Mengenal Alergi Tato yang Kerap Disebabkan oleh Si Tinta

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 14 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Walau memiliki efek samping, tato sebenarnya cukup aman untuk kulit. Namun, tidak semua orang merasakan hal yang sama. Pasalnya, penggunaan tato ternyata bisa menimbulkan alergi pada kulit pada sejumlah orang. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Alergi tato pada kulit

Jarum tato faktor risiko penyebab hepatitis

Bagi sebagian orang, tato mungkin memiliki arti penting sebagai nilai ekspresi dan keyakinan mereka. Namun, cara untuk mengekspresikan diri ini ternyata tidak terlepas dari efek samping dan dampaknya terhadap kesehatan, terutama kulit. 

Penggunaan tato bisa menimbulkan masalah di kulit. Kondisi dapat disebabkan oleh berbagai hal. Salah satu penyebab alergi pada tato yang paling umum adalah tinta. 

Umumnya, tinta tato mengandung beberapa bahan kimia yang dapat menimbulkan reaksi negatif pada sebagian orang. Dibandingkan dengan warna lainnya, tinta berwarna merah biasanya menjadi faktor utama seseorang mengalami reaksi alergi

Walaupun demikian, tentu saja semua warna berisiko membuat seseorang mengembangkan gejala alergi. Kandungan oksida besi, merkuri sulfida, hidrat besi, aluminium, dan mangan dalam tinta tato ternyata menjadi pemicu reaksi pada kulit. Reaksi alergi biasanya akan muncul begitu tinta masuk ke dalam kulit. 

Selain tinta, jenis alergi yang satu ini juga dapat disebabkan oleh respon sistem kekebalan tubuh, kondisi kulit, dan zat pemicu alergi lainnya. Oleh sebab itu, Anda perlu mengenali kondisi tubuh sebelum melakukan pemasangan tato

Tanda dan gejala alergi tinta tato

sakit habis bikin tato
Sumber: The Daily Meal

Biasanya, Anda bisa mengalami gejala alergi kulit kapan saja. Hal ini dapat terjadi segera setelah memasang tato atau beberapa minggu hingga tahun kemudian. 

Selain itu, penderita alergi ini juga bereaksi terhadap warna tinta tertentu, seperti merah. Jika hal ini terjadi, Anda mungkin menjumpai satu atau beberapa gejala:

  • kulit kemerahan dan bengkak,
  • gatal,
  • ruam,
  • benjolan kecil seperti jerawat,
  • kulit bersisik dan mengelupas,
  • kulit melepuh, dan
  • adanya nanah pada benjolan di kulit.

Jika Anda mengalami tanda-tanda yang disebutkan, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Pasalnya, gejala alergi dapat berkembang dengan cepat hingga menyebabkan kondisi yang cukup parah, seperti syok anafilaksis. 

Jenis penyebab alergi tato

gejala alergi olahraga ruam kulit

Alergi tato di kulit tidak sekadar disebabkan oleh tinta, melainkan terbagi menjadi beberapa jenis sesuai dengan penyebabnya, yaitu sebagai berikut.

Alergi peradangan akut

Penderita alergi peradangan akut biasanya akan mengalami kulit kemerahan, bengkak, dan iritasi pada area yang diberikan tato. Iritas ini biasanya juga dsebabkan oleh jarum dan tinta. Normalnya, kondisi ini tidak terlalu parah dan akan hilang dalam waktu sekitar 2-3 minggu dengan sendirinya.

Fotosensitivitas

Kulit yang ditato ternyata juga dapat menimbulkan reaksi alergi matahari (fotosensitivitas) ketika terkena sinar matahari. Kondisi ini biasanya terjadi saat Anda memakai tinta berwarna kuning dan merah. 

Kedua warna tersebut ternyata mengandung kadmium sulfida yang dapat memicu reaksi alergi saat kulit terkena sinar matahari.

Alergi Panas Matahari

Dermatitis

Jenis alergi tato yang paling sering dialami oleh orang-orang adalah dermatitis. Jenis alergi yang satu ini umumnya disebabkan oleh merkuri sulfida yang ditemukan dalam tinta berwarna merah. Reaksi alergi yang satu ini dapat menyebabkan kulit terlihat kemerahan, ruam, terasa gatal, dan bengkak. 

Reaksi alergi Lichenoid

Pada kasus-kasus tertentu, reaksi alergi Lichenoid dapat terjadi pada pengguna tato dan disebabkan oleh tinta berwarna merah. Reaksi alergi yang satu ini cenderung ditandai dengan kemunculan benjolan kecil di area kulit yang ditato dengan tinta berwarna merah. 

Reaksi alergi pseudolymphomatous

Bagi Anda yang memiliki kulit sensitif terhadap zat tertentu, mungkin perlu berhati-hati saat memasang tato. Pasalnya, reaksi alergi dapat muncul pada kulit sensitif saat ditato. Gejala dari alergi ini umumnya tidak segera muncul, tetapi membutuhkan waktu yang lebih lama. 

Granuloma

Granuloma terjadi ketika ada benjolan kecil yang muncul setelah Anda ditato. Biasanya, tinta warna merahlah yang paling sering menyebabkan granuloma. Selain merah, tinta ungu, hijau, dan biru juga bisa membuat Anda mengalami granuloma di sekitar kulit yang bertato.

Cara mengatasi alergi tato

Salep kudis dan scabies di tangan

Pada gejala alergi tato yang cukup ringan, Anda dapat menggunakan obat yang dijual bebas tanpa perlu resep dari dokter, seperti sebagai berikut.

  • Antihistamin, seperti diphenhydramine untuk meringankan gejala.
  • Salep hidrokortison atau triamcinolone untuk meredakan peradangan kulit.

Jika obat yang dijual di pasaran tidak kunjung membuat kondisi Anda membaik, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Pada umumnya, dokter akan memberikan resep obat antihistamin dengan dosis yang lebih tinggi. 

Selain itu, kombinasi obat lainnya juga akan diberikan demi membantu mengobati gejala alergi tato yang dialami. Umumnya, dokter tidak akan meminta Anda untuk menghapus tato yang baru dibuat. Anda hanya perlu merawat daerah yang terkena reaksi alergi. 

Obat-obatan dari dokter cukup untuk membantu meringankan kondisi tanpa meninggalkan bekas luka. Namun, tato juga dapat rusak dan mengganggu tampilan kulit ketika reaksi alergi tidak ditangani (anafilaksis) dan cenderung parah. 

Oleh sebab itu, jangan sepelekan reaksi alergi tato. Segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang paling tepat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

9 Bahaya yang Bisa Terjadi Jika Nekat Bikin Tato di Mata

Tertarik ingin mata Anda berwarna tidak hanya warna putih saja? Tato mata bisa jadi jawabannya. Sebelum lakukan, cari tahu dulu bahayanya di sini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Hidup Sehat, Fakta Unik 30 November 2017 . Waktu baca 4 menit

Kenapa Tato Permanen Sulit Sekali Dihilangkan dari Kulit?

Tinta tato yang permanen memang tidak akan bisa dihapus sampai tuntas, meskipun Anda sudah coba berbagai teknik menghilangkan tato. Mengapa bisa begitu, ya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Hidup Sehat, Fakta Unik 7 November 2017 . Waktu baca 4 menit

Sebelum Bikin Tato, Kenali Dulu Berbagai Efeknya Pada Tubuh dan Kesehatan

Di balik keindahan tato, ternyata tato memiliki beberapa efek samping yang berbahaya bagi kesehatan. Apa saja efek tato yang perlu diketahui? Intip di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Hidup Sehat, Tips Sehat 21 September 2017 . Waktu baca 3 menit

Ingin Menato Tubuh? Ketahui Dulu 3 Fakta Tato Berikut Ini

Banyak orang ingin membuat tato karena alasan kecantikan maupun medis. Tapi, sebelum menato tubuh, ketahui fakta tato (termasuk bahaya tato) berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Hidup Sehat, Fakta Unik 6 Juli 2017 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

tato henna

Apakah Tato Henna Aman Dipakai Ibu Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 3 Oktober 2018 . Waktu baca 3 menit
bikin tato

Psstt… Jangan Bikin Tato Saat Sedang Tidak Enak Badan!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 5 September 2018 . Waktu baca 4 menit
henna tangan

Apakah Tato Henna Benar Aman untuk Kulit Anda?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 28 Agustus 2018 . Waktu baca 5 menit
tinta tato

Tinta Tato Bisa Masuk ke Kelenjar Getah Bening. Apakah Ini Bahaya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Hendry Wijaya
Dipublikasikan tanggal: 9 Februari 2018 . Waktu baca 5 menit