Hati-hati Bahaya Paraben Dalam Produk Perawatan Tubuh

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Ada kurang lebih 35 jenis bahan kimia berbahaya yang terkandung dalam kosmetik. Salah satunya yang paling banyak kita temukan adalah paraben. Anda pasti pernah melihat label bertuliskan “paraben free pada produk-produk kecantikan.

Paraben merupakan pengawet yang digunakan dalam berbagai macam produk perawatan tubuh untuk mencegah pertumbuhan jamur, bakteri, dan mikroba lainnya pada krim dan kosmetik, terutama di tempat yang lembap seperti kamar mandi. Bahan kimia pengganggu endokrin ini dapat diserap melalui kulit, darah, dan sistem pencernaan. Menurut Arthur Rich Ph.D., ahli kimia kosmetik di Chesnut Ridge, New York, sekitar 85% kosmetik yang beredar di pasaran mengandung paraben.

Produk apa yang biasanya memiliki paraben?

Semua produk yang memiliki komposisi berakhiran paraben seperti, ethylparaben, butylparaben, methylparaben, propylparaben, isobutylparaben, isopropylparaben, dll., harus kita waspadai. Paraben bisa juga terdapat pada makanan, namun produk-produk berikut adalah yang paling sering kita pakai, seperti:

  • Shampo
  • Kondisioner
  • Losion
  • Deodoran
  • Sabun muka
  • Sabun mandi
  • Scrub
  • Kosmetik

Apa bahaya paraben?

Pemakaian rutin dan berkelanjutan dalam jangka panjang dari produk-produk yang mengandung paraben bisa mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan, dari yang ringan hingga yang serius.

1. Gangguan endokrin

Paraben berpotensi dalam mengganggu endokrin karena kemampuannya yang dapat meniru estrogen. Dalam studi sel, paraben mengikat lemah reseptor estrogen. Sebuah studi tahun 2004 telah mendeteksi paraben pada tumor payudara. Studi membuktikan bahwa pada konsentrasi yang cukup, paraben dapat meningkatkan proliferasi sel (tingkat pertumbuhan sel) kanker payudara MCF-7, yang seringnya digunakan sebagai pengukur sensitivitas aktivitas estrogenik. Dalam sel MCF-7, isobutylparaben dan isopropylparaben paling berpotensi dalam proliferasi, namun mereka masih 170.000 kali lebih rendah dibandingkan dengan estradiol.

Yang disebut sebagai “rantai panjang”paraben, seperti butylparaben, isobutylparaben, isopropylparaben dan propylparaben, memiliki aktivitas estrogenik terkuat di antara yang banyak digunakan dalam produk perawatan tubuh Sebuah studi memaparkan bahwa isobutylparaben prenatal pada tikus menunjukkan peningkatan berat badan rahim dan kepekaan uterus ke estrogen pada keturunannya. Ethylparaben menunjukkan tingkat yang rendah pada aktivitas estrogenik dan methylparaben menunjukkan hampir tidak ada aktivitas estrogen. Selain melangsungkan efek estrogenik, paraben dapat memblokir androgen (misalnya testosteron) dan menghambat enzim yang memetabolisme estrogen.

2. Kanker kulit

Menggunakan produk perawatan kulit yang mengandung paraben, terutama methylparaben dapat memicu kerusakan sel-sel kulit dan gangguan proliferasi sel. Penggunaan sehari-hari dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi methylparaben karena zat ini tidak sepenuhnya dapat diolah oleh tubuh. Ketika paraben dikombinasikan dengan bahan kimia estrogenik lainnya, hal tersebut berpotensi untuk memengaruhi perkembangan melanoma ganas (salah satu bentuk kanker kulit), melalui aktivitas estrogenik dan genotoksik.

3. Mengganggu kesuburan

Propylparaben dan butylparaben dapat mengurangi produksi sperma dan memicu penurunan tingkat testosteron, sedangkan methylparaben dan ethylparaben tidak mempengaruhi produksi sperma. Efek tersebut akan muncul tergantung dengan dosis yang Anda pakai. Selain itu, sebuah studi menemukan bahwa paparan butylparaben untuk wanita semasa kehamilan dan menyusui akan mengubah perkembangan organ reproduksi dan produksi sperma.

Secara umum, propylparaben dan butylparaben dapat mengganggu sistem reproduksi laki-laki dan mempengaruhi organ reproduksi. Hal ini disebabkan oleh aktivitas estrogenik yang telah dijelaskan di atas.

Pelarangan pemakaian paraben

Pada 2014, Komisi Regulasi Uni Eropa melarang isopropylparaben, isobutylparaben, phenylparaben, benzylparaben, dan pentylparaben. Dan pada 16 April 2015, Komisi Uni Eropa menilai bahwa penggunaan butylparaben dan propylparaben secara terus-menerus berpotensi risiko terhadap kesehatan manusia. Oleh karena itu, penggunaannya harus sesuai dengan rekomendasi Scientific Committee on Consumer Safety (SCCS). Meskipun penggunaan paraben di kosmetik tergolong kecil, namun jika seluruh produk personal care dan kosmetik yang kita gunakan setiap hari memiliki paraben, tentu akan berbahaya.

Bagaimana cara menghindarinya?

Carilah produk berlabel “paraben free“dan bacalah daftar bahan pada label untuk menghindari produk yang memiliki paraben. Banyak produsen kosmetik alami dan organik telah menemukan alternatif yang efektif untuk mencegah pertumbuhan mikroba dalam produk perawatan tubuh tanpa harus menggunakan paraben. Beberapa perusahaan juga telah menciptakan produk bebas pengawet yang memiliki daya tahan lebih pendek dari produk konvensional, yaitu enam hingga satu tahun.

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Penyebab Jamur pada Kuku yang Perlu Anda Ketahui

Kuku rapuh dan menghitam merupakan tanda-tanda infeksi jamur pada kuku. Apa penyebab jamur kuku dan bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Kesehatan Kulit, Perawatan Kuku 19 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

4 Tips Perawatan Setelah Sunat Agar Cepat Sembuh

Anda perlu memberikan perawatan yang tepat untuk mencegah infeksi atau timbulnya komplikasi setelah sunat. Perhatikan panduannya berikut ini, ya.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 18 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Leher Hitam? Atasi dengan Cara Mudah Ini

Jika memiliki kulit leher hitam, ketahui dulu apa penyebabnya. Setelah itu, cari tahu cara menghilangkan hitam di leher. SImak di sini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Kesehatan Kulit 18 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Waspada Brazilian Blowout, Teknik Meluruskan Rambut dengan Formalin

Smoothing sudah menjadi cara lama untuk meluruskan rambut. Sekarang ada tren Brazilian blowout dengan metode baru. Benarkah lebih aman dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Perawatan Rambut & Kulit Kepala, Kesehatan Kulit 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit



Direkomendasikan untuk Anda

pakai masker wajah setiap hari

Apakah Pakai Masker Wajah Setiap Hari Pasti Bikin Kulit Lebih Mulus?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
skincare anti-aging usia 50 tahun

Baru Pakai Skincare Antiaging Usia 50 Tahun ke Atas, Bermanfaatkah?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
manfaat bentonite clay

Mengenal Bentonite Clay dan Segudang Manfaatnya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
tips waxing di rumah

Tips Melakukan Waxing di Rumah Dengan Bahan-bahan Alami

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit