Bahaya Fatal yang Akan Terjadi Jika Kita Makan Otak Manusia

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 6 September 2017 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Bagi Anda penikmat masakan Padang, tentu sudah tak asing lagi dengan rasa gurih legit dari gulai otak sapi yang menggoyang lidah. Lantas, pernahkah Anda membayangkan seperti apa rasa otak manusia? Jika Anda bertanya pada Hannibal Lecter, seorang kanibal sadis yang untungnya hanya tokoh fiksi, mungkin ia akan dengan senang hati merekomendasikannya untuk menu santap siang Anda hari ini.

Tapi kalau Anda benar-benar penasaran seperti apa rasa otak manusia dan ingin mendapatkan jawaban pasti, coba saja tanyakan pada orang-orang suku Fore di Papua Nugini. Dulu, suku Fore memiliki adat istiadat untuk memakan tubuh orang yang baru saja meninggal di pemakamannya. Pria memakan daging almarhum, sementara perempuan, lansia, dan anak-anak kebagian jatah otaknya. Tradisi kanibalisme ini adalah bentuk ekspresi penghormatan terhadap mendiang semasa hidupnya.

Malangnya, praktik ini justru mendatangkan tragedi pilu di tengah masyarakat Fore. Dari 11 ribu total jiwa penduduk, lebih dari 200 orang meninggal akibat makan otak manusia. Apa pasal?

Apa yang terjadi jika kita makan otak manusia?

Jika Anda menemukan otak manusia terhidang di depan mata (entah atas alasan apapun) dan berkesempatan untuk mencicipinya, beberapa sumber memperkirakan Anda akan menelan 78 kalori, 10 gram lemak, 11 gram protein, dan 1 gram karbohidrat untuk setiap 100 gram berat otak. Jadi mungkin Anda bisa sedikit berlega hati mengetahui kalau apa yang anda makan ternyata lumayan padat gizi.

Namun walau bergizi, makan otak manusia bisa membunuh Anda. Itu karena otak manusia mengandung molekul protein aneh bernama prion, yang menyebabkan Anda menderita penyakit degeneratif mengerikan yang disebut “Kuru”. Kata “kuru” berasal dari bahasa lokal Fore yang artinya “mati gemetar”. Kuru termasuk ke dalam golongan penyakit neurodegeneratif progresif (TSE), yang juga mencakup penyakit sapi gila.

Meski prion secara alami diproduksi di semua otak mamalia, protein ini dapat mengubah diri sehingga membuat mereka berkhianat pada tubuh inang — bertindak seperti virus yang menyerang jaringan sehat. Sering kali ini menyebabkan kerusakan yang mematikan.

Begitu Anda pertama kali mengalami gejala Kuru, akan tinggal menghitung hari untuk bertemu ajal. Gejala awalnya termasuk kesulitan berjalan, kehilangan kontrol atas anggota tubuh, gerakan involunter menyentak mirip kejang, insomnia, kebingungan, sakit kepala parah, dan masalah memori. Lambat laun Anda juga akan kehilangan kontrol atas emosi, yang mengarah ke tanda-tanda psikosis, depresi, dan perubahan kepribadian. Dalam setahun, Anda sudah tidak bisa lagi bangkit dan berdiri dari lantai, makan sendiri, atau mengontrol seluruh fungsi tubuh. Penyakit ini biasanya berujung pada kematian selama beberapa bulan sampai beberapa tahun.

Yang lebih menyeramkan, meski adat istiadat kanibalistik suku Fore sudah dihentikan lebih dari 50 tahun yang lalu, kasus baru Kuru terus bermunculan bertahun-tahun setelahnya. Ini karena prion bisa memakan waktu puluhan tahun untuk dapat menunjukkan efek nyatanya. Tercatat bahwa orang terakhir yang meninggal akibat Kuru wafat pada tahun 2009, tapi tidak sampai akhir 2012-lah epidemi mengerikan ini resmi dinyatakan punah.

Dan menurut para peneliti, proses yang terlibat dalam pembentukan penyakit akibat prion kemungkinan bertanggung jawab atas efek mematikan dari semua jenis penyakit otak degeneratif, misal Alzheimer, Parkinson dan demensia. Gimana, masih kepingin coba makan otak manusia?

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Memanjangkan kuku seringkali menjadi pilihan bagi kaum hawa untuk mempercantik diri. Namun, kuku yang panjang ternyata memiliki segelintir risiko.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Kulit, Perawatan Kuku 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ngantuk atau lemas habis makan adalah hal yang biasa. Lalu, bagaimana kalau Anda justru sakit kepala setelah makan? Cari tahu penyebabnya di sini, yuk.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Bahaya Merokok Terhadap Daya Tahan Tubuh Manusia

Kenapa perokok lebih gampang sakit? Merokok ternyata memiliki dampak berbahaya terhadap daya tahan tubuh. Lalu apa yang bisa dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Berhenti Merokok, Hidup Sehat 20 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit

8 Cara Jitu untuk Menghilangkan Rasa Cemas Berlebihan

Biasanya seseorang akan cenderung mengurung diri ketika dirundung cemas hebat. Padahal, ini cara menghilangkan rasa cemas yang salah. Ada cara yang benar

Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Kesehatan Mental, Gangguan Mood 20 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

lidah terasa pahit saat sakit

Kenapa Lidah Terasa Pahit saat Anda Sedang Sakit?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
cara mempertajam ingatan

Pertajam Daya Ingat Dengan Berolahraga Ringan 10 Menit Saja, Yuk!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
penyakit kuku dan masalah pada kuku

Penyakit pada Kuku yang Perlu Diwaspadai

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Tiara Putri
Dipublikasikan tanggal: 23 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit
mencium bau

Sering Mencium Sesuatu Tapi Tak Ada Wujudnya? Mungkin Anda Mengalami Phantosmia!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit