home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Bagaimana Melindungi Kesehatan Mental Anak Selama Belajar Jarak Jauh di Masa Pandemi?

Bagaimana Melindungi Kesehatan Mental Anak Selama Belajar Jarak Jauh di Masa Pandemi?

Pandemi COVID-19 telah menyebabkan gangguan besar dalam kehidupan sehari-hari anak mulai dari bagaimana mereka bermain hingga belajar. Anak-anak harus beradaptasi dengan pembelajaran jarak jauh dalam waktu yang cukup lama. Penutupan sekolah selama masa pandemi bukan hanya berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran tapi juga kesehatan mental anak. Sebab, sekolah tak hanya tempat anak belajar tapi juga tempat mereka bersosialisasi dan berkembang secara emosional.

Menjaga kesehatan mental anak selama pandemi

kesehatan mental anak pandemi Pembelajaran jarak jauh

Menjadi sehat secara mental selama masa anak-anak berarti mencapai perkembangan emosional serta mempelajari keterampilan sosial yang sehat. Anak yang sehat secara mental memiliki kualitas hidup yang positif dan dapat beradaptasi dengan baik di rumah, di sekolah, dan di komunitasnya.

Gangguan kesehatan mental pada anak-anak umumnya didefinisikan sebagai keterlambatan atau gangguan dalam mengembangkan pemikiran, perilaku, keterampilan sosial, atau pengaturan emosi yang sesuai dengan usia mereka. Masalah-masalah ini membuat stres anak-anak dan mengganggu kemampuan mereka untuk berfungsi dengan baik di rumah, di sekolah, atau dalam situasi sosial lain.

Untuk menjaga kesehatan mental anak selama masa pandemi dan pembelajaran jarak jauh, orang tua bisa mengikuti rekomendasi Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) dalam mengenali dan mencegah stres pada anak selama masa pandemi.

Tanda stres pada anak selama pandemi COVID-19

  • Perubahan perilaku atau gestur yang tidak biasanya.
  • Emosi tidak stabil seperti mudah marah, mudah menangis.
  • Tidak bisa tenang.
  • Cemas berlebihan.
  • Tampak murung.
  • Tampak sedih berlebihan.
  • Menarik diri dari lingkungan.
  • Kehilangan kepercayaan diri.
  • Mudah putus asa.
  • Lengket berlebihan pada pengasuh/orang tua.
  • Gangguan tidur baik itu sulit tertidur, sering terbangun, sulit tidur setelah terbangun, atau mimpi buruk.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Nafsu makan menurun.
  • Ngompol, pada anak yang sudah tidak biasanya ngompol.

Cara mencegah stres pada anak selama belajar jarak jauh di masa pandemi COVID-19

  • Beri anak lebih banyak perhatian selama masa pandemi COVID-19.
  • Lebih sering ajak anak berbicara.
  • Dengarkan keluhan dan pendapat anak.
  • Libatkan anak dalam berdiskusi untuk menyusun agenda selama pandemi.
  • Dampingi anak bermain.
  • Dampingi anak belajar, termasuk ketika pembelajaran jarak jauh atau online.
  • Beri kesempatan anak untuk istirahat atau time-out yang sesuai.
  • Ajak dan dampingi anak menyusun agenda rutin keseharian.
  • Tetap lakukan aktivitas fisik yang cukup.
  • Orang tua menjadi role model bagi anaknya dengan memperlihatkan sikap tenang, tidak menampakan kecemasan, dan bersikap suportif.

Rekomendasi IDAI terkait pembelajaran jarak jauh yang sesuai dengan tumbuh kembang anak

kesehatan mental anak pandemi Pembelajaran jarak jauh

Pada masa pandemi seperti ini, saat anak harus tinggal di dalam rumah, durasi anak menatap layar atau screen time berisiko mengalami peningkatan. Ia harus menatap layar baik dari komputer, laptop, ataupun smartphone untuk melakukan pembelajaran jarak jauh. Anak kembali menghabiskan waktu bermain gim atau menonton video di depan layar.

Padahal anak memerlukan keseimbangan antara aktivitas fisik, screen time, dan waktu tidur yang merupakan kebutuhan dasar untuk tumbuh kembang yang optimal.

IDAI merekomendasikan beberapa hal terkait regulasi screen time. Screen time tidak dapat berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian integral yang komprehensif bersama dengan regulasi aktivitas fisik, regulasi aktivitas sedentarian, dan regulasi tidur yang sesuai dengan tahapan usia anak.

Anak usia sekolah

  • Screen time: tidak lebih dari 1 – 1,5 jam (90 menit).
  • Diskusikan dengan sekolah, sebaiknya pembelajaran jarak jauh secara daring tidak lebih dari 1,5 jam (90 menit) dalam sehari.
  • Konsisten untuk menetapkan batasan lama waktu screen time dan jenis media/acara yang ditonton.
  • Pastikan penggunaan media atau gadget tidak menjadi kebiasaan sebelum mengerjakan pekerjaan sekolah.
  • Coba untuk menemukan keseimbangan antara waktu untuk berkreativitas dengan waktu bersantai.
  • Orang tua dapat secara bertahap memberi kesempatan kepada anak untuk memilih sendiri atau mengatur dengan leluasa penggunaan waktu screen time.
  • Pastikan bahwa penggunaan gadget tidak menggantikan waktu untuk tidur, aktivitas fisik, dan kegiatan harian lain yang penting.
  • Masa tidur berkualitas bagi anak adalah 9-11 jam.

Usia Sekolah Menengah (12-18 tahun)

  • Screen time: tidak lebih dari 2 jam.
  • Diskusikan dengan sekolah, sebaiknya pembelajaran jarak jauh secara daring tidak lebih dari 2 jam dalam sehari.
  • Pada usia ini anak sudah mengerti konsep keseimbangan waktu, sehingga orang tua dapat membantu mereka untuk mengelola screen time yang sesuai dengan jadwal anak sendiri.
  • Masa tidur berkualitas adalah 8-10 jam.

Anjuran umum untuk orang tua/keluarga

  • Jangan pernah membiarkan anak menghabiskan waktunya menatap layar sendirian, tetap lakukan pendampingan dan interaksi dengan anak.
  • Berikan hanya konten materi (dari gadget) yang berkualitas dan hindarkan anak terpapar dari materi kekerasan.
  • Matikan semua perangkat gadget bila tidak sedang digunakan.
  • Jangan menggunakan gadget untuk menenangkan perilaku anak.
  • Bebaskan anak dari gadget di kamar tidur anak, pada saat makan, atau saat bermain.
  • Jangan memberikan gadget saat proses makan dan satu jam sebelum tidur.
  • Ciptakan berbagai aktivitas alternatif untuk membatasi waktu screen time dan untuk menenangkan perilaku anak.
  • Ikut merpartisipasi dalam aktivitas fisik regular bersama seperti berjalan santai, naik sepeda, atau jalan ke taman.
  • Orang tua harus menjadi model untuk anak, misalnya orang tua juga membatasi waktu screen time bagi diri sendiri tidak lebih dari 2 jam per hari.
  • Tentukan waktu bebas menggunakan gadget bersama, seperti di meja makan, atau di dalam mobil untuk mencapai keseimbangan.

Rekomendasi perlindungan anak di masa pandemi

kesehatan mental anak pandemi Pembelajaran jarak jauh

Selama masa pandemi anak perlu dilindungi haknya untuk menjaga kesehatan mental dan fisiknya. Untuk memenuhi hal ini orang tua, sekolah, dan masyarakat diharapkan dapat menjalankan perannya masing-masing dalam memberikan perlindungan pada anak.

Di rumah (orang tua/keluarga)

  • Jaga kesehatan anak dan penuhi kebutuhan nutrisi imunisasi sesuai usia anak.
  • Berikan kesempatan anak untuk beraktivitas fisik di lingkungan dan halaman rumah setiap hari secara rutin dengan tetap menjaga protokol kesehatan (memakai masker/face shield sesuai usia anak, cuci tangan, jaga jarak).
  • Libatkan anak dalam aktivitas rumah tangga sehari-hari sesuai dengan usia anak contohnya dengan membereskan tempat tidur atau menyapu lantai.
  • Sediakan waktu untuk bermain bersama anak di dalam rumah.
  • Berikan pengertian dan contoh pada anak tentang pentingnya menjaga kesehatan dan protokol kesehatan selama masa pandemi.
  • Berikan aturan pemakaian gadget, batasi penggunaannya, periksa pengaturan internet agar konten dewasa tidak bisa diakses oleh anak.
  • Tidak mendisiplinkan anak melalui tindakan fisik yang menyakiti anak, perkataan yang merendahkan anak, dan ancaman yang membuat anak takut.

Sekolah (Guru/Pendidik)

  • Berikan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan modifikasi kurikulum yang ada agar memudahkan orang tua mendampingi anak belajar di rumah.
  • Berikan edukasi pada anak untuk menjaga diri dari perbuatan tidak baik orang lain terhadap dirinya, misalnya berani berkata tidak atau teriak bila ada yang menyakitinya.

Masyarakat

  • Perangkat RT/RW membantu memantau kondisi warga atau anak yang menjalani masa pembatasan sosial.
  • Edukasi oleh tokoh masyarakat tentang masalah pada anak di masa pembatasan sosial termasuk masalah kekerasan dan penelantaran anak.
  • Masyarakat diimbau untuk membantu dan melaporkan apabila ada anak yang mengalami masalah selama masa pembatasan sosial.

Jangan ragu untuk segera konsultasi dengan dokter spesialis anak bila tanda-tanda stres muncul pada anak.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Arie Yulianto, M.Sc, Sp.A
Ditulis oleh dr. Arie Yulianto, M.Sc, Sp.A
Tanggal diperbarui 4 minggu lalu
x