Obat Antibiotik untuk Batuk, Kapan Efektif Digunakan?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 02/04/2020
Bagikan sekarang

Sebagian besar penyebab dari penyakit batuk berkepanjangan adalah terjadinya inflamasi pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh infeksi virus. Namun penanganan yang salah kerap dilakukan untuk mengatasi gangguan kesehatan ini, salah satunya adalah mencoba menghentikan gejala yang diakibatkan oleh virus dengan antibiotik. Padahal antibiotik hanya efektif untuk batuk yang disebabkan oleh infeksi bakteri

Apabila Anda terus mengonsumsi antibiotik untuk menyembuhkan batuk yang disebabkan oleh virus justru dapat membuat tubuh resistan terhadap antibiotik tersebut. Simak lebih jelasnya mengenai penggunaan antibiotik untuk mengatasi gejala batuk pada ulasan di bawah ini. 

Obat antibiotik tidak ampuh untuk batuk karena pilek

Batuk dan pilek disertai badan meriang adalah salah satu alasan izin sakit yang paling sering muncul pada anak sekolah atau orang dewasa yang bekerja. Setiap tahun, orang dewasa rata-rata terserang 2-3 kali kasus batuk dan pilek, sementara anak-anak mungkin bisa lebih sering lagi.

Tapi minum antibiotik untuk batuk dan pilek biasa tidak akan menyembuhkan masalah Anda. Obat-obatan antibiotik hanya bekerja melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Sementara dalam hampir sebagian kasus batuk dan pilek, penyakit merepotkan ini disebabkan oleh virus.

Bahkan, kebanyakan kasus bronkitis dan sinusitis yang sama-sama ditandai oleh gejala batuk dan hidung meler juga disebabkan oleh virus. Ada lebih dari 200 jenis virus berbeda yang dapat menyebabkan batuk dan pilek. Rhinovirus adalah salah satu virus penyebab batuk dan pilek yang paling umum.

Obat antibiotik melawan bakteri bukan virus

Antibiotik akan bekerja menyembuhkan batuk secara efektif saat yang menyebabkan infeksi dalam saluran pernapasan adalah bakteri. Akan tetapi, pada batuk yang disebabkan oleh virus, virus tidak dapat dimusnahkan oleh antibiotik.

Penggunaan antibiotik untuk batuk sebaiknya dilakukan saat infeksi bakteri yang terjadi tidak dapat dihentikan dengan sendirinya. Terdapat juga kondisi di mana bakteri dapat menginfeksi bersamaan dengan saat seseorang terkena batuk akibat virus. Dalam kondisi ini, obat antibiotik dapat membantu proses penyembuhan.

Studi yang dilakukan oleh Universitas Southampton, Inggris di tahun 2012 telah membuktikan bahwa penggunaan antibiotik untuk gejala batuk yang disebabkan oleh virus sama sekali tidak memberi efek positif apapun, sama halnya dengan tidak melakukan pengobatan sama sekali.

Selama 7 hari 2061 peserta yang sebagian besar adalah orang dewasa secara acak mengonsumsi antibiotik berupa amoxicillin dan plasebo sebanyak 3 kali dalam sehari.

Dari hasil penelitian tidak ada perubahan yang signifikan terhadap parahnya gejala batuk, meskipun plasebo sedikit memberikan pengaruh baik terhadap kondisi kesehatan peserta yang berumur di atas umur 60 tahun.

Sedangkan penggunaan antibiotik yang awalnya digunakan untuk obat batuk malah menimbulkan sejumlah efek samping, seperti gatal-gatal, mual, dan diare.

Kapan antibiotik untuk batuk diperlukan?

Pria mengalami gejala batuk

Jika masih belum bisa menentukan apakah Anda perlu minum antibiotik untuk menyembuhkan batuk, berikut ini adalah beberapa kondisi yang memperlihatkan gejala batuk yang disebabkan oleh bakteri dan virus menurut Dr. Sharon Orrange dari Keck School of Medicine of USC.

1. Pneumonia

Pneumonia adalah penyakit paru-paru basah yang dapat mengakibatkan batuk berkepanjangan. Sebagian besar penyakit ini disebabkan oleh bakteri sehingga membutuhkan obat batuk antibiotik untuk dapat menyembuhkannya.

Gangguan kesehatan yang diakibatkannya ditandai dengan kemunculan demam, sesak nafas, nyeri disekujur badan, sakit kepala, kelelahan, mual, dan kehilangan selera makan.

Pun demikian, pneumonia memiliki gejala yang serupa dengan penyakit flu yang disebabkan oleh virus. Untuk itu, Anda perlu berkonsultasi ke dokter guna memastikan apakah perlu mengonsumsi antibiotik atau tidak.

2. Radang tenggorokan

Sebagian besar radang tenggorokan yang menjadi gejala dari batuk memang disebabkan oleh virus, namun jika disertai dengan pembengkakkan amandel atau sampai terasa sulit untuk menelan dapat dimungkinkan diakibatkan oleh bakteri.

3. Bronkitis kronis

Saat Anda mengalami batuk tanpa henti selama lebih 5 hari, kemungkinan Anda mengalami bronkitis kronis. Menurut penelitian, rata-rata pengidap bronkitis kronis mengalami batuk berkepanjangan selama 24 hari dengan atau tanpa dahak.

Penyebab utama dari penyakit ini adalah virus, maka pemberian antibiotik seperti augmetin atau amoxicillin sama sekali tidak memberikan pengaruh apapun dalam meredakan gejala batuk.

4. Perubahan warna dahak

Dahak yang berubah menguning tidak menjadi tanda bahwa Anda memerlukan antibiotik untuk menyembuhkan batuk. Sebaliknya, ini adalah gejala yang umum dialami orang yang mengalami infeksi tenggorokan akibat virus. Warna kuning pada dahak berasal dari bekas sel-sel yang dimatikan oleh virus yang kemudian tercampur di dalam dahak.

Kegunaan amoxicillin dalam mengatasi batuk

Amoxicillin obat batuk antibiotik

Amoxicillin merupakan antibiotik golongan penicillin yang memliki kemampuan membasmi bakteri. Amoxicillin mencegah bakteri tumbuh untuk membangun jaringan dinding baru yang dapat melukai tenggorokan.

Obat antibiotik ini digunakan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh bakteri, seperti tonsillitis, bronkitis, pneumonia, gonorrhea, termasuk infeksi yang terjadi di telinga, hidung, tenggorokan, kulit, dan kantung kemih.

Amoxicillin tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, dan larutan. Jika digunakan untuk mengatasi batuk, antibiotik ini dikonsumsi sebanyak dua kali dalam sehari, tepatnya setiap 12 jam dan 8 jam sekali. Namun, ini juga bergantung dengan instruksi yang diberikan oleh dokter.

Efek samping amoxicilin yang bisa disebabkan oleh antibiotik untuk batuk ini di antaranya:

  • dada terasa sesak
  • sulit bernapas
  • gatal-gatal
  • muncul ruam pada kulit
  • pembengkakkan wajah dan tenggorokan

Pastikan Anda tidak memiliki alergi terhadap antibiotik golongan penicillin sebelum mengonsumsinya. Untuk memastikan dokter memberikan dosis amoxicillin yang aman untuk Anda, beri tahu dahulu jika Anda menderita penyakit asma, liver, atau mononucleosis.

Efek samping dari penggunaan antibiotik untuk batuk

Perempuan terkena efek samping obat

Sedikit dosis antibiotik dapat digunakan untuk mengatasi gejala batuk ringan. Namun pada orang yang menderita penyakit kronis atau daya tahannya sedang turun, penggunaan antibiotik dapat menyebabkan sejumlah efek samping, bahkan mengakibatkan risiko komplikasi.

Terus-menerus mengonsumsi antibiotik di saat tubuh tidak membutuhkan antibiotik untuk melakukan pemulihan, bisa memberikan dampak negatif bagi kesehatan tubuh.

Beberapa efek samping yang kerap ditimbulkan dari penggunaan obat batuk antibiotik seperti alergi, mual sampai muntah-muntah, dan diare.

Sekitar 1 sampai 5 dari setiap 100 anak-anak memiliki alergi terhadap antibiotik. Beberapa dari reaksi alergi bisa berdampak serius dan mengancam nyawa.

Hati-hati, bakteri bisa resistan terhadap antibiotik!

Resistansi bakteri obat batuk antibiotik

Antibiotik secara spesifik ditujukan untuk mengobati infeksi bakteri. Ketika Anda terus menerus minum antibiotik untuk mengobati batuk yang disebabkan oleh infeksi virus, antibiotik lama-kelamaan akan jadi tidak efektif untuk memerangi bakteri jahat.

Salah satu dampak dari kesalahan pengguanaan obat batuk antibiotik yang paling berbahaya adalah resistansi antibiotik. Ini adalah kondisi di mana meningkatnya kemampuan adaptasi bakteri terhadap zat antibiotik yang digunakan untuk melawannya.

Bakteri mampu mengeliminasi kekuatan antibiotik bahkan menetralkan kandungan kimianya. Hal ini mengakibatkan antibiotik tidak lagi mampu bekerja secara efektif dalam membasmi bakteri.

Sederhananya, bakteri sudah kebal terhadap efek yang diberikan oleh antibiotik. Alhasil, bakteri  tetap bertahan dan terus berkembang, memperparah infeksi di saluran pernapasan. 

Resistansi terjadi saat antibiotik untuk batuk terlalu sering dikonsumsi. Setiap seseorang mengonsumsi antibiotik, bakteri-bakteri sensitif memang berhasil dimusnahkan, namun masih terdapat sisa bakteri lain yang berkembang biak.

Semakin sering antibiotik digunakan, maka semakin banyak jumlah bakteri sisa yang berkembang. Oleh karena itu, penggunaan obat batuk antibiotik harus dilakukan secara bijak dalam waktu-waktu tertentu saja.

Cara konsumsi antibiotik untuk batuk

Resep obat batuk antibiotik

Berikut ini adalah beberapa cara mengonsumsi obat antibiotik untuk batuk dengan tepat agar terhindar dari efek resistansi.

  • Cuci tangan menggunakan sabun dan air sebelum makan dan menggunakan kamar mandi. Menjaga tangan higienis mencegah pertumbuhan bakteri pada tubuh.
  • Tidak mengonsumsi antibiotik untuk penyakit batuk yang diketahui disebabkan oleh infeksi virus.
  • Mengonsumsi antibiotik sesuai dengan dosis dan aturan yang dianjurkan oleh dokter.
  • Tidak mengonsumsi obat batuk antibiotik yang diresepkan orang lain karena dosis yang berbeda justru dapat berakibat buruk. Salah dalam mengonsumsi antibiotik malah memperlambat proses penyembuhan dan mempercepat perkembangan bakteri.
  • Konsumsi antibiotik sebaiknya segera dihentikan ketika gejala batuk sudah sepenuhnya membaik .

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kena Flu Saat Puasa Itu Baik! Kok Bisa? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Menyebalkan memang jika terkena flu saat puasa. Namun, tahukah Anda jika kena flu saat puasa justru akan membuat tubuh lebih baik dan Anda cepat pulih?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Hari Raya, Ramadan 04/05/2020

3 Cara Jitu Mencegah Mimpi Basah Saat Puasa

Baik laki-laki remaja maupun pria dewasa sama-sama bisa mengalami mimpi basah. Lantas, adakah cara untuk mencegah mimpi basah saat puasa?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hari Raya, Ramadan 24/04/2020

Sulit Dihentikan, Ini 3 Tips Mengurangi Kebiasaan Menyentuh Wajah

Sadar atau tidak, menyentuh wajah ternyata menjadi kebiasaan sehari-hari yang sulit ditinggalkan. Padahal, efeknya cukup buruk bagi kesehatan Anda.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 23/04/2020

Kapan Harus Minum Obat Saat Sudah Mulai Batuk?

Minum obat batuk apakah harus menunggu gejala jadi parah? Selain mengetahui waktu tepat minum obat, pilih kandungan obat yang tepat agar batuk cepat pulih.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Batuk, Health Centers 22/04/2020

Direkomendasikan untuk Anda

gerimis bikin sakit

Benarkah Gerimis Lebih Bikin Sakit Daripada Hujan?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 31/05/2020
mulut terasa pahit saat puasa

5 Penyebab Mulut Anda Terasa Pahit Saat Puasa

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 19/05/2020
air mani keluar saat puasa

4 Cara Mencegah Keluar Air Mani Saat Puasa

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 17/05/2020
tips jogging saat puasa

5 Tips Aman Tetap Jogging Saat Puasa

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 13/05/2020