Mengenal Resusitasi, Pertolongan Pertama pada Bayi Baru Lahir yang Sulit Bernapas

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 14 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Setelah bayi lahir, normalnya bayi akan langsung bernapas dengan udara. Namun, mengutip dari Newborn WHO Collaborating Center, 1 dari 20 bayi membutuhkan bantuan pernapasan saat baru dilahirkan. Bantuan ini dikenal dengan resusitasi bayi. Apa itu?

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Apa itu resusitasi bayi?

resusitasi bayi

Resusitasi adalah bantuan yang diberikan setelah bayi lahir agar ia bisa bernapas, biasanya dilakukan setelah tali pusat dipotong.

Bayi yang setelah lahir tidak kunjung bisa bernapas, akan mengalami kekurangan oksigen dan memicu kematian bayi.

Tujuan resusitasi bayi baru lahir juga termasuk mencegah angka kematian dan kesakitan bayi terkait cedera otak, jantung, dan ginjal.

Resusitasi termasuk dalam pemeriksaan bayi baru lahir yang membantu bayi bernapas normal dan memperkuat degup jantung.

Pada dasarnya, bayi juga mengambil oksigen selama di dalam rahim. Namun, ia tidak menghirup secara langsung, melainkan diambil dari aliran darah ibu melalui plasenta.

Namun, setelah bayi lahir, plasenta akan dipotong sehingga pasokan oksigen ke bayi akan terhenti.

Kemudian bayi akan mengambil oksigen dari udara untuk bernapas.

Beberapa bayi mungkin membutuhkan pertolongan untuk bernapas dengan normal. 

Tidak semua bayi mungkin bisa mengambil napas dari udara setelah lahir secara spontan.

Pada saat ini, dibutuhkan resusitasi pada bayi yang baru lahir.

Kondisi yang membuat bayi membutuhkan resusitasi 

resusitasi bayi

Tidak ada tanda yang dapat menunjukkan mana bayi yang membutuhkan resusitasi setelah lahir dan mana yang tidak.

Hal ini membuat resusitasi tetap harus dipersiapkan pada setiap kelahiran si kecil.

Dikutip dari Hospital Care for Children, ada kondisi yang membuat bayi membutuhkan resusitasi, yaitu:

Berdasarkan jurnal dari American Academy of Pediatrics (AAP), bayi baru lahir yang membutuhkan resusitasi umumnya dinilai dengan empat kondisi berikut ini:

  • Apakah bayi lahir pada usia kandungan cukup bulan?
  • Apakah cairan ketuban bersih dari mekonium dan tanda infeksi?
  • Apakah bayi bernapas atau menangis sesaat setelah lahir?
  • Apakah bayi memiliki kerja otot yang baik?

Jika jawaban dari keempat pertanyaan tersebut adalah ‘tidak’, bayi membutuhkan resusitasi.

Bagaimana cara melakukan resusitasi bayi?

cara mencegah bayi lahir prematur

Resusitasi dilakukan petugas kesehatan sesuai dengan kondisi si kecil. Terdapat empat tindakan yang bisa dilakukan secara berurutan selama resusitasi bayi. 

Bayi mungkin hanya perlu menerima satu atau lebih dari empat tindakan ini. 

Pengambilan keputusan untuk maju melakukan setiap tindakan resusitasi ditentukan oleh penilaian dari tiga tanda vital, yaitu pernapasan, detak jantung, dan warna kulit bayi.

Berikut langkah resusitasi bayi yang dilakukan oleh dokter:

Langkah awal

Sebagai langkah awal, ada beberapa hal yang dilakukan oleh dokter, yaitu:

  • Memberikan kehangatan pada bayi.
  • Posisikan bayi dengan baik menghadap ke atas.
  • Posisikan kepala bayi sedikit ke atas untuk membantu membuka jalan napas.
  • Letakkan lipatan kain di bawah bahu bayi untuk mempertahankan posisi ini. 
  • Bersihkan saluran napas bayi jika diperlukan.

Pembersihan di atas termasuk melakukan pengisapan di mulut dan kemudian di hidung untuk menghilangkan mekonium (feses bayi yang tertelan).

Prosedur ini dilakukan menggunakan tabung isap untuk dilakukan secara bergantian di mulut dan hidung.

Langkah berikutnya adalah merangsang bayi untuk bernapas. 

Hal ini bisa dilakukan dengan cara menyentil atau menepuk telapak kaki bayi, serta menggosok dengan lembut punggung, kaki, dan tangan bayi. 

Dokter akan menilai pernapasan, detak jantung, dan gerakan otot bayi setiap selesai melakukan tindakan tersebut.

Jika bayi belum bernapas, dokter akan melakukan tindakan selanjutnya.

Ventilasi

Ini adalah salah satu tindakan resusitasi yang bertujuan untuk memasukkan udara ke paru-paru bayi.

Tindakan ventilasi dilakukan dengan cara memasang sungkup (masker oksigen) dengan ukuran yang sesuai dengan wajah bayi sampai menutupi dagu, mulut, dan hidung bayi.

Dokter akan menjaga posisi kepala bayi dan meremas kantung yang ada pada sungkup. Hal ini udara masuk ke paru-paru bayi sehingga bagian dadanya agak naik. 

Jika dada bayi naik setelah dilakukan 2-3 kali ventilasi, artinya tekanan ventilasi mungkin cukup diberikan pada bayi. 

Dokter akan melanjutkan pemberian ventilasi 40 kali per menit sampai bayi menangis atau bernapas.

Namun, jika dada bayi tidak naik, mungkin ada masalah, seperti:

  • Saluran napas bayi tersumbat
  • Pemasangan sungkup tidak benar
  • Tekanan kurang kuat
  • Posisi bayi tidak benar

Dokter akan lanjut ke langkah berikutnya bila tidak ada perbaikan dari kondisi bayi.

Memberi tekanan di dada bayi

Hal ini dilakukan sementara untuk meningkatkan sirkulasi dan pengiriman oksigen ke organ-organ penting bayi. 

Tekanan dada atau pijat jantung diberikan disertai dengan ventilasi, untuk memastikan agar sirkulasi darah yang beredar dalam tubuh bayi cukup mendapatkan oksigen.

Setelah penekanan dada dilakukan selama 30-45 detik, dokter akan menilai detak jantung bayi. 

Jika detak jantung bayi kurang dari 60 kali per menit penekanan dada harus dilanjutkan (setelah pemberian suntikan epinefrin).

Pemberian epinefrin

Pemberian epinefrin dilakukan ketika ventilasi dan penekanan dada tidak bekerja dengan baik.

Tolak ukurnya adalah ketika ventilasi dan penekanan dada lebih dari 45 detik tidak mendapat respon dari bayi.

Kondisi ini juga ditandai dengan detak jantung bayi tetap kurang dari 60 kali per menit dan tidak ada peningkatan.

Tidak semua bayi perlu mendapatkan resusitasi. Semuanya tergantung pada kondisi kesehatan si kecil saat dilahirkan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Infeksi Postpartum

Infeksi postpartum atau pasca persalinan adalah infeksi terjadi setelah persalinan. Apa saja penyebabnya? Bagaimana mengatasi kondisi ini?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Komplikasi Persalinan, Melahirkan, Kehamilan 28 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit

3 Ciri Kulit Bayi Anda Sensitif dan Perlu Perawatan Khusus

Kulit bayi baru lahir memang terkenal sensitif. Tapi ada beberapa ciri kulit bayi sensitif yang memerlukan perawatan ekstra daripada biasanya. Selengkapnya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 2 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Bayi Ternyata Tak Boleh Pakai Gurita. Apa Bahayanya?

Gurita bayi diyakini bermanfaat untuk mengecilkan perut dan mencegah pusar bodong. Padahal, gurita bayi justru membahayakan kesehatan anak Anda.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 24 November 2020 . Waktu baca 5 menit

Pentingnya Persiapkan Daya Tahan si Kecil Sebelum dan Sesudah Lahir

Ya, antibodi bayi yang baru lahir didapatkan dari sang ibu yang diberikan sejak bayi ada dalam kandungan. Lalu, kapan bayi mulai punya sistem imun sendiri?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Maria Amanda
Bayi, Parenting, Bayi Satu Tahun Pertama 10 November 2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara menggugurkan kandungan

Cara Menggugurkan Kandungan Ketika Kehamilan Bermasalah

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
kulit bayi mengelupas

Kulit Bayi Mengelupas di Minggu Pertamanya, Apakah Berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 6 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
kolik pada bayi

Kolik

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit
aborsi

Aborsi, Prosedur Medis untuk Menggugurkan Kandungan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 28 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit