Ketahui Usia, Waktu, Tanda, dan Cara yang Tepat Melatih Anak Toilet Training

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28 September 2020 . Waktu baca 12 menit
Bagikan sekarang

Seiring bertambahnya usia, perkembangan balita juga semakin bertambah, salah satunya kemampuan buang air di toilet. Mengenalkan toilet training pada anak umumnya bisa mulai dilakukan ketika anak sudah bisa mengendalikan rasa buang air kecil dan besar. Berikut penjelasan mengenai usia yang tepat dan cara mengenalkan toilet training yang tepat.

Usia yang tepat untuk mengenalkan toilet training pada anak

melatih anak buang air

Mengutip dari Mayo Clinic, tingkat keberhasilan memperkenalkan toilet training tidak hanya dilihat dari usia, tapi tergantung pada perkembangan, perilaku, dan kebiasaan anak. 

Meski umumnya,  anak-anak sudah terlihat siap untuk potty training di usia 18 bulan sampai anak usia 2 tahun, tapi rata-rata anak bisa dilatih buang air di toilet saat usia balita 27 bulan atau 2 tahun 3 bulan.

Bila anak usia 3 tahun belum terlihat tanda siap, tidak perlu terburu-buru. Mungkin anak Anda masih butuh waktu untuk mulai buang air di toilet secara langsung.

Tanda anak sudah siap melakukan toilet training

latihan buang air

Pernah mendapati popok si kecil dalam keadaan kering semalaman? Ini adalah salah satu tanda kalau anak Anda sudah bisa mengendalikan rasa buang air kecil dan siap untuk toilet training

Namun, setiap anak memiliki tanda berbeda, berikut beberapa tanda anak sudah siap potty training, dilansir dari Pregnancy Birth Baby:

  • Popok anak kering selama 1-2 jam.
  • Anak tidak betah saat popok kotor dan ingin diganti.
  • Anak berekspresi ketika ingin buang air.
  • Anak sudah bisa melepas celana sendiri.
  • Anak sudah bisa bilang sudah selesai atau ingin buang air besar atau kecil.
  • Anak mulai mandiri dan ingin melakukan sesuatu sendiri.
  • Waktu buang air lebih teratur.

Bila diperhatikan, di usia bayi 18-24 bulan intensitas buang air si kecil lebih teratur dan terjadwal. Sebagai contoh, si kecil buang air besar setiap pagi setelah bangun tidur atau sore hari. 

Tandai waktu buang air anak apakah sudah pasti di jam tertentu. Bila iya, ini memudahkan Anda untuk meminta anak pergi ke toilet ketika waktunya sudah tiba. 

Bagaimana melakukan toilet training di luar rumah?

toilet training

Bila anak Anda dititipkan di tempat penitipan anak atau daycare, para ahli menyarankan untuk tidak buru-buru dalam memperkenalkan training toilet atau potty training apalagi memaksa.

Hindari untuk memaksa si kecil karena bisa membuat anak tantrum dan mengganggu perkembangan sosial dan emosional anak.

Melatih anak toilet training  sebelum ia siap bisa menyebabkan masalah pada kandung kemih, stres, dan kecemasan pada anak dan orang tua. 

Bicarakan dengan pihak penitipan anak tentang waktu dan program potty training  yang sedang Anda lakukan di rumah. 

Beritahu kapan biasanya anak Anda buang air kecil dan besar agar pengasuh di penitipan bisa mencocokkan dan mendampingi anak, sehingga anak tidak mengompol di luar kamar mandi.

Bagaimana melakukan toilet training di malam hari?

Menggunakan training toilet di malam dan siang hari merupakan dua kemampuan berbeda. Ketika anak Anda sudah bisa buang air sendiri di toilet ketika siang hari, mungkin berbeda dengan malam hari. 

Terkadang anak butuh berbulan-bulan kadang tahunan untuk tidak mengompol ketika malam hari. 

Rata-rata anak berhasil potty training atau toilet training di malam hari ketika usia 4-5 tahun. 

Namun, biasanya berhasil melatih anak untuk buang air sendiri ketika anak usia 6 tahun. Semua butuh waktu, sehingga sangat penting kesabaran dalam melatih anak ketika menggunakan toilet training.

Anda bisa membiasakan anak buang air kecil sebelum tidur dan tidak mengonsumsi menu makanan anak yang terlalu banyak air.

Persiapan yang perlu dilakukan untuk melakukan toilet training

latihan menggunakan toilet

Masa transisi yang baik sangat penting dalam proses pengubahan kebiasaan anak, agar ia tidak terjadi trauma.

Ketika Anda sudah melihat tanda-tanda si kecil bisa mengendalikan kandung kemih dan perutnya, ada beberapa persiapan yang perlu dilakukan agar anak tidak kaget saat toilet training. Berikut beberapa di antaranya:

Penjelasan ringan ketika sedang mandi

Beri penjelasan ringan seputar buang air di toilet ketika sedang mandi. Saat menjelaskan tentang buang air besar dan kecil, disarankan untuk menggunakan kata-kata formal seperti buang air besar (BAB) dan buang air atau pipis. 

Alasannya, agar anak tidak malu dengan istilah-istilah yang seharusnya sudah ia ketahui.

Beri pemahaman manfaat toilet

Tidak sedikit anak yang lari-lari ketika akan dipakaikan celana atau saat diminta untuk dibersihkan popoknya. Beri pemahaman kalau toilet adalah tempat yang menyenangkan dan tempat buang air yang tidak menakutkan. 

Anda bisa mengatakan, “Kamu bisa buang air sendiri di toilet dan menyiramnya dengan air. Seru!” 

Beritahu juga manfaat toilet sebagai tempat untuk menyimpan kotoran agar tidak menumpuk di dalam popok yang membuatnya tidak nyaman. Secara perlahan, ia akan mengerti walau butuh waktu dan si kecil bisa mulai toilet training.

Memilih dudukan toilet yang tepat

Agar anak Anda bersemangat untuk masuk ke fase baru, yaitu buang air di toilet dewasa, Anda bisa memberi dudukan toilet sebagai “hadiah”.

Beberapa anak lebih menyukai menggunakan toilet dewasa sambil memakai dudukan toilet dengan model lucu sesuai kesukaan anak. 

Ajak anak untuk memilih dudukan toilet yang sesuai dengan keinginan dan kualitas baik, seperti stabil ketika ditempel di kloset.

Beri pilihan dengan menawarkan dudukan kloset yang memiliki injakan kaki atau sandaran punggung. Ini membuat anak lebih nyaman saat toilet training.

Kenalkan cara memakai toilet atau pispot

Anak adalah peniru ulung. Sebelum melatih anak untuk menggunakan toilet sendiri atau toilet training, tunjukkan pada anak cara menggunakan toilet. Anda bisa menjelaskan padanya cara jongkok, membersihkan bokong (cebok), dan menyiramnya. 

Bila anak kesulitan saat mulai buang air di toilet jongkok, Anda bisa memakai pispot sebagai tempat untuk toilet training. Beri pemahaman pada anak bahwa pispot adalah tempat pengganti sementara untuk buang air.

Jadi ketika dia merasa ingin buang air besar atau kecil, bisa memakai tempat itu.

Ganti popok di kamar mandi

Di masa transisi, untuk mengenalkan anak dengan kamar mandi, Anda bisa mengganti popok anak di kamar mandi. 

Ini sebagai cara untuk “pendekatan” antara anak dan toilet sehingga ia bisa lebih mengetahui tentang tempatnya buang air.

Sambil mengganti popok, ceritakan bahwa nanti dia akan buang air di toilet dan apa saja yang harus ia lakukan di sana. 

Cara mengenalkan toilet training di rumah

bab berdarah pada anak

Bila melihat si kecil sudah waktunya menggunakan toilet training tapi dia masih ogah-ogahan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, yaitu:

Melepas celana saat di rumah

Di usia 20 bulan ke atas, anak mulai mengerti rasa malu. Membiarkan anak untuk bermain tanpa celana ketika di rumah bisa meningkatkan kesadaran anak tentang sinyal pada tubuhnya.

Beri pemahaman pada anak “kamu sedang tidak memakai popok, jadi kalau mau buang air langsung ke toilet ya.” Ketika anak sudah mengerti, ia bisa mulai buang air di toilet.

Sangat sulit untuk menahan kondisi anak agar tidak mengompol dan urinenya berceceran ketika ia berusaha menuju toilet. 

Akan lebih baik bila aktivitas yang dilakukan tidak jauh dari toilet agar bisa bergerak cepat ketika anak merasa kebelet.

Masa pengenalan toilet memang cukup menantang untuk orang tua, Anda perlu peka saat anak mulai merasa ingin buang air. 

Latihan duduk di atas dudukan toilet

Dalam satu hari, Anda bisa meminta anak rutin ke toilet dan duduk atau berjongkok di atasnya selama 5 atau 10 menit di waktu-waktu misal setelah makan, sore hari, dan sebelum tidur.

Kebiasaan ini membuat anak menemukan posisi anak yang nyaman di atas toilet.

Meski ia tidak ingin pipis atau buang air besar, membiasakan hal ini membantunya mengerti sinyal-sinyal tersebut sehingga nantinya ia akan terbiasa dengan sendirinya.

Bermain dengan melibatkan toilet

Anda bisa mendorong anak untuk menggunakan toilet dengan permainan. Setiap anak menggunakan toilet, Anda berikan poin, misalnya berupa bintang. 

Semakin banyak bintang, semakin besar kesempatan anak memperoleh hadiah. Dengan demikian anak akan terdorong untuk menggunakan toilet lebih sering.

Namun, Anda tetap harus mengawasi anak ketika menggunakan toilet dan setiap kali anak berhasil, berikan pujian sebagai apresiasi. Ini akan membuat anak semangat untuk toilet training.

Ajari anak bertanggung jawab

Mungkin suatu saat, anak Anda melakukan kesalahan seperti mengompol atau buang air besar di celana. 

Berikan tanggung jawab pada anak untuk membersihkan dirinya dan menggunakan celana atau popok baru secara mandiri.

Dengan begitu, lama-lama akan tertanam dalam dirinya bahwa lebih baik ia ke toilet sebagai bentuk tanggung jawab akan dirinya sendiri.

Rutinkan untuk ke toilet

Agar anak terbiasa, cobalah untuk menerapkan anak untuk ke toilet setiap bangun tidur, setelah makan, sebelum mandi, dan ketika akan tidur. 

Memperbanyak waktu untuk menggunakan toilet mempercepat anak untuk terbiasa dengan hal tersebut. Rutin menggunakan toilet juga menghindari anak terkena sembelit dan anak siap toilet training

Lepaskan popok

Pada beberapa anak usia 4 tahun masih ada yang menggunakan popok. Seiring berjalannya waktu Anda boleh melepaskan popok yang selalu digunakan oleh anak. 

Kemudian, beri penekanan bahwa anak tidak boleh pipis atau buang air kecil lagi di celana karena sudah tidak memakai popok. Ini salah satu cara untuk toilet training.

Gunakan toilet dewasa

Pada usia 4 tahun, anak sudah bisa menggunakan toilet orang dewasa. Agar lebih nyaman, Anak bisa menyesuaikan dudukan toilet yang bisa dilepas tersebut. 

Untuk pertama kalinya, Anda harus mengajari anak dengan mempraktekkan bagaimana menggunakan toilet, baik dengan lisan juga dengan gerakan.

Perhatikan apa yang anak lakukan

Anda perlu memperhatikan yang dilakukan oleh anak ketika menggunakan toilet. Bila sudah terlihat mandiri, Anda bisa menyuruhnya untuk menggunakan toilet sendiri. 

Kemudian, perhatikan lebih jauh dan terus mengawasinya. Akan lebih baik bila anak mengungkapkan keinginannya buang air kecil atau buang air besar sendiri. Ini merupakan kemantapan anak bahwa ia ingin mandiri dan siap untuk toilet training.

Bila anak Anda sudah memasuki taman kanan-kanak, ajari mereka untuk berbicara kepada guru bila ia ingin buang air kecil atau buang air besar. 

Dengan demikian, anak tidak lagi takut atau bingung bagaimana menyampaikan keinginannya untuk ke toilet kepada guru dan siap untuk toilet training.

