Saat membahas kesehatan lansia, perhatian biasanya tertuju pada tulang, sendi, atau jantung. Padahal, otot juga memegang peran besar dalam menjaga tubuh tetap tangguh seiring bertambahnya usia. Bukan hanya membantu bergerak dan menjaga keseimbangan, otot juga terlibat dalam komunikasi dengan sistem imun dan memengaruhi bagaimana tubuh merespons peradangan, infeksi, serta stres fisik. Dalam beberapa tahun terakhir, otot makin dipahami sebagai jaringan regulatif yang aktif, bukan sekadar “alat gerak” tubuh.
Apa hubungan otot dengan sistem imun?
Otot bukan hanya alat gerak, tetapi juga organ imun-metabolik
Skeletal muscle kini dipahami sebagai organ regulatif yang menghasilkan berbagai molekul sinyal, termasuk myokines. Zat-zat ini membantu komunikasi antara otot dengan organ lain dan berperan dalam metabolisme, peradangan, serta perlindungan imun. Tinjauan di Nature Reviews Immunology menyebut otot rangka sebagai organ pengatur imun utama yang menghasilkan myokines dengan efek anti-inflamasi dan imunoprotektif.
Saat massa otot menurun, sistem tubuh ikut terdampak
Hubungan antara otot dan imun menjadi makin penting saat menua. Review di The Lancet Healthy Longevity menyebut otot berpotensi menjadi penghubung sentral antara sarcopenia dan immunosenescence. Artinya, penurunan kesehatan otot tidak hanya berkaitan dengan tenaga dan pergerakan atau mobilitas, tetapi juga dapat berjalan beriringan dengan penurunan regulasi sistem kekebalan tubuh atau imunitas pada usia lanjut.
Mengapa daya tahan tubuh lansia cenderung menurun?
Mengenal immunosenescence
Seiring bertambah usia, sistem imun mengalami perubahan yang disebut immunosenescence. Kondisi ini memengaruhi imunitas bawaan (innate) maupun adaptif, sehingga tubuh menjadi kurang sigap menghadapi patogen baru. Review terbaru menjelaskan bahwa immunosenescence ditandai oleh perubahan populasi sel imun, penurunan fungsi sel, meningkatnya kerentanan terhadap infeksi, menurunnya respons vaksin, dan munculnya peradangan kronis tingkat rendah atau inflammaging.
Tantangannya bukan hanya infeksi
Pada lansia, immunosenescence tidak berdiri sendiri. Gaya hidup kurang aktif, penurunan massa otot, dan kualitas makan yang memburuk bisa ikut mempercepat penurunan daya tahan tubuh. Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Nutrients, aktivitas fisik dan pola makan disebut berpengaruh nyata pada proses immunosenescence dan inflammaging, sehingga menjaga tubuh tetap aktif menjadi bagian penting dari strategi healthy aging.
Mengapa menjaga otot bisa membantu daya tahan tubuh?
Otot yang sehat membantu tubuh menghadapi stres fisik dengan lebih baik, termasuk saat pemulihan dari sakit, peradangan, atau penurunan fungsi akibat penuaan. Bukti yang dirangkum di Nature Reviews Immunology menunjukkan bahwa mempertahankan aktivitas fisik memberi manfaat imun pada orang lanjut usia, termasuk menurunkan inflamasi atau peradangan sistemik yang terkait penyakit kronis.
Karena itu, menjaga massa dan fungsi otot bukan hanya soal tetap kuat berdiri atau berjalan. Ini juga soal membantu tubuh tetap lebih resilien saat menghadapi tantangan biologis sehari-hari. Dalam konteks penuaan, otot yang terjaga dapat menjadi salah satu penopang penting bagi kualitas hidup dan daya tahan tubuh lansia.
Nutrisi untuk bantu jaga otot dan sistem imun lansia
1. Protein tetap jadi fondasi utama
Protein dibutuhkan untuk mempertahankan massa otot, mendukung fungsi fisik, dan juga berperan dalam kesehatan imun. Protein mendukung kesehatan, imunitas, pemeliharaan otot, dan fungsi fisik pada orang tua. Dalam The Journals of Gerontology disebutkan, pada banyak lansia, asupan protein yang lebih tinggi dari asupan harian dan dikombinasikan dengan vitamin D dan kalsium yang direkomendasikan bisa dipertimbangkan untuk mendukung kekuatan dan fungsi otot, terutama pada mereka yang berisiko sarcopenia, walau tetap harus disesuaikan dengan kondisi medis masing-masing.
2. Mikronutrien juga penting untuk imun
Sistem imun membutuhkan cukup vitamin dan mineral untuk bekerja dengan baik. National Institute of Health (NIH) menyebut bahwa kekurangan vitamin dan mineral tertentu dapat berdampak buruk pada fungsi imun. Termasuk dalam hal ini, vitamin dan mineral seperti vitamin A, B6, B12, C, D, E, K, folat, magnesium, selenium, zinc, dan zat besi Karena itu, pola makan seimbang tetap menjadi dasar utama sebelum membahas suplemen.
3. Suplemen bisa membantu, tetapi bukan pengganti pola makan
Suplemen merupakan tambahan dan bukan sumber utama, dapat berguna bila asupan makan kurang, ada risiko malnutrisi, atau tenaga kesehatan menilai ada kekurangan nutrisi tertentu. Namun NIH juga menekankan bahwa bila seseorang tidak mengalami defisiensi, menambah vitamin atau mineral lewat suplemen tidak otomatis membantu mencegah infeksi atau mempercepat pemulihan. Jadi, suplemen sebaiknya diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti makan seimbang dan gaya hidup aktif.
Bagaimana dengan suplemen untuk bantu jaga otot lansia?
Dalam konteks dukungan nutrisi untuk otot, beberapa ulasan terbaru menunjukkan bahwa HMB (beta-hydroxy-beta-methylbutyrate) dan suplemen yang mengandung HMB berpotensi membantu parameter massa atau kekuatan otot pada orang tua dan pasien sarcopenia, walau hasil studi belum selalu konsisten untuk semua luaran fungsi fisik. Artinya, bahan seperti HMB cukup relevan untuk dibahas dalam pendekatan nutrisi otot lansia, tetapi tetap paling ideal bila digabung dengan asupan protein yang cukup dan aktivitas fisik yang sesuai.
Contoh pilihan nutrisi tambahan
Bila kebutuhan makan harian sulit terpenuhi, misalnya karena nafsu makan menurun atau asupan protein harian tidak optimal, produk nutrisi khusus dewasa bisa menjadi salah satu pendamping. Salah satu yang diposisikan untuk kebutuhan ini adalah Ensure Gold StrengthPro. Pada laman resminya, Abbott menonjolkan kombinasi HMB + triple protein (whey, casein, soya) untuk membantu kekuatan massa otot, serta beta glucan untuk dukungan daya tahan tubuh.

Tips sederhana untuk bantu jaga otot dan imunitas lansia
Tetap aktif bergerak sesuai kemampuan
CDC merekomendasikan orang usia 65 tahun ke atas untuk melakukan aktivitas aerobik, latihan penguatan otot setidaknya 2 hari per minggu, dan aktivitas keseimbangan. Bila tidak bisa melakukan itu sepenuhnya, usahakan agar tetap aktif sesuai kemampuan. Hal itu karena sedikit aktivitas tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.
Jaga pola makan tetap seimbang
Pastikan ada menu lengkap gizi seimbang seperti sumber karbohidrat, protein, sayur, buah, dan variasi makanan bergizi dalam pola makan harian. Pola makan bergizi membantu memenuhi vitamin, mineral, dan nutrien lain yang dibutuhkan agar sistem imun bekerja dengan baik.
Lakukan pemeriksaan kesehatan rutin
Bagi lansia, penurunan berat badan, nafsu makan yang memburuk, tubuh makin lemah, atau makin sering sakit sebaiknya tidak diabaikan. Evaluasi medis rutin membantu menilai status gizi, fungsi otot, dan kebutuhan intervensi yang lebih tepat, termasuk bila suplemen memang diperlukan. Sesuaikan dukungan nutrisi dengan kondisi kesehatan individu agar lebih efektif.
Menjaga otot berarti ikut menjaga daya tahan tubuh
Menjadi kuat di usia lanjut bukan hanya terkait kemampuan berjalan atau bangun dari kursi tanpa bantuan. Otot yang terjaga juga ikut menopang regulasi imun, respons peradangan, dan ketahanan tubuh menghadapi tekanan biologis seiring penuaan. Karena itu, strategi menjaga kesehatan lansia sebaiknya tidak memisahkan otot dari imun. Keduanya saling terkait, dan keduanya sama-sama dipengaruhi oleh aktivitas fisik, pola makan, dan kecukupan nutrisi harian.