Jika kasus bunuh diri sudah banyak diberitakan, kasus melukai diri sendiri belum mendapat banyak perhatian dalam masyarakat. Bunuh diri akibatnya langsung nampak yaitu kematian, kecacatan, atau cedera serius. Sementara itu, akibat dari melukai diri sendiri atau self-injury biasanya ditutup-tutupi dan tidak bisa dilihat secara kasat mata.

Orang yang melukai diri sendiri tidak bisa dibedakan dari orang-orang lainnya dalam sekilas saja. Bahkan orang yang telah Anda kenal selama bertahun-tahun bisa jadi menyembunyikan kebiasaan tersebut. Tindakan yang ekstrem ini dilakukan karena berbagai alasan. Untuk memahami mengapa orang-orang tertentu memilih untuk sengaja melukai diri sendiri, simak informasi penting berikut ini.

Siapa yang rentan melukai diri sendiri?

Meskipun siapa saja bisa memulai kebiasaan tersebut, ada beberapa kelompok yang lebih rentan melakukannya. Berikut adalah orang-orang yang memiliki faktor risiko cukup tinggi melakukan self-injury berdasarkan banyaknya kasus yang ditemui hingga saat ini.

  • Remaja perempuan
  • Orang dengan riwayat kekerasan fisik, emosional, dan seksual
  • Orang dengan gangguan perilaku seperti kecanduan alkohol, kecanduan obat-obatan, gangguan makan, atau gangguan obsesif kompulsif (OCD)
  • Orang yang sulit mengendalikan atau mengungkapkan emosi
  • Orang yang dibesarkan dalam keluarga yang menentang amarah
  • Orang yang tidak memiliki sahabat, keluarga, atau kerabat yang bisa dipercaya

BACA JUGA: Apakah Anda Orang yang Pasif Agresif? Ini Ciri-cirinya

Mengapa seseorang melukai diri sendiri?

Biasanya kasus self-injury terjadi ketika seseorang menghadapi situasi dan perasaan yang sangat sukar dilalui. Meskipun beberapa orang sadar bahwa tindakan ini berbahaya dan salah, masih banyak juga yang tidak menyadari bahwa melukai diri sendiri bukanlah cara terbaik untuk mengelola kejadian, perasaan, atau memori yang disimpannya. Mereka justru berpikir bahwa melukai diri sendiri adalah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh. Inilah beberapa alasan utama mengapa mereka punya pikiran seperti itu.

1. Mengalihkan perhatian

Kadang orang memilih untuk melukai diri sendiri karena hal tersebut bisa membantu mereka mengalihkan perhatian dari hal-hal yang membuat mereka kewalahan atau trauma. Saat dilanda berbagai persoalan hidup, benak pun jadi sangat penuh dan bising dengan berbagai masalah dan hal-hal yang bersifat negatif. Saat sibuk menyayat diri atau melakukan hal serupa yang bisa menimbulkan rasa sakit atau luka, seseorang jadi bisa memadamkan sebentar suara-suara yang mengganggu di dalam benaknya. Ini karena rasa sakit yang dirasakan saat itu bisa mengalihkan pikirannya dari masalah yang dihadapi.  

BACA JUGA: 7 Reaksi Psikologis yang Anda Lakukan Dalam Situasi Negatif

2. Melepas stres

Ketika dihadapkan dengan situasi yang begitu menekan, setiap orang punya cara yang berbeda-beda untuk melampiaskan kecemasan atau ketegangan tersebut. Ada yang beralih ke olahraga dan hobi, ada yang bercerita pada orang-orang terdekat, tetapi ada juga yang justru menyakiti diri sendiri. Hal ini dilakukan agar ia bisa mengeluarkan segala kecenderungan yang agresif dan kejam tanpa harus menyakiti orang lain, binatang peliharaan, atau merusak barang-barang di sekitarnya.

3. Menghindari mati rasa

Orang yang memiliki trauma psikologis berat bisa menjadi mati rasa. Karena kejadian yang dialami begitu menyakitkan atau memalukan, seseorang bisa saja mengalami disosiasi. Disosiasi adalah suatu keadaan di mana Anda menghapus ingatan Anda terhadap suatu kejadian atau menghapus perasaan yang muncul ketika mengalami suatu peristiwa traumatis. Biasanya hal ini terjadi di luar kesadaran Anda.

Saat menghapus perasaan terhadap suatu peristiwa, misalnya pada kasus perkosaan, si korban tidak akan merasa jadi lebih baik. Ia justru akan merasa hampa, kosong, dan tidak berharga. Dengan menyakiti diri sendiri, ia pun akan mengingat kembali rasa sakit yang pernah menyerangnya ketika mengalami perkosaan. Rasa sakit tersebut mengingatkan dirinya bahwa ia masih hidup dan masih bisa merasakan sesuatu layaknya manusia lain.

4. Menyampaikan perasaan

Sering kali orang-orang yang melakukan self-injury tidak benar-benar ingin menyakiti diri sendiri atau bunuh diri. Namun, mereka memiliki masalah dalam berkomunikasi. Mereka tidak paham bagaimana caranya mengomunikasikan perasaan-perasaan negatif. Bisa karena memberitahu orang lain bahwa ia sedang merasa tersakiti membuatnya tampak lemah, mungkin juga karena ia memang tak pernah belajar untuk mengutarakan perasaannya sama sekali.

Kadang, perasaan-perasaan negatif tersebut terlalu kuat untuk dibendung. Akibatnya, orang tersebut memilih untuk menyakiti diri sendiri sebagai bentuk komunikasi pada orang lain bahwa dirinya sedang melalui masa-masa yang sulit dan ia membutuhkan pertolongan. Entah itu sekadar mendengarkan ceritanya atau membantunya menyelesaikan sebuah masalah. Biasanya ia akan dengan sengaja memberi sinyal atau petunjuk bagi orang terdekatnya bahwa ia melakukan tindakan berbahaya tersebut. Misalnya, membiarkan darah berceceran di kamar supaya orangtuanya tahu ia melukai diri sendiri.

BACA JUGA: Berbagai Penyebab Utama Seseorang Ingin Bunuh Diri

5. Menghukum diri sendiri

Korban kekerasan, baik itu emosional, fisik, maupun seksual sering disalahkan dan direndahkan. Secara tidak sadar, mereka pun lama-kelamaan jadi merasa rendah diri dan pantas disalahkan. Dalam benaknya, setiap melakukan suatu kesalahan ia pun harus mendapat hukuman, bahkan ketika pelaku kekerasan tidak mengetahui kesalahan tersebut. Sebagai bentuk hukuman, beberapa orang akan menyakiti diri sendiri dengan sengaja tidak makan, membenturkan kepala, atau menyayat diri.

BACA JUGA: 8 Trauma Fisik dan Mental Akibat Kekerasan Seksual

6. Mencari kepuasan

Mirip seperti orang-orang yang kecanduan alkohol, rokok, atau obat-obatan, mereka yang sering menyakiti diri sendiri melakukannya untuk mencari kepuasan semata. Beberapa orang merasa senang dan bersemangat setelah melihat darahnya sendiri atau merasakan sensasi fisik yang sangat kuat. Pandangan yang keliru ini bisa mengarah pada kecanduan.  

Di mana saya bisa mendapatkan bantuan?

Apabila Anda punya kecenderungan atau pernah melukai diri sendiri, segera ceritakan pada orang terdekat yang bisa Anda percaya. Bila keadaan Anda tak kunjung membaik, Anda bisa menemui psikolog atau psikiater yang akan membantu Anda mengendalikan kebiasaan tersebut. Ketika muncul pikiran untuk melakukan self-injury, segera hubungi layanan hotline resmi dari Kementerian Kesehatan RI di 500-454. Jika Anda atau orang terdekat Anda terluka karena self-injury, segera hubungi layanan darurat di nomor 118 atau pergilah ke pusat kesehatan terdekat.  

BACA JUGA: Daftar Nomor Telepon Darurat yang Wajib Anda Catat

Sumber
Yang juga perlu Anda baca