Wanita Lebih Bisa Menahan Nyeri Daripada Pria, Mitos Atau Fakta?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 1 Mei 2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Katanya, toleransi nyeri alias kemampuan orang menahan rasa sakit itu beda-beda. Toleransi atau ambang batas nyeri adalah titik ketika suatu stimulus, misalnya panas, menimbulkan rasa sakit pada tubuh Anda. Orang-orang dengan toleransi rendah lebih mudah merasakan sakit dibandingkan mereka yang memiliki toleransi lebih tinggi.

Wanita disebut-sebut memiliki toleransi rasa sakit yang lebih tinggi dibandingkan pria. Hal ini diduga berhubungan dengan kemampuan tubuh wanita untuk menahan rasa sakit ketika menghadapi nyeri menstruasi dan melahirkan. Namun, benarkah demikian?

Mengapa kemampuan menahan rasa sakit setiap orang berbeda?

Rasa sakit timbul akibat interaksi antara jaringan saraf dan otak. Saraf menyampaikan sinyal-sinyal kepada otak, kemudian otak mengartikannya sebagai nyeri sehingga tubuh bisa menanggapinya dengan refleks menghindar.

Perbedaan kemampuan seseorang dalam menahan rasa sakit biasanya bergantung pada interaksi tersebut. Beberapa faktor lain yang membuat kemampuan menahan rasa sakit orang beda-beda, yaitu:

  • Usia. Lansia memiliki toleransi lebih tinggi terhadap nyeri, tapi penyebabnya belum diketahui secara pasti.
  • Jenis kelamin. Wanita diketahui lebih mampu menahan rasa sakit dibandingkan pria.
  • Genetik. Gen pada tubuh Anda dapat memengaruhi ketahanan terhadap rasa sakit dan efektivitas obat pereda nyeri.
  • Penyakit kronis yang mengubah toleransi sakit.
  • Gangguan psikologis, stres, dan isolasi diri. Ketiganya dapat menurunkan toleransi seseorang terhadap nyeri.
  • Ekspektasi saat menghadapi sumber nyeri. Misalnya, rasa takut akan jarum suntik bisa membuat rasa sakitnya seakan bertambah besar.
  • Pengalaman sebelumnya. Contohnya, orang yang terbiasa terpapar suhu tinggi mungkin lebih bisa menahan rasa sakit.

Kemampuan menahan rasa sakit antara pria dan wanita berbeda

Terdapat perbedaan kemampuan antara pria dan wanita dalam menahan rasa sakit. Perbedaan ini disinyalir berkaitan dengan faktor biologis, psikologis, dan sosial.

1. Faktor biologis

Hormon seks, yakni estrogen dan testosteron, berpengaruh terhadap perbedaan kemampuan menahan nyeri antara pria dan wanita.

Selama siklus menstruasi, wanita lebih sering merasakan sakit/nyeri. Sensasi nyeri ini bisa muncul pada sebelum, saat, atau setelah menstruasi.

2. Faktor sosial dan psikologis

Cara pria dan wanita dalam merespons rasa sakit juga berperan dalam perbedaan toleransi. Wanita cenderung lebih cepat pulih dari rasa sakit.

Saat tubuhnya mengalami nyeri, mereka pun lebih cepat mencari bantuan medis dan tidak membiarkan rasa nyeri berlama-lama di tubuh.

Dibandingkan pria, para wanita memiliki lebih banyak cara untuk mengelola rasa sakit dengan baik. Mereka juga lebih mahir mengalihkan perhatian dari rasa sakit dan memiliki lebih banyak dukungan untuk mengatasinya.

Mengapa toleransi nyeri wanita lebih tinggi?

Rasa sakit adalah hal yang sangat subjektif. Apa yang menurut Anda menyakitkan belum tentu terasa sama bagi orang lain.

Inilah yang menjadi penghambat dalam berbagai penelitian mengenai toleransi rasa sakit pada pria dan wanita.

Kendati demikian, penelitian yang dilakukan oleh Stanford University School of Medicine menghasilkan sebuah titik terang.

Ternyata, alasan di balik fenomena ini adalah karena wanita mengalami rasa sakit yang lebih besar dibandingkan pria.

Pada studi skala besar tersebut, peserta penelitian dari kelompok wanita melaporkan rasa sakit yang lebih besar pada semua kategori penyakit.

Dari skala 1-10, angka yang mereka laporkan rata-rata satu tingkat lebih tinggi dibandingkan pria.

Hal ini juga membuat wanita menjadi lebih peka terhadap rasa nyeri sehingga bisa mengatasinya dengan lebih efektif. Melalui mekanisme inilah, wanita lebih mampu menahan rasa sakit alias memiliki toleransi nyeri yang lebih tinggi dibandingkan pria.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Sama-sama Redakan Nyeri, Pahami Beda Acetaminophen, Aspirin, dan Ibuprofen

Banyak yang mengira bahwa obat pereda nyeri, seperti aspirin, acetaminophen, dan ibuprofen sama khasiatnya, namun tahukah Anda ketiganya punya perbedaan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Obat A-Z, Obat-obatan & Suplemen A-Z 12 November 2019 . Waktu baca 5 menit

Bolehkah Ibu Hamil Minum Ibuprofen untuk Redakan Nyeri?

Ibuprofen relatif aman jika dikonsumsi dalam dosis kecil, tapi ibu hamil disarankan untuk tidak mengonsumsi obat ini. Mengapa demikian?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Prenatal, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 5 Agustus 2019 . Waktu baca 4 menit

5 Tips Minum Obat Pereda Nyeri Agar Tetap Aman Tanpa Efek Samping

Setiap obat pereda nyeri memiliki efek samping. Untungnya, ada tips yang dapat dilakukan agar obat pereda nyeri yang Anda minum tetap aman dan efektif.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Obat A-Z, Obat-obatan & Suplemen A-Z 5 Agustus 2019 . Waktu baca 4 menit

Efek Samping Minum Obat Pereda Nyeri, dari Ringan Hingga yang Fatal

Ada berbagai jenis obat pereda nyeri dengan keunggulan dan efek samping masing-masing. Lantas, apa saja efek samping tersebut?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Obat A-Z, Obat-obatan & Suplemen A-Z 19 Juli 2019 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

dosis obat pereda nyeri

Berapa Banyak Dosis Aman Minum Obat Pereda Nyeri?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 14 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
obat pereda nyeri

Terlalu Sering Minum Obat Pereda Nyeri, Bikin Obat Jadi Tak Mempan Lagi

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
mood swing saat menstruasi

Tips Mengendalikan Mood Swing Saat PMS

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Elita Mulyadi
Dipublikasikan tanggal: 30 November 2020 . Waktu baca 4 menit
tens adalah

Mengenal TENS, Terapi Listrik untuk Atasi Berbagai Jenis Nyeri

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 21 Desember 2019 . Waktu baca 4 menit