“Pokoknya Ini Punyaku!”: Memahami Fase Balita Posesif dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 1 Februari 2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Seiring perkembangan balita, Anda akan mengalami momen di mana anak-anak menjadi sangat posesif terhadap benda atau orang yang ada di sekitar mereka. Mereka akan menganggap semua benda dan orang di sekitarnya adalah miliknya, dan orang lain tidak boleh menyentuh atau memilikinya.

Jika ada orang yang berani menyentuh mainannya, mereka akan marah. Atau jika makanannya diminta, mereka akan menangis. Bisa juga saat ayah atau ibunya bicara dengan orang lain atau harus bekerja, anak menjadi histeris. Meskipun menjengkelkan, perilaku posesif ini merupakan tahapan normal dalam perkembangan usia mereka.

Kenapa balita bisa jadi posesif?

Fase posesif biasanya dimulai sejak anak berusia 18 bulan hingga 4 tahun. Fase ini merupakan tahap perkembangan yang normal, karena di fase ini balita belajar untuk memahami konsep kepemilikan, ikatan, dan identitas dirinya.

Sebuah studi terdahulu juga menyebutkan bahwa perilaku posesif yang dikenal dengan istilah “endowment effect” tidak hanya dimiliki oleh orang dewasa, tapi juga balita. Endowment effect adalah istilah yang menunjukkan bahwa seseorang cenderung menganggap barang-barang yang dimilikinya lebih berharga hanya karena barang tersebut milikinya.

Seorang psikolog perkembangan anak di University of Michigan juga menjelaskan bahwa pemikiran balita masih sangat sederhana. Di usia 2 hingga 4 tahun, balita menyadari bahwa ia bisa mengklaim suatu barang atau orang sebagai miliknya hanya  lewat kata-kata seperti, “Ini punyaku!”. Jadi jangan heran jika anak Anda akan mengklaim semua benda yang ia sukai sebagai miliknya.

Selain itu, di usia balita, mereka juga mulai menyadari eksistensi diri. Misalnya waktu bayi mereka akan bercermin dan mengira bahwa yang ia lihat di cermin adalah bayi lain. Sedangkan balita sudah tahu bahwa pantulan di cermin adalah dirinya sendiri. Maka, seiring dengan perkembangan kesadaran balita akan eksistensi dan identitasnya, balita juga mulai menyadari kepemilikannya. Balita akan merasakan bahwa identitasnya semakin kuat jika ia berhasil mengklaim sesuatu sebagai miliknya dan disepakati oleh orang lain.

Apakah anak posesif bisa berubah?

Menghadapi anak posesif memang sulit dan penuh tantangan. Namun, yang perlu Anda ketahui adalah sharing atau berbagi bukanlah konsep yang bisa diterima dengan mudah oleh anak-anak. Jadi, jika Anda ingin melatih anak posesif jadi lebih ikhlas berbagi, maka Anda perlu membimbing anak Anda dengan sabar. Belajar berbagi untuk anak itu membutuhkan proses dari waktu ke waktu. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa Anda ambil untuk membantu prosesnya:

  • Latih anak Anda untuk mulai berbagi dengan orangtuanya sendiri. Ini akan lebih mudah karena mereka tahu Anda tidak akan merebutnya, dan mereka bisa meminta mainan mereka kembali.
  • Sering-sering pergi ke taman bermain. Ajak si kecil untuk main di luar. Ini adalah tempat terbaik untuk anak belajar bersosialisasi, berbagi mainan, dan main bergantian bersama dengan teman-temannya. Kalau anak mau membawa mainan sendiri dari rumah, mintalah anak Anda untuk menyisihkan setidaknya satu mainan yang boleh dipinjamkan pada orang lain.
  • Minta anak untuk meminjamkan barang yang mereka punya banyak. Misalnya buku cerita, lego, krayon, dan lain-lain. Pasalnya, berbagi hal-hal yang jumlahnya banyak tentu akan lebih mudah.
  • Bersabarlah saat mengajari anak Anda berbagi. Lama-lama fase anak posesif ini akan berkurang juga.
  • Menjadi teladan. Selain karena memang sedang melewati fase tertentu, anak posesif juga bisa meniru perilaku negatif ini dari lingkungan di sekitarnya. Maka, penting bagi orangtua untuk menjadi teladan bagi anak dengan mau saling berbagi. Hindari berebut hal-hal yang sepele atau tidak perlu di depan anak.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

Empeng Versus Isap Jempol, Mana yang Lebih Baik untuk Si Kecil?

Bayi cenderung mengisap jempolnya saat sedang tidak menyusu. Namun, lebih baik bayi pakai empeng untuk mencegahnya atau dibiarkan saja? Ini kata para ahli.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Anak 1-5 Tahun, Parenting, Perkembangan Balita 21 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Aturan Memberikan Hadiah ke Anak Agar Tak Berdampak Negatif

Memberikan hadiah ke anak merupakan cara baik untuk meningkatkan motivasi anak. Namun, hati-hati dalam memberikannya karena ini juga bisa berdampak buruk.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 18 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Waktu Memandikan Bayi, Sebaiknya Pagi atau Sore Hari?

Ada yang bilang sebaiknya memandikan bayi di pagi hari, tapi ada juga yang bilang sore lebih pas. Yang benar yang mana? Simak jawabannya di sini, ya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 16 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

4 Cara Mengatasi Kebiasaan Anak Mengemut Makanan

Kebiasaan anak mengemut makanan dalam waktu lama tanpa menelan, tentu sangat mengganggu. Anda perlu mencoba cara berikut ini untuk mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Anak 1-5 Tahun, Gizi Balita, Parenting 16 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

obat mual anak cara mengatasi mual anak

Daftar Obat Mual untuk Anak, Mulai dari Resep Dokter Sampai Perawatan di Rumah

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
Memahami Tumbuh Kembang Gigi dan Rahang Anak

7 Trik Membujuk Anak Agar Tak Takut ke Dokter Gigi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
menonton tv terlalu dekat

Benarkah Nonton TV Terlalu Dekat, Bisa Bikin Mata Anak Rusak?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 8 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
kulit bayi mengelupas

Kulit Bayi Mengelupas di Minggu Pertamanya, Apakah Berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 6 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit