Jangan langsung dibuang, orangtua perlu mengintip isi popok anak setelah pup. Lakukan setiap kali pup dan jika perlu, buat pencatatannya. Sebab karakteristik pup bisa jadi indikator kesehatan pencernaannya, yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak.
Kesehatan saluran cerna anak memengaruhi lebih dari sekadar buang air besar. Dari penyerapan nutrisi sampai kenyamanan anak sehari-hari, semuanya ikut berkaitan. Karena itu, mengenali perubahan pola pup bisa menjadi langkah sederhana yang membantu orangtua lebih cepat memahami kondisi pencernaan si kecil.
Banyak orangtua baru memberi perhatian pada pencernaan anak saat si kecil mulai susah makan, rewel, atau buang air besar tidak seperti biasanya. Padahal, kesehatan saluran cerna merupakan salah satu fondasi penting dalam tumbuh kembang anak. Dari sinilah tubuh menyerap nutrisi yang dibutuhkan untuk bertumbuh, beraktivitas, dan berkembang optimal. Nutrisi yang baik pada awal kehidupan sendiri telah lama dipandang sebagai dasar kesehatan dan perkembangan anak secara menyeluruh.
Kesehatan Saluran Cerna
Hal itu menjadi tema yang diungkapkan Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi dr. Frieda Handayani Kawanto, Sp.A, Subsp. GH (K) dalam diskusi media bertema Bebelclub AI Poop Tracker yang dilakukan di Bungarampai, Menteng, Jakarta, Kamis (2/4/2026),
Dr Frieda menekankan bahwa kesehatan saluran cerna tidak berdiri sendiri. Menurutnya, kondisi ini berkaitan dengan penyerapan nutrisi, nafsu makan, suasana hati, hingga kualitas tidur anak. Karena itu, ketika pencernaan anak terganggu, dampaknya sering terasa ke banyak aspek keseharian, bukan hanya pada frekuensi BAB.
Gangguan pencernaan pada anak tidak selalu dramatis, sinyal awalnya justru muncul dari hal yang tampak sederhana, seperti: perubahan warna, tekstur, atau frekuensi feses. Dalam praktik sehari-hari, pemantauan pola buang air besar memang menjadi salah satu cara paling mudah bagi orangtua untuk mengenali apakah pencernaan anak sedang baik-baik saja atau perlu perhatian lebih.
Di sinilah orangtua sebenarnya bisa mengambil peran yang sangat besar. Bukan dengan menunggu sampai keluhan muncul, tetapi dengan membangun kepekaan terhadap pola harian anak. Coba tanyakan hal-hal berikut ini:
- Apakah anak BAB secara rutin?
- Apakah teksturnya berubah?
- Apakah ada perubahan yang terjadi bersamaan dengan nafsu makan yang menurun atau tidur yang menjadi kurang nyenyak?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu orangtua membaca kondisi anak lebih dini. Pendekatan seperti ini juga sejalan dengan literatur pediatri yang menyoroti pentingnya kesehatan usus dan mikrobiota dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.

Prebiotik dan Serapan Nutrisi
Selain dipantau, kesehatan saluran cerna juga perlu didukung dari sisi nutrisi. Salah satu komponen yang banyak dibahas dalam dunia pediatri adalah prebiotik, yaitu zat yang membantu menutrisi bakteri baik di usus dan mendukung keseimbangan mikrobiota.
Prebiotik disebut sebagai bagian penting dalam menjaga pencernaan yang sehat, termasuk melalui kombinasi seperti FOS, GOS, dan inulin. Secara umum, kajian American Academy of Pediatrics juga membahas peran prebiotik dalam konteks kesehatan anak, terutama dalam kaitannya dengan ekosistem mikroba usus.
Untuk bayi, dukungan terhadap mikrobiota usus secara alami sudah dimulai sejak awal kehidupan, terutama melalui ASI. Seiring pertambahan usia, kebutuhan nutrisi anak menjadi semakin beragam. Karena itu, setelah anak memasuki usia di atas 1 tahun, orangtua biasanya mulai lebih perlu memperhatikan kecukupan asupan serat, buah, sayur, dan sumber nutrisi lain yang mendukung kesehatan pencernaan.
“Prebiotik pertama bayi itu adalah Human Milk Oligosaccharides (HMO). Ini didapatkan dari ASI, cukup untuk bayi usia 0-6 bulan. Kemudian mulai masuk MPASI, bisa ditambahkan dari sayur dan buah-buahan,” kata dr Frieda.
Namun, lanjutnya, ada kalanya memang diperlukan tambahan prebiotik seperti FOS, GOS dan Inulin. “Misalnya, kalau ASI kurang. Atau, anak dirasa sulit makan sayur dan buah. Walaupun makan buah dan sayur ini harus tetap selalu diusahakan ya, moms,” ujarnya.
Pantau Setiap Hari? Ada Tools-nya
Di tengah perubahan gaya hidup orang tua modern, ada satu kebiasaan baru yang mulai terlihat: keinginan untuk lebih proaktif memantau, bukan hanya bereaksi saat masalah muncul. Itulah sebabnya pendekatan berbasis teknologi mulai mendapat tempat dalam perjalanan parenting. Orangtua ingin alat yang praktis, cepat, dan mudah dipahami untuk membantu mereka mengenali perubahan kondisi anak dari hari ke hari.
Dalam konteks ini, Bebeclub menghadirkan AI Poop Tracker sebagai alat bantu digital untuk memantau kondisi pencernaan anak melalui analisis feses. Tool ini dirancang agar orangtua lebih mudah memahami arti perubahan pup anak dan menjadikan pemantauan pencernaan sebagai bagian dari rutinitas harian, bukan hanya dilakukan saat muncul masalah. Di situs resminya, Bebeclub juga menempatkan AI Poop Tracker sebagai bagian dari pesan “Good Poop = Good Growth.“
Dari sisi medis, penggunaan AI untuk membantu pembacaan kondisi feses memang menarik untuk dicermati. Sebuah studi di Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition meneliti penggunaan machine learning untuk menilai konsistensi feses dari foto popok pada anak yang belum toilet trained. Temuannya menunjukkan bahwa pendekatan digital seperti ini berpotensi menjadi alat bantu objektif dalam pemantauan, meski tentu bukan pengganti evaluasi medis.
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK., Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia, mengatakan dalam acara yang sama bahwa AI Poop Tracker merupakan sebuah alat skrining. Ia mengatakan hal ini membantu orang tua dalam mengetahui dan menilai faktor risiko dan melakukan screening apakah ada kondisi yang membutuhkan perhatian lebih atau masih dalam batasan normal.
“Sedangkan untuk solusi, itu tidak dari AI, ya. Semua solusi itu harus diberikan melalui konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional,” ujarnya.
Posisi ini juga sejalan dengan pandangan dr. Frieda, yang menilai AI dapat menjadi supporting tool bagi orangtua, selama hasilnya tetap dibaca bersama observasi harian dan dikonsultasikan bila diperlukan.
Perasaan Orang Tua
Masih dalam acara yang sama, Rakhmania Pitaloka, Marketing Manager Consumer Value Journey & Customer Relationship Management Danone Specialied Nutrition (SN) Indonesia, menyebutkan bahwa AI Poop Tracker Bebeclub ini bisa memberikan hasil analisa 60 detik setelah orangtua memotret pup anaknya. Ia pun mengklaim tools tersebut memiliki akurasi 95%.
Dalam pengembangannya, AI Poop Tracker dikatakan telah melalui evaluasi dan validasi yang terpercaya, termasuk melalui rujukan ke berbagai sumber-sumber referensi medis.
Pengalaman orangtua pun membuat isu ini terasa semakin relevan. Winona Willy yang hadir di kegiatan itu sebagai ibu dan pengguna AI Poop Tracker menggambarkan bahwa kondisi pup anak berkaitan erat dengan kenyamanan anak sehari-hari. Ketika pencernaannya baik, ia melihat anak cenderung lebih ceria, lebih lahap makan, dan tidur lebih nyenyak.
Perspektif seperti ini penting, karena mengingatkan bahwa yang dipantau orangtua bukan sekadar feses, melainkan sinyal kecil yang bisa berhubungan dengan kualitas hidup anak setiap hari.
Dr Ray mengatakan, penelitian yang mereka lakukan juga menunjukkan bahwa isu pencernaan adalah salah satu isu yang paling menimbulkan stress pada orang tua. “Kalau ibunya stress, bapaknya ikut stress, seluruh keluarga jadi stress,” selorohnya.
Pada akhirnya, pesan terbesarnya sederhana: pencernaan sehat bukan isu kecil. Ia berkaitan dengan bagaimana anak menerima nutrisi, merasa nyaman, makan dengan baik, dan menjalani hari-harinya. Dan sering kali, petunjuk awalnya muncul dari sesuatu yang selama ini dianggap sepele.
Maka, mungkin sudah waktunya orangtua tidak lagi melihat pup anak sebagai urusan “belakangan”, tetapi sebagai salah satu jendela kecil untuk memahami tumbuh kembang si kecil dengan lebih peka.
























