Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya
ask-doctor-icon

Tanya Dokter Gratis

Kirimkan pertanyaan atau pendapatmu di sini!

Penyakit Jantung di Indonesia dan Penanggulangannya

Penyakit Jantung di Indonesia dan Penanggulangannya

Penyakit jantung adalah salah satu penyebab kematian tertinggi secara global, tak terkecuali Indonesia. Beragam upaya penanggulangan telah dilakukan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, tetapi data terakhir belum menunjukkan penurunan. Berikut dapat Anda simak informasi seputar penyakit jantung di Indonesia.

Prevalensi penyakit jantung di Indonesia

obat ivabradine

Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit kardiovaskular, salah satunya penyakit jantung, merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia.

Data menyebutkan bahwa kematian akibat penyakit jantung menyumbang 32% angka kematian secara global, dengan estimasi mencapai 17,9 juta orang per tahun.

Sementara itu, penyakit jantung menjadi penyebab kematian tertinggi kedua di Indonesia. Kementerian Kesehatan RI menjelaskan, jumlah tersebut hanya kalah dari penyakit kardiovaskular lain, stroke.

Dalam data Riset Kesehatan Dasar 2018, jumlah keseluruhan kasus atau prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk semua umur mencapai 1,5 persen.

Jumlah persentase tersebut masih belum berkurang dari tahun 2013, yang angkanya diperoleh berdasarkan data penyakit jantung koroner dan gagal jantung di seluruh Indonesia.

Kelompok usia 75 tahun ke atas menjadi penyumbang kasus penyakit jantung tertinggi dengan persentase mencapai 4,7 persen. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan pada 2013.

Pada 2018, prevalensi penyakit jantung didominasi oleh perempuan dengan persentase sebanyak 1,6 persen. Angka tersebut hanya terpaut sedikit dari kasus penyakit jantung pada laki-laki, yaitu sebesar 1,3 persen.

Jika selama 2013, kasus penyakit jantung paling banyak terjadi di pedesaan, perubahan terjadi pada 2018. Sebanyak 1,6% kasus terjadi di perkotaan, sedangkan prevalensi di pedesaan jumlahnya sebesar 1,3 persen.

Pada tingkat provinsi, kasus penyakit jantung paling banyak terjadi di Kalimantan Utara (2,2%), yang diikuti dengan Gorontalo dan Daerah Istimewa Yogyakarta (masing-masing 2%). Sementara itu, angka kasus terendah tercatat di provinsi Nusa Tenggara Timur (0,7%).

Penyebab dan faktor risiko penyakit jantung di Indonesia

Penyebab utama penyakit jantung tertinggi di Indonesia ialah pola hidup tidak sehat. Hal tersebut sesuai dengan apa yang disampaikan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI).

Dilansir dari Kementerian Kesehatan RI, tingginya kasus penyakit jantung di Indonesia disebabkan oleh buruknya gaya hidup pengidapnya, seperti merokok dan pola makan tidak seimbang.

PERKI menyebut, kedua faktor tersebut meningkatkan risiko pengidap penyakit jantung mengalami henti jantung mendadak (sudden cardiac death).

Secara umum, penyakit jantung disebabkan oleh adanya kerusakan, peradangan, penyumbatan, atau kelainan pada otot, jantung, serta pembuluh darah di sekitarnya.

Selain itu, perkembangan jantung yang tidak sempurna, infeksi, dan terhambatnya aliran darah kaya oksigen ke jantung juga menjadi penyebab penyakit ini.

Di sisi lain, beberapa faktor dapat meningkatkan risiko terserang penyakit jantung, mulai dari kebiasaan merokok, pola makan buruk (tinggi garam, lemak, dan kolesterol), jenis kelamin, serta usia.

Gangguan kesehatan lain seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi juga bisa berperan dalam berkembangnya penyakit ini.

Upaya pencegahan penyakit jantung di Indonesia

berhenti merokok dapat mencegah penyakit jantung

Berkaca pada tingginya kasus penyakit jantung di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI telah menyiapkan upaya pencegahan lewat CERDIK.

CERDIK merupakan lima tindakan sederhana yang bisa membantu mengurangi risiko terkena penyakit jantung seperti berikut.

  • Cek kesehatan secara rutin, minimal satu tahun sekali (untuk orang sehat atau berisiko mengidap penyakit tidak menular) atau sebulan sekali (sudah mengidap penyakit tidak menular).
  • Enyahkan asap rokok, sebab kebiasaan ini merupakan salah satu faktor yang meningkatkan risiko penyakit jantung.
  • Rajin aktivitas fisik, setidaknya 150 menit per minggu (30 menit per hari selama lima hari).
  • Istirahat cukup, minimal 7 hingga 8 jam per hari.
  • Kelola stres, misalnya dengan menyeimbangkan waktu bekerja dan istirahat.

Penyakit jantung dan COVID-19

Pada masa pandemi seperti sekarang, pengidap penyakit komorbid, salah satunya penyakit jantung, berisiko tinggi mengalami kondisi yang lebih buruk dan bahkan kematian.

Dari data sejumlah rumah sakit yang dimiliki Kemenkes RI, sebanyak 16,3% pasien COVID-19 yang dirawat di ruang isolasi mempunyai komorbid.

Sementara itu, persentase kematian penderita komorbid yang terserang COVID-19 meningkat hingga 22–23 persen. Peningkatan tersebut diketahui akibat infeksi COVID-19 yang ikut memperburuk kesehatan jantung.

Untuk mengurangi risiko COVID-19 pada pengidap penyakit jantung, beberapa tindakan pencegahan yang bisa dilakukan di antaranya:

  • rutin beraktivitas fisik,
  • menerapkan physical distancing,
  • mencuci tangan dengan sabun,
  • minum obat sesuai rekomendasi dokter,
  • menerapkan pola makan sehat,
  • melakukan pemeriksaan rutin ke dokter, dan
  • melakukan vaksinasi.

Jika Anda merasakan gejala COVID-19, segera konsultasikan ke dokter. Penanganan sedini mungkin dapat membantu mencegah kondisi bertambah parah.

Kesimpulan

Penyakit jantung di Indonesia menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi kedua setelah stroke. Meski belum menunjukkan penurunan, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah melakukan upaya penanggulangan melalui CERDIK.

health-tool-icon

Kalkulator Detak Jantung

Cari tahu berapa detak jantung istirahat (RHR) maksimum untuk usia Anda dan bagaimana intensitas olahraga dan faktor lain memengaruhi detak jantung.

Laki-laki

Wanita

Anda mengecek untuk ....

Detak jantung istirahat Anda .... (bpm/denyut per menit)

60

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Hasil Utama Riskesdas 2018. (2018). Retrieved 19 August 2022, from https://kesmas.kemkes.go.id/assets/upload/dir_519d41d8cd98f00/files/Hasil-riskesdas-2018_1274.pdf

Hasil Utama Riskesdas 2013. (2013). Retrieved 19 August 2022, from http://labdata.litbang.kemkes.go.id/images/download/laporan/RKD/2013/Laporan_riskesdas_2013_final.pdf

Penyakit Jantung Koroner Didominasi Masyarakat Kota. (2021). Retrieved 19 August 2022, from https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20210927/5638626/penyakit-jantung-koroner-didominasi-masyarakat-kota/

Cardiovascular diseases (CVDs). (2021). Retrieved 19 August 2022, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cardiovascular-diseases-(cvds)

COVID-19 and cardiovascular disease | The Heart Foundation. (2022). Retrieved 19 August 2022, from https://www.heartfoundation.org.au/bundles/support/covid-19-and-heart-disease-risks

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Bayu Galih Permana Diperbarui Aug 25
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa
Next article: