang sedang digandrungi banyak orang. Mereka seakan dikejar-kejar oleh tren dan tak mau dicap kurang gaul. Perasaan takut tertinggal inilah yang kerap disebut FOMO.

Tak hanya itu, orang-orang yang mengalami FOMO seringnya ingin selalu bergabung pada kegiatan-kegiatan sosial, mereka kerap kesulitan saat menolak undangan untuk berpesta. Mereka merasa memiliki kebutuhan untuk selalu terhubung dengan orang lain.

Terkadang, mereka juga kerap membandingkan diri dengan orang lain. Karena melihat unggahan dari teman-temannya di media sosial, mereka jadi merasa bahwa hidupnya tak menyenangkan. Jika terus dibiarkan, hal ini tentu dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental.

Oleh sebab itu, muncullah istilah bernama JOMO yang mulai digaungkan sebagai hal yang sangat berlawanan dari FOMO. JOMO atau joy of missing out adalah istilah yang merujuk pada tindakan untuk tidak terlibat dalam kegiatan tertentu, terutama yang berkaitan dengan media sosial atau sumber hiburan lainnya.

apa itu jomo

JOMO didefinisikan sebagai perasaan kepuasan diri di mana seseorang sudah merasa cukup dengan hidupnya sehingga mereka merasa bebas dan lebih fokus pada hal-hal yang mereka senangi. Mereka yang menerapkan JOMO cenderung lebih tenang menjalani hidup tanpa takut melewatkan kesenangan bersama teman-teman.

Adanya istilah JOMO diharapkan dapat melatih seseorang untuk mengendalikan obsesi yang berlebih, salah satunya dengan membatasi penggunaan media sosial.

Efek media sosial sudah banyak diketahui dapat memberikan pengaruh yang besar pada kesehatan mental, terutama di kalangan remaja. Tak jarang mereka dilanda perasaan kesepian dan stres setelah melihat akun media sosial orang lain.

Selain itu dengan beristirahat sejenak dari media sosial, Anda mungkin akan menemukan aktivitas lain yang tak kalah menyenangkan. Menemukan kebahagiaan dari hal-hal sederhana inilah yang juga menjadi tujuan JOMO.

Bagaimana menerapkan JOMO pada keseharian?

Salah satu hal yang ingin ditekankan dalam praktik JOMO adalah menyisakan lebih banyak waktu, tenaga, dan emosi untuk benar-benar dipilah mana yang harusnya jadi prioritas utama. Berikut hal yang bisa Anda lakukan untuk memulainya.

  • Susun rencana untuk melakukan sesuatu yang bisa menghubungkan Anda dengan orang-orang terdekat. Bisa dengan janji bertemu di kedai kopi, jalan-jalan sore di taman dengan keluarga, atau melanjutkan lukisan yang belum terselesaikan. Kegiatan ini akan membantu mengalihkan perhatian Anda dari pikiran tentang kehidupan orang lain.
  • Matikan notifikasi agar tak muncul di beranda ponsel Anda, kecuali jika notifikasi tersebut merupakan surel yang berhubungan dengan pekerjaan atau hal-hal penting lainnya.
  • Keluarlah dari akun media sosial, berhenti mengikuti akun dari orang-orang yang dapat memicu perasaan negatif. Tetapkan batas harian seberapa lama Anda menghabiskan waktu di media sosial, bila perlu Anda juga bisa menghapus aplikasinya untuk sementara waktu.
  • Anda tak selalu harus mengiyakan ajakan untuk pergi melakukan kegiatan atau datang ke acara sosial jika memang tak masuk prioritas. Sisakan waktu untuk berdiam diri di rumah dan lakukan kegiatan yang Anda senangi.

Anda tak perlu merasa terdesak untuk segera melakukan semua langkah di atas. Jika meninggalkan media sosial untuk beberapa lama terlalu memberatkan, Anda juga bisa memulai dengan menyisakan satu hari untuk libur dari penggunaan berbagai aplikasinya.

Ingatlah bahwa menerapkan JOMO (joy of missing out) bukan berarti Anda harus benar-benar menghilang dan tidak bersosialisasi dengan orang lain.

JOMO justru membantu Anda untuk mulai membangun koneksi yang lebih dalam dengan orang-orang di sekitar seperti keluarga atau sahabat. Niscaya, jika dilakukan dengan tepat, Anda akan merasa lebih bahagia dalam menjalani hidup.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Direkomendasikan untuk Anda

FOMO adalah

Mengenal FoMO, Fenomena Takut Ketinggalan Berita yang Mengancam Kesehatan Jiwa

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 8 Februari 2018 . Waktu baca 4 menit