Indri kurniawati

Dokter,anak saya takut kalau disuruh sekolah dok takut masuk kelas bahkan belajar pun harus ditungguin di dalam kelas,kalau di tanya bilangnya takut pintu kelas ditutup,sblm masuk kelas jg anak saya sudah merasa ketakutan cemas dan panik yg berlebihan dok,kalau ditegur guru jg dia sudah spt ketakutan dan panik sendiri dok,tp kalau di kemani didlm kelas dia berani dan merasa aman

Suka
Bagikan
Simpan
Komentar
3
2

2 komentar

Halo Indri Kurniawati, terima kasih untuk pertanyaannya.


Sebagai orang tua tentu mengharapkan buah hatinya memperoleh pendidikan yang layak dan memadai, agar dapat membantu menunjang kehidupan mereka ke depannya. Orang tua selalu mengupayakan berbagai hal untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, terkadang anak juga menampilkan perilaku yang bertentangan dengan harapan orang tua, misalnya anak yang menolak untuk berangkat ke sekolah atau anak tidak mau ditinggalkan di sekolah sehingga membuat orang tua merasa kesal, marah, kecewa dan sebagainya.


Perlu diketahui bahwa beberapa faktor yang kemungkinan menyebabkan anak tidak mau ke sekolah, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal biasanya disebabkan oleh lingkungan sekolah yang tidak nyaman bagi anak, anak mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru, atau anak mengalami perundungan di sekolah, dan berbagai faktor eksternal lainnya. Sedangkan faktor internal yang dialami yaitu anak mengalami kecenderungan Separation Anxiety Disorder (SAD), di mana anak akan mengalami kecemasan saat berpisah dengan figur lekatnya (ibu, ayah, pengasuh, dll) sehingga anak tidak mau meninggalkan rumah untuk berangkat ke sekolah, ingin selalu dekat dengan figur lekat, atau adanya faktor internal lainnya. Meskipun demikian, sebaiknya orang tua tidak langsung memarahi atau memukul anak karena akan menyebabkan anak semakin tidak ingin ke sekolah, atau bisa saja muncul masalah baru lainnya.


Hal pertama yang dapat dilakukan sebagai orang tua, yaitu mencari tahu penyebab anak tidak mau berangkat ke sekolah. Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai pikiran dan perasaan anak terkait sekolah, mengenali secara pasti kekhawatiran yang dirasakan oleh anak. Selain itu, ceritakan kepada anak mengenai hal-hal yang menarik di sekolah, serta memberikan pemahaman mengenai pentingnya belajar dari sekolah dan konsekuensi jika anak tidak mau sekolah. Orang tua juga dapat membuat perjanjian bersama anak mengenai jadwal sekolah, yang disertai dengan sikap yang tegas dari orang tua apabila anak melanggar perjanjian tersebut. Kemudian orang tua juga perlu memberikan apresiasi kepada anak saat mau berangkat ke sekolah, seperti pelukan, pujian, dan sebagainya sehingga anak

termotivasi untuk mengulang kembali perilaku baik tersebut


Untuk info lebih lanjut mengenai gangguan kecemasan saat berpisah (Separation Anxiety Disorder) bisa dibaca di artikel berikut:

https://hellosehat.com/mental/gangguan-kecemasan/separation-anxiety-disorder/


Jangan ragu untuk memeriksakan anak anda ke psikolog jika keluhan berlanjut atau bertambah parah.


2 tahun yang lalu
Suka
Balas

Hai Sobat Sehat, pertanyaan Anda telah kami terima. Kami akan membantu memberikan penjelasan secara umum terlebih dulu, sebelum pakar kami memberikan respons ya.


Halo Indri Kurniawati,:

Saya bukan dokter, tetapi saya akan mencoba memberikan beberapa informasi yang mungkin dapat membantu Anda. Anak Anda mengalami ketakutan dan kecemasan yang berlebihan terkait dengan masuk ke dalam kelas. Ini bisa menjadi tanda bahwa anak Anda mengalami fobia sekolah atau kecemasan terpisah.

Fobia sekolah adalah ketakutan yang berlebihan dan tidak rasional terhadap situasi sekolah atau kegiatan yang terkait dengan sekolah. Gejala yang mungkin dialami anak Anda termasuk ketakutan, kecemasan, panik, dan gejala fisik seperti detak jantung yang cepat, keringat berlebihan, dan perut kembung.

Kecemasan terpisah adalah kecemasan yang berlebihan terhadap situasi atau objek tertentu, dalam hal ini, masuk ke dalam kelas. Anak Anda mungkin merasa aman ketika berada di dalam kelas karena situasi tersebut sudah dikenal dan terasa lebih terkendali.

Untuk mengatasi masalah ini, penting untuk mencari bantuan profesional, seperti psikolog atau psikiater anak. Mereka dapat melakukan evaluasi lebih lanjut dan memberikan terapi yang sesuai, seperti terapi perilaku kognitif atau terapi eksposur. Terapi ini bertujuan untuk membantu anak Anda mengatasi ketakutan dan kecemasan yang berlebihan dengan cara yang aman dan bertahap.

Selain itu, Anda juga dapat melakukan beberapa langkah di rumah untuk membantu anak Anda mengatasi ketakutan dan kecemasan tersebut. Berikut adalah beberapa tips yang mungkin berguna:

  1. Berbicaralah dengan anak Anda secara terbuka dan empati tentang ketakutannya. Dengarkan dengan sabar dan berikan dukungan yang positif.
  2. Bantu anak Anda memahami bahwa ketakutannya tidak rasional dan bahwa dia aman di dalam kelas.
  3. Ajak anak Anda untuk berbicara dengan guru atau staf sekolah tentang ketakutannya. Mereka mungkin dapat memberikan dukungan tambahan di sekolah.
  4. Bantu anak Anda mengembangkan strategi menghadapi kecemasan, seperti teknik pernapasan dalam atau visualisasi yang menenangkan.
  5. Jangan memaksa anak Anda untuk masuk ke dalam kelas jika dia benar-benar tidak siap. Berikan dukungan dan dorongan yang bertahap.

Ingatlah bahwa setiap anak unik, jadi penting untuk mencari bantuan profesional untuk menentukan pendekatan terbaik dalam mengatasi masalah ini. Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda dan anak Anda. Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter atau psikolog anak.

2 tahun yang lalu
Suka
masukan
warningDisclaimer: Informasi yang disampaikan di atas adalah informasi umum, bukan pengganti saran medis resmi dari dokter atau pakar.
Related content
Temukan komunitas Anda
Jelajahi berbagai jenis komunitas yang ada dan paling sesuai dengan kondisi kesehatan yang Anda hadapi.
Iklan
Iklan