Pengaruh Pandemi Terhadap Kesehatan Mental Remaja, Apa Saja?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 23/05/2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Dampak dari pandemi COVID-19 tidak hanya berpengaruh pada kesehatan fisik, melainkan kesehatan mental remaja. Bagaimana perubahan aktivitas harian selama pandemi ini memengaruhi kesehatan mental remaja?

Dampak pandemi terhadap kesehatan mental remaja

gangguan bipolar pada remaja

Pandemi COVID-19 telah memengaruhi hampir setiap aspek dalam kehidupan, termasuk aktivitas harian masyarakat, terutama kelompok anak dan remaja. Bagaimana tidak, penerapan physical distancing dan penutupan sekolah membuat mereka tidak dapat beraktivitas normal. 

Jika normalnya mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman dan aktivitas di sekolah, kini terpaksa berada di rumah dalam waktu yang tidak ditentukan.

Awalnya mungkin beberapa remaja merasa hal ini adalah kesempatan mereka untuk berlibur. Seiring dengan berjalannya waktu dampak pandemi ternyata berpengaruh terhadap mental remaja. 

Dilansir dari NYU Langone Health, kebanyakan remaja terlihat murung, sedih, atau kecewa ketika menjalani karantina di rumah selama pandemi COVID-19.

Pasalnya, beberapa dari remaja ini mungkin melewatkan momen-momen yang mereka tunggu, seperti menonton pentas seni sekolah atau sekadar bertemu dengan teman. 

Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang merasa cemas dan bertanya-tanya kapan pandemi ini berakhir dan semuanya kembali normal. Walaupun beberapa remaja mengisi kekosongan dan kecemasan mereka dengan bermain ponsel atau media sosial, ternyata hal tersebut tidak cukup.

Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Data Harian

113,134

Terkonfirmasi

70,237

Sembuh

5,302

Meninggal Dunia
Peta Penyebaran

Menurut dr. Aleta G. Angelosante, PhD, asisten profesor departemen Psikiatri Anak dan Remaja di NYU Langone Health, ada beberapa faktor yang mendasari hal ini. 

Rasa sedih dan kecewa yang dialami oleh remaja selama pandemi ini adalah hal yang wajar dan normal. Media sosial dan permainan di ponsel mereka tidak dapat menggantikan interaksi sosial di sekolah mulai dari mengobrol di kelas, menertawakan sesuatu yang lucu saat pelajaran, hingga mendengar semua percakapan yang terjadi di sekitar mereka. 

Sementara itu, dampak pandemi terhadap kesehatan mental remaja yang termasuk kategori keluarga kurang mampu dan berada dalam etnis minoritas ternyata cukup besar. Mereka mungkin kekurangan sumber daya untuk melanjutkan sekolah dari rumah, seperti akses internet. 

Selain itu, remaja di kelompok ini mungkin harus memikirkan nasib keluarganya karena pandemi ini membuat mereka kehilangan sumber pendapatan. Maka itu, orangtua dan masyarakat sekitar perlu memberi perhatian khusus pada masalah ini.  

Gejala yang perlu diperhatikan orangtua

penyebab depresi keturunan ibu anak orangtua remaja

Dampak pandemi memang cukup berpengaruh terhadap mental remaja hingga membuat mereka stres. Tidak sedikit dari mereka yang mungkin ‘berulah’ karena merasa bosan dan ingin mencari perhatian Anda. 

Walaupun demikian, ada beberapa gejala terkait kesehatan mental remaja selama pandemi yang mungkin perlu Anda waspadai, seperti:

  • keluhan fisik seperti sakit perut, pusing, atau gejala fisik lainnya
  • mengisolasi diri dari orangtua, teman sebaya, hingga mengubah kelompok pertemanan
  • minat belajar turun drastis yang menyebabkan prestasi akademik ikut turun
  • sering mengkritik diri sendiri

Beberapa perilaku di atas mungkin sesekali pernah Anda lihat dalam remaja. Namun, sudah seharusnya orangtua lebih peduli ketika perubahan terjadi dalam waktu singkat dan sekaligus.

Dengan begitu, masalah kesehatan mental selama pandemi pada remaja bisa dihindari dan mereka dapat menjalani karantina di rumah dengan sehat.

cemas covid-19

Kabar baiknya adalah sejauh ini peneliti belum menemukan data bagaimana dampak karantina saat pandemi bisa mengganggu kesehatan mental remaja hingga berujung depresi.

Para ahli memiliki beberapa bukti yang menunjukkan bahwa anak menghadapi kejadian yang traumatis dengan baik. 

Hal ini mungkin dikarenakan kebanyakan anak lebih cepat beradaptasi dan kuat. Sementara itu, anak yang mengalami peristiwa yang mengerikan pun tidak menutup kemungkinan mengalami masalah jangka pendek terkait depresi dan rasa cemas. 

Walaupun demikian, sebagian besar dari mereka tidak mengalami dampak psikologis dalam jangka panjang. 

Tips membantu menjaga kesehatan mental remaja selama pandemi

gizi remaja

Sebenarnya, dampak mental remaja selama pandemi ini bisa diminimalisir dengan berbagai upaya yang juga dilakukan oleh orangtua. Untungnya, ada banyak hal yang bisa Anda lakukan sebagai orangtua untuk mendukung kesehatan mental anak berusia remaja. 

Berikut ini beberapa tips yang mungkin membantu Anda dalam menjaga kesehatan mental remaja menurut WHO. 

  • mempertahankan rutinitas harian atau membuat aktivitas baru
  • berdiskusi soal COVID-19 dengan anak secara jujur dan bahasa yang dimengerti
  • mendukung remaja belajar di rumah dan menyediakan waktu untuk bermain
  • membantu anak mencari cara positif mengungkapkan perasaan, seperti menggambar
  • membantu remaja tetap bersosialisasi dengan teman dan anggota keluarga via daring
  • memastikan anak tidak terlalu banyak menghabiskan waktu bermain gadget
  • mengajak remaja mencari hobi yang kreatif, seperti bernyanyi, memasak, atau menulis

Fenomena Kelulusan Pelajar dan Mahasiswa yang Dilewatkan Akibat Pandemi

Dampak pandemi terhadap kesehatan mental memang cukup besar, termasuk bagi remaja. Maka itu, peran orangtua sangat penting untuk tetap memperhatikan anak. Walaupun mereka terlihat baik-baik saja, tidak ada salahnya untuk rutin bertanya kabar anak berusia remaja.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Vaksin COVID-19 Moderna Memasuki Tahap Akhir Uji Kllinis

Vaksin COVID-19 buatan Moderna menunjukkan hasil positif dan akan memasuki tahap akhir uji klinis. Vaksin ini akan diuji coba pada 30.000 orang relawan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Menkes Mengganti Istilah PDP, ODP, dan OTG, Apa Artinya Bagi Penanganan COVID-19?

Kemenkes menghapus istilah PDP, ODP, dan OTG. Sebagi gantinya pemerintah menetapkan beberapa istilah baru untuk digunakan dalam penanganan COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22/07/2020 . Waktu baca 4 menit

WHO Mengonfirmasi Virus COVID-19 Bertahan di Udara (Airborne)

Selain melalui droplet, COVID-19 juga menular lewat sebaran di udara (airborne). Hal ini sudah dikonfirmasi oleh WHO. Begini penjelasannya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 14/07/2020 . Waktu baca 5 menit

5 Tips Beradaptasi dan Melindungi Diri di Masa New Normal

New normal dapat menjadi tantangan bagi sebagian orang. Namun, hal terpenting adalah Anda tetap harus melindungi kesehatan dengan langkah berikut.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
new normal
Hidup Sehat, Tips Sehat 13/07/2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

nutrisi untuk mencegah covid

Penuhi Nutrisi Ini untuk Mencegah Penularan Coronavirus saat New Normal

Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 30/07/2020 . Waktu baca 9 menit
Konten Bersponsor
asuransi di masa pandemi

5 Manfaat Punya Asuransi di Masa Pandemi COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 29/07/2020 . Waktu baca 4 menit
Konten Bersponsor
lindungi diri di adaptasi kebiasaan baru

9 Cara Lindungi Diri Jalankan Hobi di Luar Ruang saat Adaptasi Kebiasaan Baru

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 29/07/2020 . Waktu baca 5 menit
vaksin covid-19 oxford

Vaksin COVID-19 Buatan Oxford Berhasil Picu Respons Kekebalan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 24/07/2020 . Waktu baca 5 menit