Hal yang perlu diperhatikan saat melakukan toilet training 

melatih anak buang air di toilet

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua saat mulai mengenalkan toilet training pada anak:

Lihat kesiapan anak untuk toilet training

Kesiapan potty training tidak hanya berlaku untuk anak, tapi juga orang tua. Biarkan anak Anda yang mengendalikan dan memimpin keinginan dalam latihan buang air di toilet.

Coba untuk tidak menyamakan keberhasilan dan kesulitan anak lain ketika sedang potty training. 

Mayo Clinic menjelaskan bahwa memaksa anak untuk latihan buang air di toilet bisa menyebabkan kecelakaan. 

Bila Anda memakai pengasuh, kerjasama dengannya agar proses toilet training lebih fokus dan konsisten selama beberapa bulan. Lihat juga kondisi anak dan pastikan anak tidak merasa terpaksa.

Hindari membatasi anak minum

Semakin anak banyak minum, kemungkinannya untuk buang air kecil juga besar. Mungkin beberapa orang tua justru akan membatasi anak untuk minum agar dapat mengurangi intensitas anak buang air. 

Hal ini adalah pemikiran yang keliru dan dapat merugikan kesehatan anak karena air penting untuk memenuhi gizi balita. Justru kebalikannya, biarkan anak untuk banyak minum agar ia bisa berlatih untuk buang air kecil di toilet secara langsung.

Waspadai sembelit

Sembelit bisa saja terjadi pada anak ketika sedang mulai potty training. Biasanya terjadi ketika anak tidak mau menggunakan toilet di tempat tertentu, contohnya toilet sekolah atau  tertekan karena mengikuti latihan menggunakan toilet.

Bila anak mengalami sembelit saat toilet training, coba evaluasi kembali apa penyebab anak sembelit. 

Jika karena penyesuaian diri dengan lingkungan toilet, langkah awal yang perlu dilakukan  adalah memberikan pengertian bahwa memang toilet di tempat lain  tidak selalu sama dengan toilet yang di rumah.

Namun perjelas lagi bahwa fungsinya masih sama yaitu untuk buang air besar atau bug air kecil.

Selain itu, evaluasi kembali menu makanan anak. Apakah mungkin anak memakan makanan yang kurang berserat. Anda perlu menambahkan makanan berserat dan cairan dalam menu makanannya. 

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Batuk pada Bayi, Ketahui Jenis dan Cara Mengatasinya

Batuk pada bayi perlu diatasi dengan tepat, tapi berbeda batuk beda juga penanganannya. Apa saja jenis batuk yang biasa dialami bayi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Gangguan Pernapasan pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 28 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit

Manfaat Laktosa pada Susu Pertumbuhan Anak & Takaran Konsumsi yang Aman

Mengapa laktosa sering ditemukan dalam susu formula anak? Ini dia manfaat laktosa bagi tumbuh kembang anak yang perlu Anda ketahui.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
laktosa untuk anak
Anak 1-5 Tahun, Parenting 27 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Ruam Popok, Masalah Kulit Bayi yang Paling Sering Terjadi

Bayi yang keseringan pakai popok, memang rentan terkena ruam popok. Jangan khawatir, ikuti cara ini untuk mengobati dan mengatasi ruam popok.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Penyakit Kulit pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 25 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit

11 Ciri Bayi Tumbuh Gigi yang Perlu Diketahui Orangtua

Ada banyak tanda bayi tumbuh gigi yang dapat membuat si kecil rewel. Berikut berbagai tanda dan tips meredakan rasa tidak nyaman saat bayi tumbuh gigi.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Parenting, Bayi Satu Tahun Pertama 25 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit

Direkomendasikan untuk Anda

anak cengeng

7 Cara Menghadapi Anak Cengeng Tanpa Drama

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Serba-Serbi Mengahadapi Anak Introvert

Serba-Serbi Membesarkan Anak Dengan Kepribadian Introvert

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Monika Nanda
Dipublikasikan tanggal: 20 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
manfaat baca buku untuk anak

Penting! Ini 5 Manfaat Baca Buku untuk Tumbuh Kembang Anak

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 5 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
penyebab diare

10 Penyebab Diare yang Tak Boleh Disepelekan

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 3 Februari 2021 . Waktu baca 9 menit