Benarkah Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) Jadi Faktor Utama Penyebab Kanker Paru?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15/11/2019 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

PPOK (penyakit paru obstruktif kronik) adalah penyakit yang menyerang paru akibat merokok. Penyakit ini disebut juga dengan “batuk perokok” yang gejalanya memburuk jika terus dibiarkan. PPOK disebut-sebut sebagai faktor utama penyebab kanker paru-paru. Namun, benarkah demikian?

Beda kanker paru dengan PPOK

PPOK adalah kumpulan penyakit yang ditandai dengan tersumbatnya saluran udara di paru. Beberapa gejala klinis yang termasuk sebagai PPOK, meliputi:

  • Emfisema. Kondisi yang ditandai dengan rusaknya alveoli, yaitu kantung udara kecil yang berada di ujung saluran udara tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Hilangnya elastisitas alveoli menyebabkan udara terperangkap di dalam alveoli, pecah, dan menyebabkan jaringan parut.
  • Bronkitis kronis. Kondisi yang ditandai dengan peradangan atau adanya luka parut pada bronkial, yaitu saluran yang membawa udara ke paru. Peradangan menyebabkan lendir menumpuk, menyumbat, dan menyebabkan infeksi berulang.
  • Bronkiektasis. Kondisi yang menyebabkan bronkus melebar, menebal, dan melembek sehingga menyulitkan paru untuk membersihkan lendir.

Sementara kanker paru (lung cancer) adalah pertumbuhan sel-sel di sekitar paru yang abnormal. Pertumbuhan sel yang tidak terkendali menimbulkan berbagai gejala, seperti batuk, sakit dada, dan sesak napas.

PPOK jadi penyebab kanker paru-paru

Dikutip dari laman Health Line, sebuah studi tahun 2010 menunjukkan bahwa orang dengan PPOK memiliki kemungkinan 21,3 persen lebih tinggi terkena kanker paru dalam 10 tahun dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki PPOK. Lalu, benarkah PPOK menjadi faktor utama penyebab kanker paru-paru?

Pada dasarnya, PPOK memang bisa berkembang menjadi kanker paru-paru apalagi tidak ditangani dengan baik. Seseorang yang mengalami PPOK dan tidak merokok saja berpeluang tinggi terkena kanker paru.

Nah, risiko ini akan bertambah jika memiliki kebiasaan merokok. Maka itu, orang yang punya riwayat PPOK dan kebiasaan merokok akan lebih mungkin terkena kanker paru-paru di masa mendatang.

Apa benar hanya PPOK yang jadi faktor risiko kanker paru?

pakai behel. merokok

PPOK merupakan faktor utama penyebab kanker paru-paru, tapi bukan satu-satunya. Centers for Disease Control and Prevention,  Amerika Serikat, menyebutkan ada banyak hal yang bisa meningkatkan risiko kanker paru, seperti:

  • Radon.  Zat kimia radon menjadi penyebab kedua kanker paru. Gas ini tidak berbau dan tidak berwarna, jika paparan berlangsung cukup lama sel kanker bisa berkembang di paru-paru.
  • Polusi udara. Lingkungan kerja atau tempat tinggal yang cenderung tercemar dengan debu, debu silika, asbes, ter, kromium, arsenik, kadmium, nikel dan berilium meningkatkan risiko kanker paru.
  • Keturunan dan masalah medis. Memiliki riwayat keluarga dengan penyakit kanker pada paru atau memiliki penyakit autoimun, seperti lupus sistemik, rematik, terinfeksi HIV, serta menjalani terapi radiasi di dada.
  • Merokok. Memiliki kebiasaan merokok atau terpapar asap rokok bisa meningkatkan risiko PPOK sekaligus penyakit kanker pada paru.

Penyakit kanker paru biasanya tidak menyebabkan tanda dan gejala pada tahap awal. Gejala akan muncul jika sel kanker sudah semakin berkembang. Waspadai batuk yang tidak kunjung sembuh disertai keluarnya sedikit darah.

Kemudian, perhatikan gejala kanker paru lainnya seperti nyeri dada, sesak napas, suara serak, badan terasa sakit dan berat badan turun drastis tanpa sebab. Segera lakukan pemeriksaan dan konsultasi ke dokter untuk mengetahui diagnosis dan pengobatan yang tepat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengurangi Risiko Kanker Paru, Mulai dengan Berhenti Merokok!

Kebiasaan merokok meningkatkan risiko kanker paru tidak hanya bagi perokok aktif tapi juga orang lain. Simak seperti apa bahaya dan tips mencegahnya!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kanker Paru, Health Centers 13/02/2020 . Waktu baca 4 menit

7 Cara Efektif Membersihkan Paru-Paru Perokok Pasif

Perokok pasif punya bahaya kesehatan yang sama dengan perokok aktif. Jangan tunda lagi, praktikkan cara membersihkan paru-paru untuk perokok pasif berikut.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Hidup Sehat, Tips Sehat 13/02/2020 . Waktu baca 6 menit

Data Prevalensi Kanker Paru di Indonesia, Perokok Kelompok Paling Berisiko

Prevalensi kanker paru di Indonesia semakin meningkat selama 15 tahun terakhir dengan rokok sebagai faktor risiko utamanya. Mengapa demikian?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kanker Paru, Health Centers 11/02/2020 . Waktu baca 5 menit

Cara Kerja Pengobatan Imunoterapi pada Pasien Kanker Paru

Imunoterapi dinilai menjadi metode pengobatan masa depan pada pasien kanker paru. Seperti apa kriteria pasien dan cara kerjanya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Kanker Paru, Health Centers 07/02/2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Waspada Komplikasi Akibat Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 07/07/2020 . Waktu baca 8 menit
gejala kanker paru dan tbc

Mengenali Perbedaan Antara Gejala Kanker Paru dan TBC (Tuberculosis)

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 29/06/2020 . Waktu baca 4 menit
hidup dengan sebelah paru

Manusia Hidup dengan Sebelah Paru, Kok Bisa?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25/03/2020 . Waktu baca 5 menit
Angka harapan hidup pasien kanker paru

Berapa Lama Harapan Hidup Pasien Kanker Paru?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 13/02/2020 . Waktu baca 4 menit