Panduan Mengajari Anak Penderita Autisme untuk Mengendalikan Diri

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 November 2019 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Salah satu tantangan terbesar dalam membesarkan anak dengan autisme adalah berkomunikasi secara efektif. Sering kali anak dengan autisme dikira sedang mengamuk (tantrum), padahal ia sedang mengalami meltdown. Sayangnya, mereka tidak bisa mengungkapkan emosi dan pikirannya dengan gamblang pada orangtua. Akibatnya, Anda dan anak pun malah jadi ribut karena sama-sama tidak paham. Lalu, bagaimana caranya mengajari anak dengan autisme supaya bisa mengendalikan diri saat meltdown? Ini dia tipsnya.

Mengenal meltdown pada anak dengan autisme

Meltdown berbeda dengan tantrum, yaitu amukan atau ledakan amarah anak pada umumnya. Pada kasus meltdown, anak-anak dengan autisme tidak mencari perhatian siapa pun. Mereka justru cenderung tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Selain itu, meltdown terjadi karena anak dengan autisme merasa tak berdaya. Sedangkan tantrum terjadi karena anak merasa ia punya kekuatan dan cara agar keinginannya dikabulkan.

Pada anak dengan autisme, meltdown bisa terjadi karena berbagai hal. Misalnya karena ia tidak tahan dengan cahaya yang menyilaukan, suara bising, perubahan rencana, atau rasa makanan yang asing di mulut. Hal ini membuatnya jadi resah. Keresahan ini diungkapkan misalnya dengan cara menangis, menjerit-jerit, menggaruk kulit, memukul, menendang, atau menggigit kuku.

Tips mengajari anak penderita autisme untuk mengendalikan diri

Meltdown pada anak dengan autisme pada dasarnya bisa dicegah dan dikendalikan. Berikut tips-tipsnya.

1. Menetapkan batas waktu tertentu

Supaya anak merasa penuh kendali, sebaiknya jelaskan berapa lama waktu yang akan dihabiskan untuk kegiatan-kegiatan tertentu. Anak mungkin jadi gelisah bila orangtua kelamaan belanja. Tenangkan anak dengan memberi tahu, “Lima belas menit lagi kita akan ke kasir”. Ini lebih ampuh daripada berulang kali menyuruh anak untuk sabar dan menunggu lebih lama.

2. Memberikan arahan yang jelas

Anak akan mulai meltdown ketika ia merasa bingung atau kaget. Jadi, usahakan untuk selalu memberi arahan yang jelas. Misalnya, “Sekarang kamu akan mandi. Baru setelah itu kita berangkat.” Jangan hanya berkata, “Cepat dong, jangan bermalas-malasan terus,” karena anak malah jadi bingung apa yang harus dilakukan.

3. Menyanjung perilaku baik anak

Bukan berarti orangtua harus memuji anak habis-habisan. Cukup beri tahu bahwa perilakunya yang baik patut dipertahankan. Dengan begitu, lama-lama anak dengan autisme akan membaca pola bahwa perilaku baik seperti itulah yang diharapkan darinya.

4. Gunakan bentuk kalimat positif

Saat meltdown, hindari kalimat negatif seperti, “Jangan menangis,” atau “Tidak boleh teriak-teriak.” Pasalnya, anak dengan autisme yang sulit berkonsentrasi mungkin hanya akan fokus pada kata-kata perintah seperti “menangis” dan “teriak-teriak”, bukan pada larangannya. Jadi sebaiknya gunakan kalimat yang positif. Misalnya, “Ayo tenang dulu,” atau, “Bicaranya pelan-pelan, ya.”

5. Ajari anak untuk mengungkapkan emosinya

Konsep abstrak seperti emosi memang sulit dipahami, apalagi saat anak sedang meltdown. Gunakan bantuan visual seperti ekspresi wajah dari gambar atau tokoh kartun favoritnya untuk mengungkapkan emosinya. Tanyakan pada anak apakah emosi tersebut yang sedang dirasakannya. Dengan belajar mengenali emosinya sendiri, anak bisa mengungkapkan perasaannya tanpa harus teriak-teriak atau menangis.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Proses Terjadinya Kehamilan: Dari Hubungan Intim Hingga Jadi Janin

Anda pasti sudah tahu bahwa kehamilan terjadi ketika sel sperma bertemu dengan sel telur. Namun, apakah Anda pernah berpikir bagaimana proses ini terjadi?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Program Hamil, Kesuburan, Kehamilan 22 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

Serba-Serbi Membesarkan Anak Dengan Kepribadian Introvert

Cari tahu apa itu introvert, apa tanda-tandanya jika si kecil memiliki kepribadian introvert, dan apa yang perlu Anda lakukan sebagai orangtua.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Monika Nanda
Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 20 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Bisakah Mencegah Autisme Sejak Anak dalam Kandungan?

Tentu kita tidak ingin memiliki anak autisme. Sebisa mungkin, kita ingin mencegahnya, bahkan sejak hamil. Apakah bisa mencegah autisme anak sedari hamil?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Prenatal, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 18 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Tanda-Tanda Keguguran yang Perlu Diketahui Ibu Hamil

Keguguran rentan menyerang kehamilan di usia muda atau trimester pertama. Berikut tanda-tanda keguguran yang perlu diwaspadai.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Masalah Kehamilan, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 17 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

fungsi hormon fsh dan lh

Memahami Fungsi Hormon FSH dan LH pada Sistem Reproduksi

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
pergerakan janin

Kapan Bisa Mulai Mendengar Detak Jantung Janin Dalam Kandungan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
anak cengeng

7 Cara Menghadapi Anak Cengeng Tanpa Drama

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
vitamin E untuk kesuburan

Vitamin E untuk Kesuburan, Benarkah Bisa Bikin Cepat Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit