home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Tagih Insentif, Nakes di Wisma Atlet Diberhentikan

Tagih Insentif, Nakes di Wisma Atlet Diberhentikan

n style=”font-weight: 400;”>Ratusan tenaga kesehatan (nakes) yang menangani pasien COVID-19 di Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet belum dibayar sejak Desember 2020. Nakes yang mencoba menuntut haknya malah diberhentikan dengan alasan pelanggaran kode etik.

Aksi menagih insentif nakes relawan COVID-19

Tagih Insentif, Nakes COVID-19 di Wisma Atlet Diberhentikan

Fentia Budiman, S.Kep Ns, perawat dan relawan Wisma Atlet mendapat surat pemberhentian tugas karena menuntut pencairan insentif tenaga kesehatan yang tak kunjung dibayarkan sejak Desember 2021 hingga April 2021.

Fentia mendedikasikan diri menjadi relawan perawat di RSDC Wisma atlet sejak awal masa pandemi, yakni 24 Maret 2020 di mana rumah sakit darurat tersebut baru berumur 1 hari. Ia bertugas sebagai Wakil Kepala Perawat Tim Khusus Rawat Inap RSDC Wisma Atlet.

Selain Fentia, ada beberapa nakes lain yang mendapat intimidasi setelah vokal menyuarakan hak insentifnya telah tertunggak selama berbulan-bulan.

Indah Pertiwi, nama samaran demi menjaga keamanannya, adalah salah satu nakes yang belum mendapatkan insentif November 2020.

“Kami sebagai tenaga kesehatan, yang juga memiliki berbagai kebutuhan, harus terjebak dalam situasi ini. Hak-hak kami dipinggirkan dan diabaikan yang membawa kami ke jurang kemiskinan di tengah-tengah pandemi,” ujar Indah.

Menurut Indah, tidak sedikit nakes yang terancam miskin karena penunggakan pembayaran insentif selama berbulan-bulan. Tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit lapangan, seperti RSDC Wisma atlet murni hanya menerima insentif dari negara, tidak mendapatkan gaji seperti di rumah sakit pada umumnya.

“Memang mereka (nakes) bukan buruh, tapi kemudian sumber pendapatan apa? Apa imbalan negara, apa sumbangsih negara?,” kata Nelson Simamora, Pengacara Publik LBH Jakarta, dalam konferensi pers Koalisi Masyarakat Sipil (ICW, Laporcovid-19, Lokataru, dan YLBHI), Selasa (11/5/2021).

Menurut data tim Lapor COVID-19, ada 3.443 tenaga kesehatan di berbagai rumah sakit di Indonesia yang belum dibayarkan insentifnya. Lapor COVID-19 menjabarkan data yang dimilikinya, dari 41 nakes yang belum mendapat insentif, 16 di antaranya telah terpapar COVID-19 di mana 14 orang adalah nakes yang menangani pasien COVID-19 secara langsung.

Indah didatangi seorang Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) dan diperiksa dengan alasan pelanggaran kode etik setelah ia vokal menuntut haknya. Menurut Nelson, AKBP tersebut tidak membawa surat tugas apapun, terlebih pemeriksaan atas pelanggaran kode etik harus dilakukan berdasarkan perintah dari organisasi perawat. Indah saat itu dibantu Nelson yang datang sebagai kuasa hukumnya saat pemeriksaan tersebut.

“Sangat berlebihan dan cenderung teror bagi seorang perawat diperiksa oleh AKBP polisi. Kami melihat ini sebagai pembungkaman,” kata Nelson.

Plt. Kepala Badan PPSDM Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Kirana Pritasari mengatakan pihaknya telah menyelesaikan tunggakan insentif nakes di RSDC Wisma Atlet.

“Kementerian Kesehatan telah selesai membayarkan tunggakan pembayaran insentif tahun 2020 bagi relawan RSDC Wisma Atlet sebesar Rp 11,8 miliar untuk 1.613 tenaga relawan pada 6 dan 10 Mei 2021,” seperti dikutip dari website resmi Kemenkes, Selasa (11/5).

“Sementara untuk pembayaran insentif tahun 2021, Badan PPSDM telah membayarkan untuk Bulan Januari hingga Maret dengan cara transfer mandiri ke rekening nakes. Sedangkan insentif untuk bulan April, masih dalam proses pengajuan SPM.”

Tenaga kesehatan dalam penanganan pandemi

Tagih Insentif, Nakes COVID-19 di Wisma Atlet Diberhentikan

Tenaga kesehatan bertugas di garda depan penanggulangan pandemi COVID-19 yang masuk ke Indonesia sejak Maret 2020 lalu. Mereka berada lingkungan paling rentan terhadap penularan COVID-19. Selama lebih dari setahun, sudah ada ratusan tenaga kesehatan yang meninggal karena COVID-19.

Data Ikatan Dokter Indonesia (IDI), hingga (27/1/2021) setidaknya ada 647 nakes yang meninggal akibat COVID-19. Ini menjadikannya sebagai angka kematian tenaga kesehatan tertinggi dibandingkan negara-negara lain di Asia dan ketiga di dunia.

Para nakes yang menangani kasus COVID-19 ini harus bekerja berjam-jam dengan mengenakan APD level 3 lengkap. Tidak sedikit yang harus berpisah sementara dengan keluarga karena takut membawa bahaya ke rumah.

“Bisa aja para tenaga kesehatan meninggalkan rumah sakit dan pasien-pasien sampai insentif dibayarkan, tentukan bukan itu solusi yang kita harapkan. Jadi penting rasanya presiden memberi perhatian lebih pada masalah ini, ” kata Kurnia Ramadhana dari ICW.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Konferensi pers. Koalisi Masyarakat Sipil (ICW, Laporcovid-19, Lokataru, dan YLBHI), Selasa (11/5/2021).
Foto Penulis
Ditulis oleh Ulfa Rahayu pada 12/05/2021
x