home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

4 Kondisi yang Memicu Amputasi Penis

4 Kondisi yang Memicu Amputasi Penis

Amputasi penis adalah pemotongan penis secara menyeluruh atau sebagian. Amputasi menyeluruh ini terdiri dari pemotongan kavernosum (batang penis) dan uretra. Amputasi penis seringkali terjadi secara tidak sengaja dan tentu dapat merugikan diri sendiri. Beberapa kasus amputasi penis dipicu oleh cedera dan penyakit parah. Untuk mengetahui selengkapnya, mari kita lihat di bawah ini.

Pemicu amputasi penis

1. Cedera sunat

Sunat adalah salah satu operasi yang paling umum di urologi, yang biasanya merupakan proses yang aman dan sederhana dengan tingkat kecelakaan yang rendah. Namun, komplikasi serius dapat terjadi karena praktik tidak profesional yang dilakukan. Cedera penis akibat sunat beragam, dari infeksi, kecacatan, hingga amputasi total pada penis.

Gee dkk., melaporkan tingkat komplikasi sebesar 0,2-0,6% yang berkisar dari perdarahan, lymphedema, pembentukan fistula, dan hipospadia iatrogenik, hingga amputasi sebagian atau seluruh kelenjar penis. Cedera penis paling sering terjadi pada anak-anak. Ada 64 anak laki-laki yang dirawat di rumah sakit selama 20 tahun, dan di antara mereka terdapat 43 anak (67%) yang disebabkan oleh sunat. Meskipun sunat dianggap sebagai prosedur bedah minor, namun ini tetap tidak bebas dari komplikasi.

2. Cedera gigitan binatang

Anak-anak memiliki kecenderungan lebih untuk terkena gigitan hewan, dan yang paling umum adalah gigitan anjing. Meskipun sebagian besar luka tidak parah, namun amputasi penis yang hampir total telah dilaporkan. Saat ini, komplikasi infeksi tidak banyak terjadi karena sebagian luka pada awalnya telah diperlakukan dengan baik, menggunakan antibiotik. Strategi pengobatan awal meliputi pembersihan luka dengan air yang cukup bersih, penanganan pada luka infeksi, dan pemberian antibiotik. Dalam beberapa kasus, vaksinasi terhadap tetanus dan rabies diperlukan.

3. Parafimosis

Parafimosis dapat terjadi setelah ereksi atau aktivitas seksual, seeta sebagai akibat dari cedera pada kepala penis. Parafimosis menyebabkan kulit kepala penis terjebak di belakang kepala penis. Jika kondisi ini berlangsung lama, itu akan menyebabkan rasa sakit dan pembengkakan, serta merusak aliran darah ke penis. Dalam kasus yang ekstrem, kurangnya aliran darah dapat mengakibatkan kematian jaringan (gangren), dan mungkin juga amputasi.

Pengobatan parafimosis berfokus dalam mengurangi pembengkakan kepala penis dan kulit kepala penis. Mengompreskan es dapat membantu mengurangi pembengkakan, yang mungkin dapat memberi tekanan pada kepala penis untuk mengeluarkan darah dan cairan dengan paksa. Jika langkah-langkah ini gagal untuk mengurangi pembengkakan, obat suntikan dapat digunakan untuk membantu menguras penis jika diperlukan. Pada kasus yang parah, dokter bedah dapat membuat luka kecil di kulit kepala penis untuk mengeluarkannya. Sunat juga dapat digunakan untuk pengobatan kondisi ini.

4. Kanker penis

Kanker penis adalah bentuk kanker yang langka. Ini terjadi ketika sel-sel abnormal tumbuh tak terkendali pada penis. Tumor jinak (non-kanker) dapat berkembang dan menjadi kanker. Penyebab pasti dari kanker penis tidak diketahui, tetapi ada faktor risiko ( faktor yang dapat meningkatkan risiko) untuk penyakit ini, yaitu:

  • Tidak sunat: Pria yang tidak disunat saat kecil berisiko tinggi terkena kanker penis.
  • Infeksi human papillomavirus (HPV): HPV mencakup lebih dari 100 jenis virus yang dapat menyebabkan kutil. Beberapa jenis HPV dapat menginfeksi organ reproduksi dan daerah anal. Jenis HPV ini ditularkan dari satu orang ke orang lain selama kontak seksual.
  • Merokok: Merokok mengekspos tubuh pada banyak bahan kimia penyebab kanker yang dapat mempengaruhi paru-paru dan yang lainnya.
  • Smegma: Cairan berminyak dari kulit dapat menumpuk di bawah kulit kepala penis (kulup). Hasilnya akan ada zat yang tebal dan bau yang disebut smegma. Jika penis tidak dibersihkan secara menyeluruh, kehadiran smegma dapat menyebabkan iritasi dan peradangan.
  • Fimosis: Ini adalah suatu kondisi di mana kulup menjadi mengerut dan sulit untuk meregang.
  • Pengobatan untuk psoriasis: Penyakit kulit psoriasis terkadang diobati dengan kombinasi obat dan paparan sinar ultraviolet, yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker penis.
  • Umur: Lebih dari setengah kasus kanker penis terjadi pada pria di atas usia 68 tahun.

Gejala kanker termasuk pertumbuhan atau luka pada penis, keluarnya cairan dari penis, dan pendarahan.

BACA JUGA:

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Male Reproductive Problems: Penis disorders http://www.medicinenet.com/penis_disorders/page6.htm. Accessed November 14, 2016.

Penile Fracture and Trauma http://emedicine.medscape.com/article/456305-overview?pa=GC9ZORl%2B%2BJEpJBPWLCKixBaUpX9A%2BMvdRiL3JDNboBrKYop8zBfZvyQ3mCoDoSGIhvRm%2FOoQaGc%2BXTIAHCKWHVaycSibeA0Q%2FJsWK%2BpGHzs%3D. Accessed November 14, 2016.

Traumatic Penile Injury: From circumcision injury to penile amputation https://www.hindawi.com/journals/bmri/2014/375285/. Accessed November 14, 2016.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Adinda Rudystina
Tanggal diperbarui 19/11/2016
x