Paraben dalam Kosmetik: Benarkah Berbahaya?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Paraben adalah topik hangat yang diperbincangkan di dunia kecantikan dan kesehatan beberapa tahun terakhir ini. Namun, berapa banyak orang yang benar-benar mengetahui apa itu paraben dan apa dampaknya pada kesehatan? Konsumen perlu membaca informasi yang dapat dipercaya mengenai paraben untuk meluruskan kebingungan terkait apakah paraben dalam kosmetik beracun dan menyebabkan kanker.

Apa itu paraben?

Paraben digunakan sebagai pengawet dalam produk kosmetik dan farmasi. Paraben membantu mencegah timbulnya jamur dan bakteri, melindungi konsumen, dan menjaga kualitas produk. Dalam istilah kimia, paraben merupakan ester dari p-hydroxybenzoic acid. Jenis paraben yang paling sering digunakan pada produk kosmetik adalah methylparaben, propylparaben, and butylparaben. Banyak produk perawatan yang mengandung paraben, seperti shampoo, gel cukur, pelumas, farmasi, riasan wajah, losion dan pasta gigi.

Kesalahpahaman terhadap paraben

Paraben dulunya dianggap sebagai agen xenoestrogent yang mengimitasi estrogen pada tubuh. Efek buruk estrogen sering dikaitkan dengan masalah pada dada dan regenerasi. Berita ini menyebar pada tahun 1990-an. Setelah itu, para peneliti menyatakan bahwa paraben memiliki efek negatif terhadap kesehatan, terutama kanker. Selain itu, pada tahun 2004 peneliti dari Inggris Philippa Dabre, Ph.D menemukan adanya paraben pada tumor payudara yang berbahaya. Menurut penelitian tersebut, ia menyarankan untuk membatasi kadar paraben dalam kosmetik.

Konsumen mulai mendengar bahwa paraben adalah penyebab reaksi alergi, kanker payudara, aktivitas estrogenik dan paparan matahari. Perusahaan kosmetik mengalami kerugian karena skandal paraben ini, sehingga mereka memproduksi kosmetik organik bebas paraben. Namun, hingga saat ini, tidak ada penelitian profesional yang membuktikan bahwa paraben menyebabkan kanker dan penyakit lainnya.

Apakah paraben dalam kosmetik harus dihindari?

Perlukah Anda menghindari paraben dalam kosmetik? Tentu, sesuatu yang berlebihan dapat membahayakan. Namun, jumlah paraben yang sedikit pada produk Anda tidak akan mengganggu kesehatan Anda. Pada tahun 1984, organisasi Cosmetic Ingredient Review menyatakan bahwa paraben adalah kandungan yang aman digunakan dalam produk kosmetik. Namun, setelah penelitian pada tahun 2004, Cosmetic Ingredient Review melakukan penelitian sekali lagi di tahun 2005 untuk membuktikan dampak paraben pada kesehatan. Banyak penelitian pada bayi dan wanita yang menemukan bahwa kadar paraben yang sangat kecil pada produk tidak menyebabkan kanker atau membahayakan kesehatan Anda.

Ada 2 cara paraben terserap ke dalam tubuh: melalui kulit dan melalui mulut. Kosmetik, produk kecantikan, dan perawatan memiliki paraben yang memasuki tubuh melalui kulit. Setelah itu, paraben termetabolisme sempurna sebelum masuk ke sistem peredaran dan dikeluarkan melalui urin. Kesimpulannya adalah, tidak mungkin bahwa paraben dalam dosis kecil di produk perawatan kulit dapat menyebabkan kanker.

Apakah paraben secara resmi dianggap aman atau tidak?

Banyak organisasi internasional yang telah meneliti efek paraben terhadap kulit. Di Amerika Serikat, American Cancer Society dan FDA telah melihat paraben dari sudut pandang eksperimen dan pengobatan. Mereka menyatakan bahwa paraben pada kosmetik tidak dapat merusak kesehatan maupun menyebabkan kanker payudara. Konsumen tidak perlu khawatir terhadap zat ini pada produk perawatan mereka. Organisasi lain, Health Canada, FDA pada Kanada juga menyatakan bahwa belum ditemukannya bukti hubungan antara paraben dan kanker payudara.

Paraben dalam kosmetik tidak melulu membahayakan konsumen seperti yang selama ini dipercaya. Produk yang mengandung kandungan organik juga mengandung paraben. Makanan seperti kacang kedelai, kacang-kacangan, flax, buah-buahan, bluberi, wortel dan ketimun menghasilkan paraben. Namun tidak perlu khawatir terhadap zat kimia ini. Paraben hanyalah zat kimia umum yang ditemukan pada kosmetik tanpa bahaya kesehatan seperti yang selama ini disebutkan. Jadilah konsumen yang cerdas dalam menerima informasi terhadap produk.

BACA JUGA:

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Rhabdomyosarkoma (Rabdomiosarkoma)

Rhabdomyosarkoma atau rabdomiosarkoma adalah kanker yang menyerang jaringan lunak tubuh. Cari tahu gejala, penyebab, dan pengobatannya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Kanker, Penyakit Kanker Lainnya 11 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit

Tumor Mediastinum

Tumor mediastinum adalah jaringan abnornal yang terjadi di bagian mediastinum atau rongga dada. Ketahui gejala, penyebab, dan pengobatannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kanker, Penyakit Kanker Lainnya 10 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Glioblastoma

Glioblastoma adalah jenis kanker otak yang paling umum terjadi pada orang dewasa. Intip pengertian, gejala, penyebab, dan pengobatannya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kanker, Kanker Otak 10 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Adenoma Bronkus

Kalkulator BMI Benarkah berat badan Anda sudah ideal? Ayo Cari Tahu! Your browser does not support iframes. ...

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Pernapasan, Penyakit Pernapasan Lainnya 8 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit



Direkomendasikan untuk Anda

penyebab bulu mata rontok

Tanpa Disadari, Hal-Hal Ini Bisa Menyebabkan Bulu Mata Rontok

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 14 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
masker mengecilkan pori-pori

3 Masker Alami untuk Mengecilkan Pori-pori Wajah

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Amiloidosis

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
minyak jojoba untuk melawan keriput

Penuaan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit