backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Awas Keliru! Ini Perbedaan Tenggorokan dan Kerongkongan

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 21/11/2023

Awas Keliru! Ini Perbedaan Tenggorokan dan Kerongkongan

Karena letaknya yang berdampingan dan penyebutannya yang mirip, banyak orang belum tahu apa perbedaan tenggorokan dan kerongkongan. Padahal, kedua bagian tubuh ini mempunyai fungsi, letak, hingga cara kerja yang berbeda, lho!

Perbedaan tenggorokan dan kerongkongan

Tenggorokan dan kerongkongan adalah dua organ dalam tubuh manusia yang memiliki peranan penting, yakni dalam proses bernapas dan menelan makanan.

Supaya tidak lagi salah dalam menentukan beda kerongkongan dan tenggorokan, Anda dapat menyimak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

1. Perbedaan fungsi

Bernapas lewat hidung atau dengan mulut

Tenggorokan atau faring adalah bagian dari sistem pernapasan berupa saluran yang berbentuk tabung. Organ ini berperan dalam proses pernapasan.

Dalam proses bernapas, tenggorokan akan mengalirkan udara yang masuk melalui hidung dan mulut hingga ke kotak suara atau laring, yang selanjutnya menuju ke trakea dan paru-paru.

Pada pangkal tenggorokan, terdapat jaringan berbentuk katup yang disebut epiglotis. Jaringan ini berfungsi untuk mencegah masuknya partikel makanan atau cairan ke saluran pernapasan.

Jika terdapat partikel makanan atau cairan yang memasuki saluran napas Anda, ini bisa membuat Anda tersedak.

Sementara itu, kerongkongan atau esofagus adalah saluran berbentuk tabung yang bertugas menghubungkan tenggorokan dan lambung. 

Organ yang merupakan bagian dari sistem pencernaan ini punya fungsi utama untuk membawa makanan dan minuman, mulai dari mulut hingga mencapai lambung.

2. Perbedaan letak dalam tubuh

Tenggorokan dan kerongkongan letaknya yang berdampingan, yakni di dalam leher Anda.

Tenggorokan terletak pada bagian tengah leher. Saluran dengan panjang sekitar 10 sentimeter (cm) ini berada di bawah tengkorak serta tepat di depan kerongkongan dan laring.

Berdasarkan lokasinya, faring terdiri dari tiga bagian, yaitu nasofaring, orofaring, dan hipofaring.

  • Nasofaring: faring bagian atas yang terletak di belakang rongga hidung dan mulut.
  • Orofaring: faring bagian tengah yang terletak di belakang lidah.
  • Hipofaring: faring bagian bawah yang terletak di belakang epiglotis. Epiglotis akan menutup saluran pernapasan saat Anda menelan makanan.

Sementara itu, kerongkongan terletak di tengah dada pada area yang disebut mediastinum. Saluran terletak di belakang trakea dan di depan tulang belakang.

Panjang esofagus ini dihitung dari bagian bawah faring sampai bagian atas lambung. Rata-rata kerongkongan orang dewasa mempunyai panjang sekitar 25–33 cm.

3. Perbedaan cara kerja

salad sayuran

Perbedaan tenggorokan dan kerongkongan juga terlihat dari cara kerjanya. Tenggorokan sendiri akan menjalankan dua fungsi, yakni sebagai saluran pernapasan dan pencernaan.

Proses bernapas dimulai saat Anda menghirup udara melalui hidung atau mulut. Udara tersebut akan disaring terlebih dahulu agar debu dan partikel asing di dalamnya hilang.

Setelah melalui tenggorokan, udara akan masuk ke dalam trakea. Saluran berbentuk tabung ini yang selanjutnya akan menyalurkan udara ke paru-paru Anda.

Sementara dalam proses pencernaan, makanan atau minuman yang berasal dari mulut akan bergerak ke tenggorokan sebelum akhirnya masuk ke kerongkongan.

Epiglotis akan menutup trakea sehingga makanan akan bergerak menuju kerongkongan dan tidak masuk ke dalam saluran pernapasan.

Kerongkongan atau esofagus memiliki dua buah otot berbentuk cincin yang disebut sfingter. Otot ini akan membuka dan menutup saat mendeteksi partikel makanan dan cairan.

Ketika mendapatkan sinyal dari mulut dan tenggorokan, otot sfingter bagian atas akan terbuka sehingga makanan dapat masuk ke dalam kerongkongan.

Begitu berada dalam kerongkongan, gerakan peristaltik akan mendorong partikel makanan dan cairan ke bawah hingga melewati bagian diafragma.

Sebelum masuk ke lambung, makanan ini akan melewati otot sfingter bagian bawah. Otot inilah yang juga berfungsi mencegah asam lambung naik ke kerongkongan.

4. Perbedaan gangguan

Tenggorokan dan kerongkongan juga dapat mengalami masalah kesehatan. Namun, penyebab dan gejala yang ditimbulkan tentu berbeda.

Beberapa masalah kesehatan yang bisa memengaruhi tenggorokan atau faring adalah sebagai berikut.

  • Faringitis: peradangan faring yang disebabkan infeksi virus dan bakteri.
  • Laringitis: peradangan pita suara yang disebabkan infeksi, iritasi, atau penggunaan pita suara secara berlebihan.
  • Batuk croup: infeksi pernapasan yang biasanya dialami oleh bayi dan anak-anak akibat pembengkakan pada laring, trakea, hingga bronkus.
  • Kanker tenggorokan: perkembangan sel-sel kanker pada faring, laring, dan amandel.

Sementara itu, beberapa gangguan yang sering kali memengaruhi kerongkongan atau esofagus adalah sebagai berikut.

  • Esofagitis: iritasi atau peradangan pada dinding esofagus.
  • Heartburn: sensasi perih, panas, atau terbakar pada ulu hati akibat asam lambung yang naik ke kerongkongan.
  • Gastroesophageal reflux disease (GERD): refluks asam lambung berulang dan terjadi dalam jangka panjang akibat melemahnya otot sfingter esofagus bagian bawah.
  • Barrett’s esophagus: kerusakan sel-sel yang melapisi kerongkongan akibat paparan asam lambung berkepanjangan.
  • Kanker esofagus: perkembangan sel-sel kanker pada esofagus.
  • Aklasia: kelainan langka yang menyebabkan otot sfingter esofagus bagian bawah tidak terbuka sebagaimana mestinya sehingga mencegah makanan masuk ke lambung.

Tenggorokan dan kerongkongan adalah dua organ yang penting untuk tubuh. Kedua organ ini punya fungsi berbeda meski letaknya berdampingan pada leher Anda.

Jika Anda merasakan beberapa gejala, seperti batuk, suara serak, kesulitan menelan, hingga benjolan di leher, segera konsultasi dengan dokter guna memperoleh perawatan terbaik.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 21/11/2023

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan