Ketergantungan Pada Pasangan Bisa Memicu Gangguan Psikologis

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 5 November 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Pasangan yang saling mencintai satu sama lain pasti memiliki ikatan batin dan perasaan yang kuat. Setiap hubungan romantis yang terjalin di antara pasangan tersebut membuat ikatan semakin kuat dan diharapkan bisa menjadi akar yang kokoh. Namun bagaimana jika hubungan asmara yang romantis menjadi sumber masalah dari hubungan yang sedang dijalani?

Ternyata, komitmen serta perasaan cinta yang terlalu banyak dicurahkan kepada pasangan dapat menjadi ‘senjata makan tuan’ bagi suatu hubungan. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

RSCE, kondisi psikologis akibat ketergantungan pada pasangan

Terkadang, salah satu atau kedua pihak dari pasangan tersebut terlalu banyak mencurahkan emosi, perasaan, serta semua komitmennya terhadap hubungan asmara yang mereka jalani. Akibatnya, laki-laki atau perempuan tersebut menjadi lebih sensitif dan justru menggantungkan semua harapan serta hidup mereka pada pasangannya. Kondisi ini dapat membuat seorang individu mengalami relationship-contingent-self-esteem.

Relationship-contingent-self-esteem (RCSE) adalah kondisi di mana seseorang baru akan merasa dihargai atau percaya diri jika diberikan pujian serta reaksi positif dari pasangan yang dicintainya. Hal ini tentu saja sangat berbahaya bagi kesehatan mental jika RCSE yang dialami seseorang terlalu tinggi.

BACA JUGA: 5 Manfaat Jatuh Cinta untuk Kesehatan

RCSE bisa menyebabkan seseorang mengalami depresi berat bahkan gangguan mental

Sebuah penelitian dilakukan, berfokus pada bagaimana peran pikiran, emosi, serta perasaan seorang individu dapat mempertahankan suatu hubungan asmara yang sedang mereka jalani. Penelitian ini melibatkan sebanyak 198 pasangan. Mereka diminta untuk mencurahkan perasaan atas semua kejadian yang terjadi setiap harinya selama 14 hari. Dari buku harian tersebut, kemudian peneliti mengetahui perasaan-perasaan apa saja yang ditimbulkan ketika mereka menjalani hubungan asmara.

Lalu, peneliti menyimpulkan bahwa orang yang terlalu mencurahkan semua emosi, perasaan, serta rasa cintanya pada hubungan yang sedang dijalani cenderung mengalami RCSE. Sementara diketahui pula orang yang mengalami kondisi tersebut rentan menjadi depresi berat, tertekan, cemas yang berlebihan yang tentu saja tidak baik bagi kesehatan mental.

BACA JUGA: Mengapa Cinta Membuat Kita Galau?

Apa saja masalah yang dapat timbul jika Anda mengalami RCSE?

Seseorang yang mengalami RCSE sangat tergantung pada pasangannya, sehingga harga diri atau penghargaan untuk dirinya sendiri diperoleh dari perilaku pasangan terhadap dirinya. Jika pasangannya tidak melakukan hal baik atau tidak sesuai dengan harapannya, maka ia akan mengalami stres dan kesedihan yang luar biasa. Tidak hanya itu, RSCE dapat membuat seseorang menjadi obsesif terhadap hubungannya. Sehingga orang yang memiliki sifat ini akan sangat memperhatikan tindakan, perkataan, serta menganalisis semua gerak-gerik pasangannya secara obsesif, dan memaknainya lebih dalam

Orang yang memiliki sifat RCSE yang tinggi juga memiliki komitmen yang tinggi dalam sebuah hubungan. Walaupun begitu, orang yang mempunyai kondisi tersebut mempunyai risiko mengalami depresi berat jika muncul masalah pada hubungan asmara yang sedang dijalani. Seseorang menjadi defensif dan sangat sensitif terhadap setiap masalah yang datang jika memiliki RCSE yang tinggi.

Hal ini akan menjadi kendala besar bagi suatu hubungan. Bahkan orang yang mengalami RCSE sudah tidak lagi memiliki kemampuan untuk ditinggal dan melakukan hubungan jarak jauh. Mereka akan merasa sangat cemas dan tidak aman karena pasangannya jauh dari dirinya.

BACA JUGA: 13 Hal yang Terjadi Pada Tubuh Saat Jatuh Cinta

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal Fungsi Testis, Anatomi, dan Risiko Penyakit yang Menyertainya

Fungsi testis sangat penting sebagai salah satu bagian organ reproduksi pria. Kenali anatomi testis normal dan risiko penyakit yang menyertai berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Kesehatan Pria, Kesehatan Penis 19 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Semua Hal yang Penting Diperhatikan Pasca Operasi Usus Buntu

Pasca operasi usus buntu Anda tidak dianjurkan kembali beraktivitas. Anda juga perlu menghindari beberapa pantangan setelah operasi usus buntu.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kesehatan Pencernaan, Radang Usus Buntu 19 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Segudang Manfaat Daun Sirih Hijau dan Merah yang Sayang Dilewatkan

Anda pasti sudah akrab dengan manfaat daun sirih untuk hentikan mimisan. Meski begitu, masih ada banyak lagi khasiat daun sirih untuk kesehatan. Penasaran?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Pengobatan Herbal dan Alternatif, Herbal A-Z 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

11 Cara Jitu Mengusir Rasa Sedih dan Galau Dalam Hati

Ternyata menonton film sedih bukan cuma membuat kita menangis, tapi ada juga manfaat lainnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara tahan lama

Berbagai Cara Agar Pria Tahan Lama Saat Berhubungan Seks

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
hidung meler

7 Penyebab Hidung Meler serta Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit
urat menonjol pada orang muda

6 Penyebab Urat Anda Menonjol dan Terlihat Jelas di Kulit

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
pertolongan pertama keracunan makanan

Pertolongan Pertama untuk Mengatasi Keracunan Makanan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Ivena
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit