Alasan Dibalik Pentingnya Self Efficacy sebagai Kunci Keberhasilan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Setiap orang tentu memiliki tujuan yang ingin dicapai. Namun, tak semua orang bisa mewujudkan keinginannya tersebut. Salah satu faktor penentu keberhasilannya adalah self efficacy atau keyakinan seseorang untuk mencapainya. Namun, tahukah Anda apa itu self efficacy? Apa saja cara yang bisa diterapkan untuk membangun keyakinan ini?

Apa itu self efficacy?

Self efficacy (efikasi diri) adalah keyakinan seseorang pada kemampuannya untuk berhasil dalam situasi atau kinerja tertentu. Keyakinan ini menjadi penentu bagaimana orang itu berpikir, memotivasi diri sendiri, dan berperilaku untuk mencapai keberhasilan tersebut.

Konsep self efficacy itu sendiri pertama kali dikenalkan pada 1977 oleh seorang psikolog Kanada-Amerika bernama Albert Bandura. Dilansir dari Simply Pshychology, Bandura mengusulkan konsep ini sebagai bentuk penilaian diri mengenai “seberapa baik seseorang dapat melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk menghadapi situasi tertentu”.

Adapun konsep tersebut berperan dalam menentukan peluang seseorang untuk mencapai kesuksesan. Ini juga bisa berdampak baik pada kesehatan mental Anda.

Haruskah Anda Keluar dari Zona Nyaman untuk Menjadi Orang Sukses?

Self efficacy adalah keyakinan yang dibentuk dari empat faktor

Berdasarkan konsep Bandura, ada empat faktor penting yang menjadi sumber atau pembentuk self efficacy. Keempat faktor tersebut adalah:

1. Pengalaman keberhasilan (mastery experiences)

Sumber self efficacy yang pertama dan terpenting adalah pengalaman keberhasilan yang pernah diraihnya sendiri. Bila seseorang pernah berhasil menjalankan suatu tugas di satu bidang, maka ia akan membangun kepercayaan diri di bidang tersebut. Sebaliknya, jika ia pernah gagal, maka keyakinannya di bidang tersebut akan rusak.

2. Pengalaman orang lain (vicarious experiences/social modeling)

Tak hanya pengalaman diri, pengamatan Anda terhadap orang-orang sekitar juga bisa menjadi panutan. Pengalaman keberhasilan orang lain dapat meningkatkan keyakinan bahwa Anda pun memiliki kemampuan serupa untuk mencapai sukses di bidang itu.

3. Persuasi sosial atau verbal (social persuasion/verbal persuasion)

Faktor yang membentuk self efficacy lainnya adalah persuasi sosial. Seseorang yang diyakinkan secara lisan bahwa mereka mampu melakukan tugas tertentu cenderung termotivasi untuk berusaha, termasuk ketika masalah muncul. Persuasi sosial ini juga mendorong Anda untuk terus mengembangkan keterampilan guna mencapai keinginan Anda.

4. Keadaan emosional dan fisiologis

Keadaan emosional, fisik, dan psikologis Anda saat ini dapat memengaruhi self efficacy. Sebagai contoh, pada penderita depresi, umumnya menjadi kurang yakin akan kemampuan mencapai kesuksesan. Sebaliknya, emosi yang positif dan badan yang sehat dapat meningkatkan kepercayaan diri akan kemampuan sendiri.

Selain empat faktor yang dicetuskan Bandura, ada pula faktor lainnya yang juga diyakini membentuk self efficacy seseorang. Faktor kelima ini, yaitu pengalaman imajinatif, yang disebutkan oleh seorang psikolog bernama James Maddux. Menurut Maddux, pengalaman imajinatif pada dasarnya adalah seseorang mencoba menggambarkan tujuannya sebagai sesuatu yang bisa dicapai.

Tanda-tanda atau indikator seseorang memiliki self efficacy

kembali bekerja setelah serangan jantung

Faktor di atas bisa menentukan apakah seseorang memiliki self efficacy yang tinggi atau rendah. Adapun seseorang dengan self efficacy tinggi umumnya dapat dilihat berdasarkan indikator atau tanda-tanda berikut:

  • Melihat tugas yang sulit sebagai tantangan yang harus dihadapi dan dikuasai, bukan sebagai ancaman.
  • Menetapkan tujuan yang menantang dan mempertahankan komitmen yang kuat untuk mencapai tujuan tersebut.
  • Mengambil sikap cepat bangkit dan meningkatkan upaya bila gagal atau hasil yang didapat tidak memuaskan.
  • Menunjukkan dan mengembangkan minat yang mendalam pada aktivitas yang mereka lakukan.

Sebaliknya, indikator atau tanda-tanda seseorang yang memiliki self efficacy rendah biasanya ditunjukkan dengan sikap berikut:

  • Menghindari tugas-tugas sulit karena dianggap sebagai ancaman.
  • Memiliki komitmen dan aspirasi yang lemah terhadap tujuan yang ingin mereka kejar.
  • Memikirkan kekurangan diri saat dihadapkan pada tugas yang sulit. Selain itu, memikirkan hambatan yang akan dihadapi, dan semua hal yang akan mengarah pada kegagalan, daripada berkonsentrasi pada tindakan yang akan membawa kesuksesan.
  • Mengalami kesulitan bangkit dari kegagalan.
  • Menjadi kehilangan kepercayaan pada kemampuannya.
  • Mengalami stres dan depresi bila tujuan tidak tercapai.

Bagaimana cara membangun self efficacy?

asuransi kesehatan untuk freelancer

Self efficacy adalah konsep yang bisa ditumbuhkan dan ditingkatkan pada diri seseorang. Agar mendapat self efficacy yang tinggi, berikut adalah tips atau cara-cara yang dapat Anda lakukan:

  • Jadikan orang di sekitar Anda sebagai panutan

Salah satu faktor yang memengaruhi efikasi diri adalah pengalaman orang lain dalam mencapai keberhasilan. Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk belajar dari orang lain untuk mencapai kesuksesan Anda sendiri.

Untuk mengimplementasikannya, Anda bisa menjadikan orang di sekitar Anda sebagai model atau panutan. Pilihlah orang yang menunjukkan perilaku sosial baik dan menarik yang bisa membantunya mencapai kesuksesan. Misalnya, Anda bisa menjadikan guru sebagai model bila Anda adalah seorang siswa atau atasan Anda bila Anda adalah seorang karyawan.

  • Cari umpan balik yang positif

Terkadang, ada orang berpikir, tidak ada umpan balik dari orang lain atas kinerja Anda berarti Anda telah mengerjakan tugas dengan baik. Padahal, hal ini belum tentu benar. Justru, menghadapi kritik atau umpan balik, terutama yang positif dan membangun, bisa menjadi cara untuk meningkatkan self efficacy Anda.

Dengan adanya umpan balik yang positif, Anda bisa menjadi lebih paham apa yang harus diperbaiki. Anda pun menjadi lebih yakin untuk mencapai kesuksesan.

  • Aktif dan banyak berlatih

Hal terpenting untuk membangun self efficacy adalah pengalaman Anda sendiri dalam mencapai keberhasilan. Oleh karena itu, Anda harus tetap aktif, banyak berpartisipasi dalam pekerjaan atau lingkungan, serta melatih diri dalam menghadapi berbagai rintangan.

Semakin tinggi jam terbang Anda dalam menghadapi rintangan, semakin tinggi pula peluang Anda mencapai keberhasilan. Bila keberhasilan sudah diraih berulang kali, self efficacy Anda pun cenderung meningkat.

  • Jaga kesehatan fisik dan mental tetap stabil

Kondisi psikologis, seperti suasana hati yang berubah-ubah (mood swing), stres, dan depresi, serta kesehatan fisik dapat memengaruhi self efficacy. Oleh karena itu, Anda perlu menjaga kesehatan fisik dan mental tetap stabil. Misalnya dengan mencegah dan meredakan stres yang kerap datang.

Kalkulator Detak Jantung

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenapa Ada yang Butuh Tidur Lebih Lama Daripada Orang Lain?

Beberapa orang perlu tidur lebih lama agar tubuh bisa berfungsi normal di siang hari. Cari tahu berbagai penyebabnya karena mungkin Anda salah satunya.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Pola Tidur Sehat, Tips Tidur 14 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 13 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

7 Kebiasaan Buruk yang Membuat Anda Rentan Alami Gangguan Mental

Terobsesi untuk selalu update di media sosial? Hobi begadang? Hati-hati, ada banyak kebiasaan sehari-hari yang bisa mengganggu kesehatan mental Anda.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 8 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Kenali Ciri Bipolar Disorder yang Sering Diabaikan atau Disalahartikan

Perhatikan jika Anda melihat kondisi gejolak emosi ekstrem. Hal tersebut bisa jadi ciri bipolar disorder. Yuk, kenali ciri-ciri khasnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Mental, Gangguan Mood 8 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

self esteem adalah

Pentingnya Punya Self Esteem (Harga Diri) yang Baik dan Cara Meningkatkannya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
gangguan bipolar adalah

Gangguan Bipolar (Bipolar Disorder)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 21 Februari 2021 . Waktu baca 10 menit
mental illness atau gangguan mental

Mental Illness (Gangguan Mental)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 11 menit
digital fatigue

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit