Dari Mimpi Basah Sampai Mimpi Jatuh ke Jurang: Kenapa Kita Bermimpi?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Maret 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Selama berabad-abad, manusia telah merenungkan arti mimpi. Di awal peradaban manusia, mimpi diartikan sebagai perantara dunia fana dengan dunia para dewa-dewi. Orang-orang Yunani dan Romawi Kuno percaya bahwa mimpi memiliki kekuatan keilahian tertentu, sebuah pesan langsung dari Tuhan. Sejak saat itu, selalu ada minat yang besar dalam upaya menafsirkan mimpi manusia.

Mimpi bisa menghibur, mengganggu, atau benar-benar aneh. Kita semua bermimpi — bahkan jika kita tidak ingat di hari berikutnya. Tapi, kenapa kita bermimpi? Dan, apa, sih, sebenarnya arti mimpi?

Mengapa kita bermimpi?

Teori modern mimpi mulai diperkenalkan oleh dua psikolog legendaris, Sigmund Freud dan Carl Jung. Teori Freud berpusat pada gagasan bahwa mimpi adalah hasrat, kerinduan, motivasi, keinginan yang terpendam — bermimpi memungkinkan sang pemimpi untuk memilah dan menyadari keinginan yang terpendam. Sementara itu, Carl Jung, murid Freud, percaya bahwa mimpi adalah refleksi emosi saat kita terjaga, sekaligus semacam “panggilan” alam bawah sadar yang memungkinkan kita untuk mencari titik temu masalah atau kegusaran tertentu.

Meski banyak pemikir yang percaya bahwa mimpi kita memiliki satu arti tertentu, yang lainnya berpikir mimpi hanyalah aktivitas otak selama tidur; mimpi adalah impuls listrik otak yang menarik pikiran acak dan gambar dari ingatan kita. Menurut teori ini, manusia membangun sebuah cerita yang kita sebut “mimpi” setelah terbangun, sebagai upaya alami untuk membuatnya masuk akal.

Namun, sejumlah penelitian terbaru yang disusun dalam Journal of Neuroscience, dilansir dari Scientific American, memberikan wawasan yang menarik dalam upaya menafsirkan mekanisme yang mendasari mimpi, dan hubungan kuat antara mimpi saat kita tertidur dengan ingatan jangka panjang. Pernahkah Anda terbangun di pagi hari dan ingat dengan sangat jelas jalan cerita mimpi Anda? Para peneliti percaya bahwa mekanisme sistem saraf otak saat menyutradarai mimpi dan saat kita mengingatnya sama dengan saat kita mengingat-ingat kenangan di waktu terbangun. Mereka juga menemukan bahwa mimpi yang sangat aneh, intens, terasa sangat nyata (jenis mimpi yang biasanya diingat si pemimpi) terkait dengan kerja amigdala dan hippocampus otak. Amigdala adalah pemeran utama dalam pengolahan dan daya ingat reaksi emosional, semetara hippocampus lebih terlibat dalam fungsi ingatan penting — penguatan informasi dari ingatan jangka pendek dan jangka panjang.

Penelitian lain menemukan bahwa produksi mimpi mengambil tempat di area otak bernama right inferior lingual gyrus, struktur otak yang terkait dengan visi pengolahan kenangan visual, analisis urutan peristiwa, dan emosi.

Tak peduli apa dan siapa yang memulai teori mimpi, tampaknya para pakar kini bisa sepakat bahwa mimpi mungkin hadir untuk membantu manusia memproses emosi dengan sandi dan membangun kenangan dari sandi dan kode-kode ini — meskipun tidak tentu benar terbukti. Apa yang kita lihat dan alami dalam mimpi kita belum tentu nyata, tetapi emosi yang melekat pada pengalaman-pengalaman ini benar nyata. Cerita mimpi kita pada dasarnya mencoba untuk menghapus emosi tertentu dari pengalaman tertentu dengan menciptakan kembali memori itu; membantu kita mengatasi trauma lebih lanjut atau peristiwa stres. Dengan cara ini, emosi itu sendiri tidak lagi aktif. Mekanisme mimpi memenuhi peran penting karena ketika kita tidak memproses emosi kita, terutama yang negatif, hal ini meningkatkan kekhawatiran dan kecemasan dalam diri — yang ironisnya, memicu mimpi buruk.

Singkatnya, mimpi membantu mengatur lalu lintas di jembatan rapuh yang menghubungkan pengalaman dunia nyata dengan emosi dan kenangan yang Anda simpan di setiap liuk otak paling dalam.

Siapa saja yang bermimpi?

Bukti dari penelitian laboratorium menunjukkan bahwa semua orang bermimpi. Meskipun persentase kecil mungkin tidak ingat bermimpi sama sekali atau mengklaim bahwa mereka tidak bermimpi, ia berpikir bahwa kebanyakan orang bermimpi antara 3 sampai 6 kali malam, dengan masing-masing mimpi berlangsung antara 5 sampai 20 menit. Meski begitu, perempuan mengalami durasi mimpi yang sedikit lebih lama dengan karakter yang lebih banyak daripada mimpi laki-laki.

Ingatan akan mimpi semakin menurun dari mulai dewasa awal — bukan di usia tua — dan laporan menyatakan bahwa semakin menua, mimpi menjadi kurang intens. Evolusi ini terjadi lebih cepat pada pria daripada wanita. Menurut sejumlah kecil makalah penelitian, frekuensi mimpi pada pasien demensia degeneratif lebih jarang dari orang tua yang sehat. Pada penyakit Alzheimer, sedikitnya mimpi ini dapat dikaitkan dengan penurunan tidur REM dan pembuangan dari daerah sensorik asosiatif di lapisan luar otak. Sebuah kondisi klinis yang sangat langka, dikenal sebagai Charcot-Wilbrand Syndrome telah diketahui menyebabkan penderitanya (di antara gejala neurologis lainnya) kehilangan kemampuan untuk bermimpi. Sedangkan, orang-orang dengan narkolepsi memiliki garis cerita mimpi yang lebih aneh dan berkesan negatif. Penderita migrain mengalami peningkatan frekuensi rasa dan bau dalam mimpi.

Mamalia lain seperti kucing dan tikus juga “bermimpi”. Mereka melihat pancaran gambar-gambar selama tidur nyenyak, meskipun mungkin tidak mimpi seperti yang kita kenal. Sotong menunjukkan keadaan mirip tidur yang disertai dengan perubahan warna, berkedut, dan gerakan mata yang cepat, mirip dengan tidur REM pada manusia.

Mengapa kita sulit untuk mengingat mimpi?

Para peneliti tidak tahu pasti mengapa mimpi mudah dilupakan. Mungkin manusia dirancang untuk melupakan mimpi karena jika kita ingat semua impian kita, kita tidak mungkin bisa membedakan mana yang mimpi atau imajinasi dan mana yang berupa kenangan nyata.

Selain itu, mungkin sulit untuk mengingat mimpi karena selama tidur REM tubuh kita sebagian mematikan sistem di otak bertanggung jawab untuk menciptakan kenangan. Kita hanya dapat mengingat mimpi yang terjadi tepat sebelum kita bangun, ketika kegiatan otak tertentu telah diaktifkan kembali.

Ada yang mengatakan pikiran kita tidak benar-benar lupa terhadap mimpi, kita hanya tidak tahu bagaimana untuk mengaksesnya. Mimpi dapat disimpan dalam ingatan kita, menunggu untuk dipanggil kembali. Gagasan ini mungkin menjelaskan mengapa Anda mungkin tiba-tiba ingat mimpi Anda semalam di kemudian hari, saat sedang makan siang, misalnya — sesuatu yang terjadi di hari itu mungkin memicu memori Anda.

Orang yang terbangun selama REM memiliki ingatan tentang mimpi yang jauh lebih baik, ungkap sejumlah penelitian; faktanya, orang-orang ini sering akan mengatakan mereka baru saja bermimpi.

Mimpi jernih, alias lucid dream — mimpi yang Anda sutradarai sendiri

Pernahkah Anda bermimpi tapi Anda tahu dan merasa sangat yakin benar bahwa itu hanyalah mimpi? Mimpi jenis ini disebut dengan lucid dream (mimpi jernih). Penelitian telah menunjukkan bahwa mimpi jernih disertai dengan peningkatan aktivasi bagian otak yang biasanya dimatikan selama tidur. Mimpi jernih mewakili keadaan otak yang berada di ambang tidur REM dan kondisi terjaga.

Beberapa orang yang bermimpi jernih mampu mempengaruhi arah mimpi mereka, mengubah alur ceritanya sesuai keinginan mereka. Meskipun hal ini tampaknya menarik untuk dilakukan, terutama selama mimpi buruk, banyak ahli mimpi mengatakan untuk lebih baik membiarkan mimpi Anda terjadi secara alami.

“Rasanya pernah melihat orang itu sebelumnya, kok tiba-tiba muncul di mimpiku?”

Pernahkah Anda menyadari bahwa seringnya gambar, “cerita”, atau orang-orang yang muncul dalam mimpi adalah gambar, pengalaman, atau orang yang Anda lihat baru-baru ini?

Umumnya, rincian dari mimpi telah Anda saksikan sebelumnya, mungkin di hari sebelumnya atau seminggu sebelum mimpi itu. Proses mengingat sesuatu dari seminggu yang lalu dikenal sebagai efek dream-lag. Gambaran besarnya, beberapa jenis pengalaman memerlukan waktu seminggu untuk diproses ke dalam bentuk kode ke dalam “laci” memori jangka panjang, dan beberapa gambar dari proses penguatan ini akan muncul dalam mimpi.

Pemikir memori menunjukkan bahwa hippocampus (daerah jauh di dalam otak depan yang membantu mengatur emosi, belajar, dan memori) mencomot peristiwa dari hari sebelumnya, memilih beberapa untuk diekstrak ke dalam memori jangka panjang dan kemudian mulai memindahkan sandi-sandi ini ke neokorteks (lapisan atas otak yang dibagi menjadi empat lobus utama: frontal, parietal, temporal dan oksipital) untuk penyimpanan permanen. Proses transfer membutuhkan waktu sekitar seminggu. Bermimpi dapat berpartisipasi dalam relokasi penyimpanan memori dari hipokampus ke neokorteks dari waktu ke waktu.

Studi lain meneliti hubungan antara emosi mimpi dan identifikasi karakter dalam mimpi. Kasih sayang dan sukacita yang umumnya terkait dengan karakter yang dikenal oleh si pemimpi dan digunakan untuk mengidentifikasi mereka bahkan ketika perasaan emosional ini tidak konsisten dengan saat mereka terjaga. Ayo, siapa yang pernah bermimpi jatuh cinta dengan teman bangku sebelah yang super menjengkelkan itu? Meski malu untuk diakui, tapi kira-kira begitulah penjelasannya.

Bermimpi terjatuh dari jurang, apa artinya?

Anda tertidur, beringsut semakin dekat menuju alam mimpi, ketika tiba-tiba, Anda merasakan bahaya. Anda merasa diri Anda jatuh, mencoba untuk menangkap diri sendiri, dan tiba-tiba melompat terbangun kaget. Ada apa ini?

Anda mengalami gangguan tidur yang umum dikenal sebagai sentakan hypnic (juga kadang-kadang disebut “sentakan hypnagogic” atau “permulaan tidur,” dan mereka tidak selalu membangunkan si pemimpi). Tersentak hypnic adalah otot yang berkedut tanpa sadar, dikenal sebagai myoclonus — Cegukan juga termasuk dalam kategori ini. Para ilmuwan telah mengamati bahwa sentakan hypnic berhubungan dengan detak jantung yang cepat, pernapasan cepat, keringat, dan kadang-kadang “perasaan sensorik aneh akan ‘kejutan’ atau ‘jatuh ke dalam kekosongan.'”

Tidak ada yang tahu pasti apa yang menyebabkan fenomena ini, tetapi tampaknya ketika efek dari tidur baru akan mulai mengambil alih tubuh dan otak, “nyawa” terjaga Anda tampaknya kadang akan merayap kembali secara tak terduga, mengejutkan Anda hingga terbangun.

Sentakan “permulaan tidur” ini adalah hal yang umum dan tidak berbahaya, sering terjadi pada orang yang sangat sehat. Mereka kadang-kadang, meskipun tidak selalu, dipicu oleh kelelahan, stres, kurang tidur, olahraga berat, dan stimulan seperti kafein dan nikotin. Lain kali, jika Anda mengalaminya, cukup ambil napas dalam-dalam, rileks, dan coba untuk kembali tidur.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Dari Mana Datangnya Intuisi? Dan Kenapa Harus Kita Turuti?

    Setiap orang memiliki intuisi, sebagian mempercayai intuisinya dan sebagian lagi tidak. Sebenarnya, apa itu intuisi? Dan kenapa kita perlu mengikutinya?

    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Hidup Sehat, Fakta Unik 13 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

    Mana yang Lebih Sehat Buat Payudara: Bra Biasa Atau Berkawat?

    Saat memilih bra, Anda mungkin bimbang antara bra kawat atau bra biasa tanpa kawat. Yuk, simak pertimbangan dari para ahli berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Fakta Unik 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

    Apa Bedanya Eksim Basah dan Eksim Kering?

    Eksim adalah kondisi peradangan kulit yang membuat kulit gatal, memerah, dan pecah-pecah. Lantas, apa bedanya eksim kering dan eksim basah?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Kesehatan Kulit, Dermatitis 8 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

    Yang Perlu Ortu Lakukan Saat Memergoki Anak Masturbasi

    Mengetahui anak Anda melakukan masturbasi mungkin akan menimbulkan rasa kaget pada orang tua. Lalu bagaimana sebaiknya orang tua menyikapi hal tersebut?

    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Parenting, Tips Parenting 8 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    KDRT konflik rumah tangga

    Alasan Psikologis Mengapa Korban KDRT Susah Lepas dari Jeratan Pasangan

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
    tips menghindari perceraian

    7 Rahasia Menghindari Perceraian dalam Rumah Tangga

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
    alergi bawang putih

    Kenapa Ada Orang yang Mengalami Alergi Bawang Putih dan Bisakah Diobati?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
    bahaya cyber bullying

    Benarkah Bahaya Cyber Bullying Bisa Memicu Bunuh Diri?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Dipublikasikan tanggal: 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit