Saat lansia jatuh sakit, menjalani operasi, atau pulih dari cedera, proses pemulihannya biasanya tidak akan seperti ketika masih muda. Kenapa itu terjadi? Salah satunya karena cadangan fisik atau ketahanan tubuh yang cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Dalam geriatri, kemampuan untuk beradaptasi dan pulih dari stres fisik menjadi faktor penting bagi kemandirian dan kualitas hidup lansia.
Itu sebabnya, jangan memandang kesehatan otot semata-mata untuk kekuatan tubuh. Otot yang terjaga membantu lansia tetap bergerak, menopang fungsi harian, dan memberi cadangan fisiologis yang lebih baik saat tubuh menghadapi infeksi, rawat inap, atau masa pemulihan setelah tindakan medis. Bahkan, penelitian modern juga melihat otot sebagai organ yang ikut berinteraksi dengan sistem imun.
Mengapa pemulihan lansia sering lebih menantang?
Seiring usia, lansia lebih rentan mengalami penurunan fungsi setelah sakit atau operasi. Studi di JAMA Surgery menemukan bahwa penurunan status fungsional 30 hari setelah operasi rawat inap merupakan hal yang cukup sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua, dengan angka lebih dari 20%. Studi yang sama juga menyoroti bahwa malnutrisi dan gangguan mobilitas berkaitan dengan penurunan fungsi pascaoperasi.
Dengan kata lain, tantangan pemulihan pada lansia bukan cuma soal sembuh dari penyakit. Pemulihan pada lansia juga terkait dengan seberapa cepat tubuh bisa kembali kuat untuk berdiri, berjalan, makan dengan baik, dan beraktivitas tanpa terlalu bergantung pada orang lain. Karena itu, menjaga otot sebelum, selama, dan setelah masa sakit menjadi sangat relevan.
Apa hubungan otot dengan sistem imun?
Otot rangka kini dipahami sebagai major immune regulatory organ. Otot menghasilkan berbagai protein sinyal yang disebut myokines, yang memiliki efek anti-inflamasi dan imunoprotektif. Pembahasan di jurnal Nature Reviews Immunology juga menyebut bahwa aktivitas fisik yang menjaga massa dan fungsi otot memberi manfaat imun pada lansia, termasuk menurunkan inflamasi sistemik yang terkait penyakit kronis.
Hubungan itu terlihat makin jelas saat tubuh mengalami cedera atau kerusakan jaringan. Dalam The Journals of Gerontology dijelaskan bahwa regenerasi otot setelah cedera akut atau selama penuaan sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan sel-sel imun yang masuk ke jaringan yang rusak. Artinya, pemulihan otot dan respons imun memang berjalan saling terkait, bukan terpisah.
Mengapa massa otot penting saat masa recovery?
Saat massa dan fungsi otot menurun, risiko luaran pemulihan yang buruk juga cenderung meningkat. Meta-analisis pada pasien dewasa yang menjalani operasi area perut (abdominal) elektif atau terjadwal, menemukan bahwa sarcopenia berhubungan dengan risiko komplikasi pascaoperasi yang lebih tinggi, serta mortalitas jangka pendek yang juga lebih tinggi dibanding pasien non-sarcopenia.
Temuan itu penting bagi lansia karena sarcopenia pada dasarnya mencerminkan kemampuan bertahan tubuh yang lebih rendah. Ketika tubuh harus menghadapi infeksi, rawat inap, operasi, atau penyembuhan luka, otot yang lebih baik cenderung memberi pijakan yang lebih kuat untuk kembali bergerak, mempertahankan fungsi, dan melewati stres fisik dengan lebih baik. Tentunya, ini tidak berarti otot menjadi “jaminan” pulih lebih cepat. Tetapi jelas, otot tak bisa diremehkan, sebab menjadi salah satu penopang utama proses recovery.
Kekuatan otot dan kualitas hidup setelah sakit atau operasi
Bagi lansia, keberhasilan pemulihan tidak hanya diukur dari hasil laboratorium atau luka yang menutup. Yang sama pentingnya adalah apakah setelah sakit mereka bisa kembali bangun dari kursi, berjalan ke kamar mandi, naik tangga, atau beraktivitas tanpa banyak bantuan dari orang lain. Karena itu, kekuatan otot sangat terkait dengan kualitas hidup setelah penyakit atau operasi.
Inilah alasan mengapa operasi pada lansia menekankan evaluasi faktor risiko seperti mobilitas yang menurun dan malnutrisi sebelum dan sesudah tindakan. Semakin baik fungsi otot dan status gizi dipertahankan, semakin besar peluang lansia menjaga kemandirian selama masa pemulihan.

Strategi untuk membantu optimalkan otot selama masa penyembuhan
1. Tetap bergerak sesuai kemampuan
CDC menyarankan orang usia 65 tahun ke atas tetap melakukan kombinasi aktivitas aerobik, latihan penguatan otot, dan latihan keseimbangan setiap minggu. Pada konteks pemulihan, pendekatannya tentu perlu disesuaikan dengan kondisi medis dan kemampuan pasien, tetapi prinsip umumnya tetap sama: gerak yang aman lebih baik daripada imobilitas berkepanjangan.
Pada lansia yang baru keluar dari rumah sakit, studi yang dimuat di The Lancet menegaskan bahwa rawat inap yang tidak lama di Rumah sakit merupakan faktor risiko untuk luaran buruk seperti hilangnya kemampuan untuk melakukan aktivitas dasar harian mandiri seperti mandi, berpakaian atau disebut juga hospital-associated disability. Intervensi dalam bentuk latihan olahraga setelah pulang berpotensi membantu mengurangi penurunan fisik maupun kognitif.
2. Pastikan asupan protein cukup dan berkualitas
Protein penting untuk pemeliharaan otot, fungsi fisik, imunitas, dan proses penyembuhan. Protein mendukung kesehatan, imunitas, pemeliharaan otot, dan fungsi fisik pada lansia. Sementara itu, The Journals of Gerontology menegaskan bahwa pada lansia dengan kondisi medis atau penyakit akut, suplemen protein atau asam amino tertentu dapat membantu mengurangi kehilangan massa dan fungsi otot, terutama pada pasien yang malnutrisi.
Perlu diingat, angka kebutuhan protein tidak selalu sama pada setiap orang. Asupan protein berkisar 0,8 g/kg/hari berlaku untuk orang dewasa sehat, tetapi kebutuhan lansia yang sedang sakit, pulih, atau memiliki kondisi klinis tertentu bisa berbeda. Bicarakan dengan dokter atau ahli gizi untuk melakukan penyesuaian yang tepat.
3. Jangan lupakan mikronutrien
Sistem imun tidak hanya bergantung pada protein. Fungsi imun juga dipengaruhi kecukupan berbagai vitamin dan mineral, seperti vitamin A, B6, B12, C, D, E, folat, magnesium, selenium, zinc, dan zat besi. Karena itu, pola makan seimbang tetap menjadi dasar utama selama masa penyembuhan.
Apakah suplemen bisa menjadi bagian dari recovery plan?
Bisa, terutama bila asupan makan harian sulit terpenuhi, nafsu makan menurun, atau ada risiko malnutrisi. Namun, suplemen sebaiknya diposisikan sebagai bagian dari rencana pemulihan yang lebih besar, bukan pengganti makan utama atau “jalan pintas” untuk pulih cepat. NIH mengingatkan bahwa suplemen tak bisa menjadi solusi serba bisa; manfaatnya akan terasa apabila memang ada kebutuhan nutrisi yang belum terpenuhi.
Sebagai contoh, Ensure Gold StrengthPro diposisikan sebagai nutrisi dewasa dengan kombinasi HMB + triple protein (whey, casein, soya) untuk dukungan kekuatan massa otot, serta beta glucan untuk dukungan daya tahan tubuh. Produk seperti ini bisa diperkenalkan sebagai salah satu opsi pendamping ketika kebutuhan nutrisi harian sulit dipenuhi. Tentu saja, penggunaan idealnya menyesuaikan kondisi kesehatan dan target pemulihan masing-masing individu.
Menjaga otot berarti membantu tubuh pulih lebih baik
Bagi lansia, recovery yang baik bukan hanya soal “penyakitnya sembuh”, tetapi juga soal kembali punya tenaga, fungsi, dan kemandirian. Otot yang terjaga berkontribusi pada respons imun, proses perbaikan jaringan, kapasitas bergerak, dan ketahanan tubuh menghadapi stres fisik saat sakit atau setelah operasi. Karena itu, selama masa penyembuhan, perhatian pada otot dan nutrisi tidak boleh dianggap pelengkap belaka.
Sebelum mengubah pola makan, menambah suplemen, atau memulai latihan tertentu selama recovery, ajak lansia berdiskusi dengan dokter atau ahli gizi. Rencana pemulihan yang baik adalah yang realistis, aman, dan sesuai dengan kondisi medis masing-masing.