3 Penyakit Serius yang Bisa Ditandai Dengan Ngorok

Oleh

Obstructive sleep apnea (OSA) merupakan suatu bentuk umum gangguan pernapasan saat tidur, di mana gejalanya sangat menakutkan, karena penderita OSA dapat mengalami beberapa kali episode berhenti bernapas saat tidur. Hal ini disebabkan karena kolapsnya saluran napas atas yang menyebabkan aliran udara menuju paru menjadi terhambat.

Walaupun ilmu kedokteran untuk gangguan tidur sudah berkembang pesat, istilah obstructive sleep apnea memang masih asing di telinga masyarakat. Penyakit ini jarang terdeteksi, bahkan oleh dokter sekali pun. OSA masih sering under-diagnosed dan apabila dibiarkan, OSA dapat menyebabkan berbagai komplikasi kardiovaskuler, sindrom metabolik, gangguan saraf, dan keseimbangan hormon.

Dari sekian banyak komplikasi yang mungkin disebabkan oleh penyakit ini, ada tiga penyakit serius yang perlu kita waspadai. Tiga penyakit ini memiliki dampak pengobatan seumur hidup juga dapat mengancam nyawa, sehingga kita tidak boleh lagi menyepelekan kebiasaan mendengkur. Apa saja 3 penyakit itu? Yuk, ikuti penjelasan berikut ini.

1. Hipertensi dan potensi stroke

Pada kasus obstructive sleep apnea (OSA), lebih dari 50% penderitanya mengalami komplikasi hipertensi atau tekanan darah tinggi. Hal ini disebabkan menurunnya kadar oksigen yang membuat tubuh mengeluarkan berbagai macam senyawa. Salah satunya katekolamin. Katekolamin akan membuat kelenturan pembuluh darah menjadi berkurang, sehingga cenderung menyempit. Selain itu, keadaan kekurangan oksigen (hipoksia) juga merangsang sistem saraf simpatis yang semakin menyempitkan pembuluh darah sekaligus meningkatkan detak jantung.

Awalnya, tekanan darah yang meningkat masih dapat diatasi. Namun, bila hal ini terus berlangsung dalam jangka panjang, kombinasi tingginya kadar katekolamin dan aktivitas saraf simpatis menjadi cikal bakal hipertensi pada penderita OSA. Perubahan berulang tekanan darah karena perubahan pola pernapasan saat tidur pada OSA dapat membuat refleks sensor tekanan (baroreseptor) tersebut akan menjadi menurun. Hal ini menyebabkan sensor tekanan sentral itu menjadi kurang sensitif yang berakhir dengan peningkatan tekanan darah terus menerus.

Hipertensi yang terjadi pada pasien yang tidak terdiagnosis OSA ataupun tidak mendapat pengobatan OSA yang baik, menjadi sulit diatasi dan memicu berbagai komplikasi lebih lanjut, seperti stroke perdarahan. Pengobatan OSA yang efektif akan memperbaiki terkontrolnya tekanan darah pada banyak pasien.

2. Diabetes melitus tipe 2 (DM Tipe 2)

Diperkirakan sekitar 40% pasien OSA akan mengalami diabetes tipe 2, dan pasien diabetes tipe 2 memiliki kemungkinan menderita OSA hingga 23%. Jadi, ada hubungan timbal balik antara OSA dan diabetes tipe 2. Ada beberapa alasan mengapa OSA dapat menyebabkan diabetes melitus, yaitu :

  1. Sistem saraf simpatis memegang peran utama dalam pengaturan metabolisme glukosa dan lemak. Pada penderita OSA, sistem saraf ini terangsang sehingga terjadi kekacauan yang menyebabkan kadar glukosa darah menjadi tinggi.
  2. Keadaan kekurangan oksigen (hipoksia) pada penderita OSA dapat mengurangi sensitivitas insulin dan memperburuk toleransi glukosa, sehingga glukosa yang ada dalam darah tidak dapat masuk ke jaringan dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar energi.
  3. Hipoksia dan gangguan tidur menyebabkan ketidakseimbangan hormon yaitu peningkatan kadar kortisol dengan pola abnormal dan berlebihan. Hormon ini menghambat tingkat sensitivitas hormon insulin yang mengatur kadar glukosa darah

Sebuah studi menyebutkan bahwa pengobatan OSA dengan diabetes menjadi kompleks karena ada interaksi obat yang menyebabkan dosis obat diabetes menurun, sehingga deteksi dini dan pengobatan harus dilakukan lebih agresif.

3. Penyakit jantung koroner

Studi pada hewan percobaan menunjukkan kekurangan oksigen menyebabkan terjadinya kekacauan pada gen-gen yang memproduksi lemak pada hati, sehingga terjadi gangguan metabolisme lemak. Kondisi ini bergantung pada keparahan hipoksia. Kadar oksigen darah yang rendah pada penderita OSA menyebabkan 30% peningkatan komponen lemak seperti trigliserida. Sehingga, pada kondisi OSA lazim dijumpai peningkatan kadar lemak jahat (kolesterol LDL) dan penurunan lemak baik (kolesterol HDL). Hal ini memicu peningkatan pembentukan kerak di pembuluh darah tubuh.

Efek dari keadaan kekurangan oksigen juga menyebabkan aliran oksigen ke jantung berkurang. Ini menyebabkan otot jantung tidak mendapat memompa darah secara maksimal ke organ lain. Kombinasi jeleknya profil lemak dan hambatan aliran oksigen dapat menyebabkan otot jantung mati, sehingga serangan jantung tidak dapat terelakkan.

Nah, itulah 3 penyakit serius yang bisa terjadi akibat ngorok. Oleh sebab itu, ingatkan diri sendiri juga orang-orang tercinta untuk segera ke dokter, bila menunjukkan gejala mendengkur yang tidak wajar. Jangan sampai penyakit ini datang menghampiri terlebih dulu.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca