home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Jamur Enoki yang Tercemar Bakteri, Apa Bahayanya?

Jamur Enoki yang Tercemar Bakteri, Apa Bahayanya?

Pemerintah Indonesia sempat memberi instruksi untuk memusnahkan jamur enoki karena mengandung bakteri berbahaya bagi tubuh manusia. Jamur enoki terbukti terkontaminasi Listeria monocytogenes yang menyebabkan penyakit Listeriosis.

Berita seputar jamur enoki yang berbahaya

manfaat jamur enoki tapi bisa bahaya jika tercemar bakteri

Larangan konsumsi jamur enoki dari Korea Selatan ini berawal saat INFOSAN (International food safety Authority Network) mengabarkan adanya kejadian luar biasa (KLB) di Amerika, Kanada, dan Australia akibat konsumsi jamur enoki yang tercemar bakteri.

Akhirnya, dilakukanlah investigasi yang menunjukkan bahwa jamur enoki dari produsen Green Co Ltd yang diimpor dari Korea Selatan mengandung bakteri berbahaya bernama Listeria monocytogenes yang jumlahnya telah melebihi ambang batas.

Pada saat itu, Badan pengawas obat dan makanan Amerika (FDA) telah mengumumkan jamur enoki dari Green Co Ltd didistribusikan oleh tiga perusahaan yakni Sun Hong Foods, Inc., Guan’s Mushroom Co., dan H&C Food, Inc.

Halaman FDA tersebut juga mengingatkan agar masyarakat tidak mengkonsumsi jamur enoki dari perusahaan tersebut walaupun tampilannya segar dan tidak busuk.

Apakah jamur enoki berbahaya?

Lantas, Anda mungkin bertanya-tanya apakah jamur enoki dari negara lain memiliki kandungan bakteri Listeria yang sama. Nyatanya, tidak semua jamur enoki berbahaya dan mengandung bakteri Listeria, bahkan jamur ini memiliki sejumlah manfaat yang baik untuk kesehatan Anda.

Salah satunya, kandungan serat yang ada di dalamnya dapat membantu menjaga kesehatan pencernaan Anda.

Jamur enoki bisa membantu melembutkan feses agar lebih mudah dikeluarkan, bantu mengurangi risiko kanker usus besar, serta bisa membuat Anda kenyang lebih lama. Fakta ini tentunya akan sangat membantu bagi Anda yang ingin menurunkan berat badan.

Selain itu, jamur enoki juga bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh Anda. Pasalnya, satu porsi jamur enoki mengandung protein sebesar 1,7 gram, jumlah ini sepadan dengan protein pada sayuran hijau.

Protein berperan penting untuk membangun dan memperbaiki jaringan tubuh sehingga dapat bekerja baik saat melawan infeksi virus dan bakteri.

Bahaya bakteri Listeria monocytogenes

jamur enoki harus dikonsumsi matang agar terhindar dari bahaya bakteri listeria

Bakteri Listeria monocytogenes biasa hidup dan mengontaminasi daging yang kurang matang dan produk susu. Beberapa KLB akibat bakteri ini pernah terjadi pada seledri, taoge/kecambah, blewah, keju, dan es krim.

Bakteri ini diketahui bisa hidup di suhu rendah termasuk suhu kulkas. Maka dari itu, bakteri ini bisa mengontaminasi jamur enoki yang tumbuh di suhu rendah dan hampir selalu disimpan di lemari pendingin.

Bakteri ini juga bisa menyebar ke permukaan benda dan ke makanan lain di dekatnya setelah dimasak.

Penyakit akibat bakteri ini disebut infeksi Listeriosis. Meski termasuk salah satu penyakit yang jarang terjadi, infeksi ini termasuk berbahaya.

Gejalanya hampir mirip seperti flu, yakni demam, diare, menggigil, mual, dan nyeri otot. Penyakit ini dapat sembuh sendiri pada orang sehat yang memiliki daya tahan tubuh kuat.

Bagi yang memiliki sistem imun rendah seperti orang tua dan orang dengan penyakit penyerta, penyakit ini bisa menyebabkan meningitis atau radang selaput otak.

Sementara itu, Listeriosis yang dialami ibu hamil dapat menyebabkan kelahiran prematur, keguguran, bahkan kematian janin sesaat setelah kelahiran. Bayi dapat sakit keras jika terinfeksi sebelum lahir.

Bagaimana cara mencegah infeksi Listeria?

Perlu diingat bahwa tidak semua jamur enoki berbahaya. Jamur enoki memiliki beragam manfaat.

Namun, meski jamur enoki yang Anda konsumsi termasuk aman, Anda tetap harus melakukan langkah pencegahan infeksi bakteri listeria dengan mengikuti standar kebersihan dan keamanan pangan saat mengolahnya.

Pertama, cucilah tangan dengan air dan sabun selama 20 detik sebelum mulai mengolah makanan. Pastikan seluruh peralatan yang Anda gunakan juga sudah dicuci sampai bersih.

Setelah itu, cuci jamur enoki di bawah air yang mengalir. Bila Anda ingin memotong jamur di talenan, gunakan talenan yang berbeda dari yang biasa Anda gunakan untuk memotong daging mentah.

Masak makanan Anda sampai benar-benar matang. Bila perlu, Anda bisa menggunakan termometer makanan untuk memastikan hidangan Anda dimasak dengan suhu yang aman.

Langkah-langkah ini tidak hanya berlaku untuk jamur enoki, tapi juga bahan-bahan panganan yang lainnya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

FDA. Outbreak Investigation of Listeria monocytogenes: Enoki Mushrooms. Retrieved 3 February 2021 from: https://www.fda.gov/food/outbreaks-foodborne-illness/outbreak-investigation-listeria-monocytogenes-enoki-mushrooms-march-2020

CDC. Outbreak of Listeria Infections Linked to Enoki Mushrooms. Retrieved 3 February 2021, from: https://www.cdc.gov/listeria/outbreaks/enoki-mushrooms-03-20/index.html

Porter, R. S., Kaplan, J. L., Homeier, B. P., & Albert, R. K. (2009). The Merck manual home health handbook. Whitehouse Station, NJ, Merck Research Laboratories. Print. Page 1164

Four Steps to Food Safety. (2020). Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved 3 February 2021, from https://www.cdc.gov/foodsafety/keep-food-safe.html

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Tanggal diperbarui 11/02/2021
x