Pentingnya Mengontrol Tumbuh Kembang Anak Saat Pandemi COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Meski pelayanan kesehatan anak terganggu akibat pandemi COVID-19, Ikatan dokter Indonesia (IDAI) menyarankan orangtua agar tidak menunda imunisasi dan tetap mengontrol tumbuh kembang anak di rumah. Apa saja yang perlu diperhatikan?

Kebutuhan dasar tumbuh kembang anak selama pandemi harus terpenuhi

perkembangan fisik anak pertumbuhan masa pandemi

IDAI memberi masukan kepada pemerintah agar tatanan new normal pandemi COVID-19 harus disesuaikan dengan kebutuhan dasar tumbuh kembang anak. Akses pelayanan kesehatan anak yang terganggu akan meningkatkan risiko penyakit atau malnutrisi yang seharusnya bisa dicegah.

“Konsep new normal diharapkan disusun sesuai kebutuhan dasar tumbuh kembang anak. Karena tumbuh kembang anak yang optimal akan menentukan kualitas generasi selanjutnya,” tulis IDAI dalam keterangan persnya. 

Selama masa pandemi, IDAI menekankan agar pemantauan tumbuh kembang anak tetap dilakukan sesuai rekomendasi Kementerian Kesehatan. Hal ini disebut dengan Intervensi Dini Penyimpangan Tumbuh Kembang Anak (SDIDTK) yang meliputi:

  1. Stimulasi dini: untuk merangsang otak balita agar perkembangan kemampuan gerak, bicara, bahasa, sosialisasi, dan kemandirian berlangsung optimal sesuai dengan umur anak.
  2. Deteksi dini tumbuh kembang anak: kegiatan pemeriksaan untuk mendeteksi adanya gangguan tumbuh kembang balita. Deteksi dini akan membuat penanganan menjadi lebih mudah.
  3. Intervensi dini: tindakan koreksi agar tumbuh kembang anak kembali normal atau minimal gangguannya tidak semakin berat.
  4. Rujukan dini: apabila balita perlu dirujuk ke dokter ahli, maka rujukan juga harus dilakukan sedini mungkin sesuai dengan indikasi.

Mau tidak mau, beberapa pelayanan kesehatan anak terganggu saat pandemi COVID-19 ini. IDAI mengingatkan orangtua untuk tetap memperhatikan pertumbuhan, perkembangan, dan imunisasi anak.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,314,634

Confirmed

1,121,411

Recovered

35,518

Death
Distribution Map

Cara mengontrol pertumbuhan anak selama di rumah

perkembangan motorik anak sd

Baik atau tidaknya pertumbuhan anak dapat dinilai dari pengukuran tinggi badan, berat badan, dan lingkar kepala. 

Mengutip situs web IDAI, pertumbuhan anak pada usia 0–24 bulan adalah masa pertumbuhan paling cepat. Pada masa ini, terjadi pertumbuhan pada otak dan organ lainnya yang sangat penting.

Gangguan pertumbuhan yang tidak terdeteksi bisa berakibat pada kualitas hidup anak di masa depan. Maka dari itu, selama pelayanan kesehatan anak tutup semasa pandemi, orangtua disarankan untuk mengontrol pertumbuhan dan perkembangan anak di rumah.

Cara mengetahui pertumbuhan bayi normal usia satu tahun adalah dengan menghitung beratnya yang mencapai tiga kali berat lahir. Kemudian, panjang badannya naik 50 persen dari panjang lahir dan lingkar kepala naiknya sekitar 10 cm dari saat lahir.

anak imunisasi covid-19

Setiap anak bertumbuh dengan kecepatan berbeda-beda sehingga perlu dilakukan pengukuran secara berkala untuk memastikan tidak ada gangguan dalam pertumbuhannya.

IDAI menyarankan pengukuran berkala dilakukan dengan jeda waktu sebagai berikut.

  • Pengukuran pertumbuhan bayi dari usia 0–12 bulan dilakukan setiap bulan.
  • Pengukuran pertumbuhan dari usia 1–3 tahun dilakukan setiap 3 bulan sekali.
  • Pengukuran pertumbuhan dari usia 3–6 tahun dilakukan setiap 6 bulan sekali.
  • Pengukuran dilakukan setiap 1 tahun sekali pada tahun-tahun berikutnya.

Tahapan tumbuh kembang anak selama pandemi ini bisa dikontrol orangtua di rumah. Orangtua bisa melakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan dengan alat ukur meteran jahit serta berat badan dengan timbangan yang ada di rumah. Pastikan pengukurannya tepat lalu mencatatnya.

Selain pertumbuhan fisik, orangtua juga harus memperhatikan perkembangan motorik, kemampuan bahasa, dan kemampuan kognitif anak dengan mengamati dan mencatatnya. Jika terjadi keterlambatan, konsultasikan dengan dokter anak.

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit