home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Paraben dalam Kosmetik: Benarkah Berbahaya?

Paraben dalam Kosmetik: Benarkah Berbahaya?

Paraben sedang menjadi topik hangat yang diperbincangkan di dunia kecantikan dan kesehatan beberapa tahun terakhir ini. Banyak orang yang beranggapan bahwa kandungannya dapat memberikan efek yang berbahaya untuk kesehatan. Lantas, bagaimana dengan faktanya?

Apa itu paraben?

Paraben merupakan sekelompok zat kimia yang digunakan sebagai pengawet dalam produk kosmetik dan farmasi. Tujuan dari penambahannya adalah untuk membantu mencegah timbulnya jamur dan bakteri serta menjaga kualitas produk.

Dalam istilah kimia, paraben dikenal dengan nama para-hydroxbenzoate. Jenis yang paling sering digunakan pada produk kosmetik adalah methylparaben, propylparaben, and butylparaben.

Banyak produk perawatan yang berparaben, di antaranya adalah shampoo, gel cukur, pelumas, farmasi, riasan wajah, losion dan pasta gigi.

Zat ini dapat diserap melalui kulit dan juga bisa masuk ke dalam tubuh ketika Anda mengonsumsi obat-obatan atau makanan dan minuman yang memiliki kandungannya. Paraben yang masuk dapat dikeluarkan kembali oleh tubuh dengan cepat.

Kesalahpahaman terhadap paraben

Zat ini dulunya dianggap sebagai agen xenoestrogent, zat yang struktur kimianya mirip dengan estrogen. Estrogen sering dikaitkan dengan terjadinya penggandaan sel kanker atau non-kanker dalam payudara.

Dari informasi tersebut, produk berparaben dianggap dapat meningkatkan risiko terhadap kanker payudara. Tak hanya itu, zat ini juga dipercaya dapat menimbulkan reaksi alergi, aktivitas estrogenik, serta sensitivitas terhadap paparan matahari.

Kemudian, pada tahun 2004 peneliti dari Inggris Philippa Dabre, Ph.D menemukan adanya paraben pada tumor payudara yang berbahaya. Dari penelitian tersebut, tim peneliti menyarankan untuk membatasi penggunaan zat ini dalam kosmetik.

Kabar ini pun sampai ke telinga konsumen. Akibatnya, penjualan kosmetik mengalami penurunan dan perusahaannya mengalami kerugian. Sehingga, mereka pun akhirnya mulai memproduksi kosmetik organik yang bebas dari para-hydroxbenzoate.

Namun, hingga saat ini, tidak ada penelitian yang benar-benar membuktikan bahwa zat ini secara langsung dapat menyebabkan kanker dan penyakit lainnya.

Apakah paraben dalam kosmetik harus dihindari?

Tentunya, sesuatu yang berlebihan tidak baik dan dapat membahayakan tubuh. Namun, jumlah paraben yang sedikit pada produk Anda tidak akan mengganggu kesehatan Anda.

Pada tahun 1984, organisasi Cosmetic Ingredient Review menyatakan bahwa paraben adalah kandungan yang aman digunakan dalam produk kosmetik.

Namun, setelah penelitian pada tahun 2004, Cosmetic Ingredient Review melakukan penelitian sekali lagi di tahun 2005 untuk membuktikan dampaknya pada kesehatan.

Banyak penelitian pada bayi dan wanita yang menemukan bahwa kadar paraben yang sangat sedikit pada produk tidak menyebabkan kanker atau membahayakan kesehatan Anda.

Zat ini bisa terserap ke dalam tubuh dalam dua cara, yaitu melalui kulit dan melalui mulut. Kosmetik, produk kecantikan, dan perawatan memiliki paraben yang memasuki tubuh melalui kulit.

Setelah itu, paraben termetabolisme sempurna sebelum masuk ke sistem peredaran dan dikeluarkan melalui urin. Kesimpulannya adalah, tidak mungkin bahwa zat dalam dosis kecil di produk perawatan kulit dapat menyebabkan kanker.

Jadi, produk berparaben secara resmi dianggap aman atau tidak?

Banyak organisasi internasional yang telah meneliti efek zat ini terhadap kulit. Di Amerika Serikat, American Cancer Society dan FDA telah melihat paraben dari sudut pandang eksperimen dan pengobatan.

Mereka menyatakan bahwa kosmetik yang berparaben tidak akan mengganggu kesehatan maupun menyebabkan kanker payudara.

Anda tidak perlu khawatir terhadap zat ini pada produk perawatan. Organisasi lain, Health Canada, FDA di Kanada juga menyatakan bahwa belum ditemukannya bukti hubungan antara paraben dan kanker payudara.

Kosmetik yang berparaben tidak melulu membahayakan konsumen seperti yang selama ini dipercaya. Produk yang mengandung kandungan organik juga mengandung zat kimia satu ini.

Makanan seperti kacang kedelai, kacang-kacangan, flax, buah-buahan, bluberi, wortel dan ketimun juga menghasilkan paraben. Namun tidak perlu khawatir terhadap zat kimia ini.

Paraben hanyalah zat kimia umum yang ditemukan pada kosmetik tanpa bahaya kesehatan seperti yang selama ini disebutkan. Jadi, Anda tak perlu terlalu khawatir akan penggunaannya dalam produk kecantikan.

Hanya saja, Anda tetap harus berhati-hati, sebab penggunaan produk berparaben pada orang-orang yang berkulit sensitif bisa saja mengalami tanda-tanda iritasi seperti gatal-gatal atau kemerahan. Bila hal ini terjadi, lebih baik hentikan pemakaian atau hubungi dokter kulit.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Parabens in Cosmetics. (n.d.). U.S. Food and Durg Administration. Retrieved 10 June 2021, from http://www.fda.gov/Cosmetics/ProductsIngredients/Ingredients/ucm128042.htm

Paraben Information. (n.d.). Cosmetics Info. Retrieved 10 June 2021, from https://cosmeticsinfo.org/paraben-information

Parabens. (2017). Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved 10 June 2021, from https://www.cdc.gov/biomonitoring/Parabens_FactSheet.html

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Lika Aprilia Samiadi Diperbarui 27/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x