Kondisi Genetik Ayah Turut Menentukan Jenis Kelamin Anak yang Lahir

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22 November 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Jenis kelamin mungkin adalah salah satu hal yang paling dinantikan dari kelahiran bayi. Kendati tak bisa ditebak, penentuan jenis kelamin anak ternyata tidak sepenuhnya acak seperti yang selama ini diperkirakan. Menurut sebuah penelitian, latar belakang genetik ayah turut berperan dalam menentukan jenis kelamin bayi yang lahir.

Hubungan antara latar belakang genetik dan jenis kelamin

Corry Gellatly, peneliti dari Newcastle University, Inggris, melakukan penelitian tentang hubungan antara kondisi genetik orangtua dan jenis kelamin anak. Ia mempelajari data 927 pohon keluarga dari Amerika Utara dan Eropa yang dihimpun sejak abad ke-17.

Melalui pohon keluarga tersebut, Gellatly melihat seberapa besar peluang seseorang memiliki anak laki-laki atau perempuan. Ternyata, pria yang mempunyai lebih banyak saudara laki-laki berkemungkinan lebih besar memiliki anak laki-laki.

Sementara itu, para pria yang mempunyai lebih banyak saudara perempuan cenderung memiliki anak perempuan. Ia menduga, hubungan antara kondisi genetik ayah dan jenis kelamin anak terletak pada jenis kromosom yang terdapat pada sel sperma ayah.

Jenis kelamin ditentukan dari kromosom X dan Y. Laki-laki memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y (XY), sedangkan perempuan memiliki dua kromosom X (XX). Sel sperma dapat membawa satu kromosom X atau satu kromosom Y.

Bila kromosom X pada sperma berpadu dengan kromosom X dari sel telur, bayi yang lahir akan berjenis kelamin perempuan (XX). Sebaliknya, jika kromosom Y pada sperma bertemu dengan kromosom X dari sel telur, bayi akan berjenis kelamin laki-laki (XY).

Gellatly juga menduga, jenis kromosom yang terdapat pada sperma mungkin ditentukan oleh suatu gen yang belum diketahui. Gen tersebut mungkin hanya aktif pada si ayah, dan inilah mengapa jenis kelamin anak tidak bisa diperkirakan dari kondisi genetik ibu.

Bagaimana gen dapat memengaruhi jenis kelamin anak?

Kromosom

Gellatly memberikan gambaran sederhana terkait dugaannya mengenai gen yang memengaruhi kromosom pada sperma. Gen adalah potongan DNA berisikan informasi genetik yang diwariskan kepada keturunan. Gen terletak pada kromosom.

Gen terdiri dari dua bagian yang disebut alel, masing-masing diwariskan dari ayah dan ibu. Pada teori Gellatly, alel ‘m’ membuat sperma memiliki kromosom Y, sedangkan alel ‘f’ membuat sperma memiliki kromosom X.

Kombinasi alel yang berbeda akan memengaruhi kondisi genetik serta jenis kelamin anak. Berikut gambarannya:

  • Pria yang memiliki alel mm menghasilkan lebih banyak sperma dengan kromosom Y sehingga mereka mempunyai lebih banyak anak laki-laki.
  • Pria yang memiliki alel mf menghasilkan sperma berkromosom X dan Y dengan jumlah sama. Jumlah anak laki-laki dan perempuannya kurang lebih pun sama.
  • Pria yang memiliki alel ff menghasilkan lebih banyak sperma dengan kromosom X sehingga mereka mempunyai lebih banyak anak perempuan.

Jenis kelamin bayi konon bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk kondisi genetik orangtua. Meski demikian, hal ini tidak selalu bersifat mutlak dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

Baik laki-laki maupun perempuan, yang terpenting Anda senantiasa menjaga kesehatan kandungan agar janin tumbuh dengan optimal. Jenis kelamin hanyalah satu dari banyak kejutan yang membuat kehamilan terasa menyenangkan.

Kalkulator Hari Perkiraan Lahir

Kalkulator ini dapat memperkirakan kapan hari persalinan Anda.

Cek HPL di Sini
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Ngidam Manis dan Perut Menonjol ke Atas Tandanya Hamil Anak Perempuan?

Katanya ibu hamil yang hanya ngidam makanan manis dan bentuk perutnya lebih menonjol di atas tandanya hamil anak perempuan. Apa kata dunia medis soal ini?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 3 Desember 2018 . Waktu baca 4 menit

Apa Itu Biseksual? Mengapa Seseorang Bisa Jadi Biseksual?

Sering mendengar istilah biseksual? Apa itu biseksual? Dan kenapa ada orang-orang yang jadi seperti ini? Anda akan tahu setelah baca artikel ini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Hidup Sehat, Seks & Asmara 18 Oktober 2017 . Waktu baca 6 menit

Kapan Anak Mulai Mengenal Perbedaan Jenis Kelamin?

Seiring pertumbuhannya, anak banyak belajar hal baru. Termasuk perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Orangtua wajib membimbingnya dalam hal ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Parenting, Tips Parenting 23 September 2017 . Waktu baca 5 menit

6 Cara Program Hamil Anak Perempuan yang Bisa Anda Coba

Apakah Anda membayangan memiliki anak perempuan cantik nan menggemaskan? Cek di sini untuk tahu program hamil anak perempuan yang bisa Anda coba.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Kesuburan, Kehamilan 6 Mei 2017 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Moluskum Kontagiosum atau molluscum contagiosum

Moluskum Kontagiosum (Molluscum Contagiosum)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 9 November 2020 . Waktu baca 6 menit
garis hitam di perut

Muncul Garis Hitam di Perut Saat Hamil, Apa Sih Artinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
detak jantung jenis kelamin bayi

Apakah Jenis Kelamin Bayi Bisa Diketahui dari Detak Jantungnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 24 Oktober 2019 . Waktu baca 3 menit
nonbinary atau genderqueer adalah

Tidak Merasa Sebagai Pria Ataupun Wanita, Kenali Identitas Gender Bernama Genderqueer

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 3 Desember 2018 . Waktu baca 3 menit