Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Cara Mengajarkan Anak Beramal, Berbagi, dan Peduli Terhadap Sesama

Cara Mengajarkan Anak Beramal, Berbagi, dan Peduli Terhadap Sesama

Menanamkan nilai-nilai dan kebiasaan baik pada anak bisa orangtua lakukan sejak dini. Salah satu nilai baik yang bisa ibu tanamkan pada si kecil adalah beramal yang dianjurkan oleh semua agama. Mengapa mengajarkan anak beramal soleh itu penting? Bagaimana caranya tanpa membuat anak terbebani? Berikut penjelasan lengkapnya.

Alasan perlu mengajarkan anak beramal

Mengutip dari Children’s Bureau, beramal mengajarkan anak untuk peduli sesama.

Selain itu, beramal juga memberi pemahaman pada anak bahwa dalam kehidupan, ada orang lain yang perlu ia bantu.

Bahkan bukan tidak mungkin di kemudian hari, anak membutuhkan bantuan orang tersebut.

Sebenarnya, mengajarkan si kecil untuk beramal sejak usia dini tidak sulit. Hal ini karena anak-anak memiliki insting berbagi yang lebih tajam daripada orang dewasa.

Mengutip dari The Greater Good Sciences Center, anak-anak memiliki insting berbagi dan membantu teman lebih tinggi terutama saat usianya masih sangat kecil.

Saat berbagi dan beramal soleh, balita merasa sangat menikmati bahkan lebih bahagia ketimbang mendapatkan hadiah untuk dirinya sendiri.

Tampaknya anak-anak memang memiliki dorongan secara alami untuk berbagi dan bersikap baik terhadap orang lain.

Cara mengajarkan anak beramal soleh

Terkadang, orangtua bingung harus mulai darimana untuk mengenalkan anak tentang beramal. Apakah harus benar-benar berdonasi atau bisa dengan cara yang lebih sederhana?

Untuk memudahkan, berikut beberapa cara mengajarkan anak beramal soleh yang bisa orangtua lakukan.

1. Mulai dari hal kecil

Sebenarnya, mengajarkan anak beramal dan menolong orang lain bisa orangtua mulai dari hal-hal kecil.

Ambil contoh, saat ayah, adik, atau saudara sedang sakit, ibu bisa meminta bantuan si kecil untuk menyiapkan makan dan pakaian ganti.

Contoh lainnya, ketika teman anak sedang terluka, ibu bisa menolongnya dan meminta bantuan si kecil merawat luka.

Bisa dengan mengambilkan air untuk membersihkan luka atau memanggil orangtua temannya dan melaporkan bahwa anaknya baru jatuh dan terluka.

Ini bisa mengajarkan anak bahwa beramal bisa dengan berbagai cara, salah satunya peduli terhadap teman.

2. Membuat tradisi keluarga

Tradisi ini bisa ibu dan ayah lakukan saat momen-momen penting, misalnya ulang tahun anak.

Mengutip dari Charities Aid Foundation, membuat tradisi atau kebiasaan rutin beramal membuat anak belajar berbagi dan memanfaatkan barang miliknya dengan baik.

Ibu dan ayah bisa membuat kebiasaan menyumbangkan buku ke perpustakaan gratis dekat rumah atau panti asuhan.

Tidak hanya buku, anak juga bisa menyumbangkan mainan atau sebagian tabungannya kepada teman-teman yang membutuhkan.

Meski sebagai pemberi, ibu tetap perlu mengenalkan anak-anak panti asuhan sebagai teman-teman si kecil. Ini untuk menghindari anak merasa sombong saat dewasa nanti.

3. Biasakan untuk mengatakan terima kasih

Beramal bisa dengan kebiasaan sehari-hari, misalnya, berterima kasih kepada teman saat menerima makanan sambil tersenyum.

Membiasakan anak untuk berterima kasih dan berbuat baik kepada sesama juga bisa dengan hal sederhana yang mudah.

Tunjukkan kepada anak bahwa kebaikan kecil, sesederhana senyum dan menyapa, adalah hal yang bisa menyemangati orang lain.

4. Beri anak pilihan

Melibatkan anak dalam setiap kegiatan amal bertujuan agar ia mengerti, tetapi tidak menutup kemungkinan ia merasa ibu memaksa.

Untuk mencegah anak merasa terpaksa dan tidak tulus saat beramal, ibu dan ayah bisa memberi pilihan.

Ambil contoh, ibu dan ayah tidak bisa memintanya untuk terus menyumbangkan pakaian kepada orang yang membutuhkan.

Berikan beberapa pilihan lain agar anak bisa menyesuaikan dengan yang ia inginkan.

Kalau anak terlihat tidak nyaman saat memberikan mainan, pakaian, atau uangnya, ibu bisa memberi pilihan untuk bermain dengan teman-teman.

“Kakak tahu tidak? Kita bisa beramal bukan cuma dalam bentuk barang, tetapi waktu. Jadi, bermain bersama teman-teman dan membuatnya senang juga termasuk beramal,”.

Jill Gordon, Direktur Youth Philanthropy Initiative of Indiana mengatakan, memberi pilihan kepada anak mengajarkan bahwa beramal tidak bisa dengan paksaan.

5. Orangtua menjadi contoh yang baik

Anak adalah peniru ulung, ia akan melakukan hal-hal yang orangtuanya lakukan, termasuk dalam hal beramal. Bisa dibilang, perilaku anak adalah cerminan orangtua.

Penelitian dari Journal of Adolescence menunjukkan bahwa 18 persen remaja beramal ketika orangtuanya melakukan hal yang sama dalam satu tahun terakhir.

Selain memberi contoh, orangtua juga perlu memberi pemahaman tentang beramal dan berbagi kepada anak sejak dini.

Penelitian yang sama menunjukkan, 33 persen anak akan beramal secara sukarela bila mendapat pemahaman tentang beramal dan mendapat contoh dari orangtuanya.

Sementara itu, 47 persen anak merasa sukarela untuk beramal ketika orangtuanya menjelaskan tentang berbagi terhadap sesama.

Sara Konrath, asisten profesor program studi filantropi di University of Indiana mengatakan bahwa tindakan lebih efektif daripada kata-kata saat mengajarkan anak beramal.

Namun, pada kasus ini, anak sepertinya butuh keduanya, yakni contoh dan pemahaman, agar si kecil lebih mudah untuk memahami arti berbagi.

Sebagai contoh, orangtua mengajak anak balita untuk menyumbangkan baju layak pakai ke panti asuhan.

Sambil di perjalanan, ibu dan ayah bisa bercerita kalau pakaian yang sudah tidak terpakai dan masih layak bisa anak berikan kepada yang membutuhkan.

“Daripada bajunya kakak simpan terus, lebih baik ibu kasih ke temen-temen panti asuhan ya. Bajunya juga masih bagus, pasti mereka senang dapat baju bagus dari kakak,” ibu bisa mengatakannya dengan nada lembut.

Ketika anak tidak ingin melakukan kegiatan amal dalam bentuk apapun, tidak perlu ibu tegur, biarkan saja.

Kembali lagi, ini untuk mengajarkan anak ketulusan saat sedang berbagi dengan sesama.

Memang tidak mudah menjadi orangtua yang baik, tetapi ayah dan ibu bisa memberi contoh sikap-sikap yang menanamkan kebaikan pada si kecil, termasuk mengajarkan anak beramal.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

5 ways to teach your children about charity – Giving Tuesday. (2017). Retrieved 27 April 2021, from https://www.givingtuesday.org.uk/5-ways-teach-children-charity/

5 ways to teach your children about charity | CAF Charity Giving . (2021). Retrieved 27 April 2021, from https://www.cafonline.org/my-personal-giving/long-term-giving/resource-centre/5-ways-to-teach-your-children-about-charity

How to Help Kids Learn to Love Giving. (2021). Retrieved 27 April 2021, from https://greatergood.berkeley.edu/article/item/how_to_help_kids_learn_to_love_giving

Teach Generosity by Encouraging Giving: The Best Gift of All. (2021). Retrieved 27 April 2021, from https://centerforparentingeducation.org/library-of-articles/indulgence-values/giving-best-gift/

Families, P., Services, P., Services, M., Family Foster Care, A., Resources, P., & FAF Software, F. et al. (2018). National Philanthropy Month: How to Teach Kids About Charity | Child Abuse Prevention, Treatment & Welfare Services | Children’s Bureau. Retrieved 27 April 2021, from https://www.all4kids.org/news/blog/national-philanthropy-month-how-to-teach-kids-about-charity/

Ottoni-Wilhelm, M., Estell, D., & Perdue, N. (2014). Role-modeling and conversations about giving in the socialization of adolescent charitable giving and volunteering. Journal Of Adolescence, 37(1), 53-66. doi: 10.1016/j.adolescence.2013.10.010

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Riska Herliafifah Diperbarui 08/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita