3 Risiko Komplikasi Utama dari Program Bayi Tabung yang Harus Diwaspadai (Bisakah Dihindari?)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 September 2018 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Berdasarkan data dari PERFITRI REGISTRY 2017, peluang sukses hamil dari program IVF alias bayi tabung di Indonesia tercatat sekitar 29 persen. Peluangnya bahkan bisa mencapai 40% atau mungkin lebih tinggi lagi jika dimulai sedini mungkin, sebaiknya di usia kurang dari 35 tahun. Namun, sebelum Anda dan pasangan memutuskan untuk mendaftar di klinik IVF terdekat, sebaiknya pahami dulu kemungkinan risiko bayi tabung yang dapat terjadi.

Apa saja risiko bayi tabung yang mungkin terjadi?

perbedaan bayi tabung dan inseminasi buatan

Meski peluang suksesnya cukup tinggi, program bayi tabung juga memiliki beberapa risiko komplikasi yang harus dipertimbangkan baik-baik oleh setiap pasutri. Risiko bayi tabung yang paling umum di antaranya adalah:

1. Sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS)

Sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS) adalah kondisi ovarium yang menghasilkan sel telur lebih banyak dari normalnya. Sekitar 2% wanita yang menjalani bayi tabung mengalami sindrom ini.

Kondisi ini biasanya terjadi sebagai efek samping obat penyubur yang diberikan saat menjalani proses bayi tabung. Selain itu, wanita yang sangat kurus, obesitas, atau sedari awalnya memiliki jumlah sel telur yang sangat banyak juga bisa mengalami sindrom OHSS.

Tanda dan gejala OHSS meliputi:

  • Sakit perut ringan
  • Perut kembung
  • Mual dan muntah
  • Diare

Pada beberapa kasus, sindrom OHSS juga dapat menyebabkan sesak napas dan peningkatan berat badan. Segera konsultasikan ke dokter jika Anda mengalaminya.

2. Kelahiran kembar

Selama ini, bayi tabung dipandang sebagai program hamil andalan untuk mendapatkan bayi kembar. Namun begitu, cara pandang aji mumpung seperti ini sebenarnya salah dan perlu dikoreksi, ungkap dr. Ivan Sini, GDRM, MMIS, FRANZCOG, SpOG, selaku Sekretaris Jenderal Perkumpulan Fertilisasi In Vitro Indonesia (PERFITRI) saat ditemui tim Hello Sehat di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (30/8) pada acara temu media yang digawangi oleh Merck Indonesia.

Bayi tabung memang cukup banyak menghasilkan anak kembar. Sekitar 17% kasus kehamilan kembar berasal dari program IVF. Namun, kehamilan kembar bukanlah “gol” utama yang diinginkan dari program IVF.

Pasalnya, kehamilan kembar sangat berisiko tinggi untuk persalinan prematur serta berbagai komplikasi lainnya. “Yang kita (dokter – red) inginkan (dari program IVF) adalah ibu itu bisa hamil sembilan bulan dan anaknya lahir normal,” tutur dr. Ivan.

Selain prematur, risiko kehamilan kembar dari program bayi tabung juga bisa memicu masalah kesehatan pada ibu, seperti:

  • Keguguran.
  • Preeklampsia.
  • Diabetes gestasional.
  • Anemia dan perdarahan hebat.
  • Risiko operasi caesar lebih tinggi.

Jadi, bayi kembar seharusnya bukan menjadi tujuan utama bagi pasutri yang ingin memiliki anak. Yang terpenting adalah memastikan bayi Anda lahir cukup bulan alias sembilan bulan, normal, dan sehat. Ini bisa terjadi kalau kita mengurangi jumlah embrio yang ditanamkan saat proses bayi tabung, ujar dr. Ivan.

3. Hamil di luar kandungan (kehamilan ektopik)

Kehamilan ektopik adalah satu risiko bayi tabung yang sangat perlu diwaspadai oleh perempuan. Komplikasi kehamilan ini terjadi ketika sel telur yang sudah dibuahi menempel di tempat lain selain rahim, umumnya di tuba falopi. Bisa juga terjadi pada rongga perut atau justru pada leher rahim.

Ciri-ciri utama dari kehamilan ektopik adalah sakit perut hebat di salah satu sisi, keputihan yang warnanya cenderung keruh atau gelap, dan bercak darah ringan.

Bagaimana cara menurunkan risiko program bayi tabung?

syarat bayi tabung

Untuk mengantisipasi risiko bayi tabung, dokter harus tahu dulu seperti apa riwayat kesehatan pasien.

Bagi wanita yang berisiko OHS, misalnya dokter dapat meresepkan dosis obat kesuburan yang tepat buat Anda selama menjalani program bayi tabung. Hal ini disampaikan oleh Prof. dr. Budi Wiweko, SpOG (K), MPH, selaku Presiden PERFITRI saat ditemui tim Hello Sehat di Cikini, Kamis (30/8).

“Tidak semua pasien memerlukan dosis obat yang sama. Ada pasien yang butuh dosis 300, ada yang perlu dosis 225, dan ada yang perlu dosis 150. Nah, dengan inilah risiko program bayi tabung berupa OHSS dapat segera diatasi,” ungkap dr. Wiweko.

Selain itu, pasutri juga dianjurkan untuk menerapkan pola hidup sehat, baik sebelum, saat, dan setelah menjalani proses bayi tabung. Pasalnya, menurut Prof. Wiweko, kebanyakan pasutri yang infertil alias tidak subur mengalami defisiensi vitamin D, antioksidan, protein, dan nutrisi lainnya.

Oleh karena itu, makanlah makanan yang bergizi seimbang baik, khususnya yang mengandung vitamin D, antioksidan, protein, rendah glikemik, dan nutrisi lainnya. Bukan hanya untuk wanitanya saja, pria pun juga harus ikut makan makanan yang bergizi, apalagi kalau mengalami gangguan sperma.

Semakin sehat dan bugar tubuh pasutri dalam menyambut kehamilan, maka semakin besar pula peluang bayi tabung sukses tanpa risiko komplikasi.

Kalkulator Masa Subur

Ingin Cepat Hamil? Cari tahu waktu terbaik untuk bercinta dengan suami lewat kalkulator berikut.

Kapan Ya?
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pertumbuhan Berat Badan Janin dalam Kandungan di Setiap Trimester Kehamilan

Membesarnya perut ibu saat hamil menandakan janin berkembang dengan baik. Idealnya, berapa berat badan normal janin sejak awal hingga akhir kehamilan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Prenatal, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 13 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit

Menopause

Pada akhirnya setiap wanita akan mengalami menopause. Untuk itu, cari tahu informasi lengkap seputar menopause di artikel ini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Wanita, Menopause 12 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit

Setelah Kuret, Kapan Bisa Menstruasi Lagi Seperti Biasa?

Setelah kuret, seringkali wanita merasa khawatir dengan siklus menstruasinya. Kapan menstruasi terjadi kembali setelah keguguran?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Persalinan, Melahirkan, Kehamilan 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Janin Berhenti Bergerak, Apakah Harus Periksa ke Dokter?

Tendangan janin dapat menunjukkan janin dalam kondisi sehat dalam kandungan. Tapi, bagaimana jika janin berhenti bergerak? Apa yang harus dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Masalah Kehamilan, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 6 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

salah menggunakan test pack

5 Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Memakai Test Pack

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
program dan cara cepat hamil

7 Cara Cepat Hamil yang Perlu Dilakukan Anda dan Pasangan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
makanan penyubur sperma

10 Makanan Penyubur Sperma agar Pasangan Cepat Hamil

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
Kapan kehamilan bisa terdeteksi

Kapan Kehamilan Bisa Mulai Terdeteksi dengan Test Pack?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit